Hari keempat Bagus masuk kelas baru….wah, saya legaaaa banget.
Begitu kakinya melangkah keluar rumah dan melewati pagar, senyum mengembang dan dengan mata berbinar-binar Bagus “berjanji” pada saya.
“Bagus mau jadi anak hebat ah.”
Saya mendengar tak menanggapi. Menunggu.
“Bagus ga mau nangis nagis lagi.”
Aaah, begitu mendengar kalimat yang keluar dari mulut mungilnya, saya seperti mendengar “kabar gembira”…..seperti meminum segelas air dingin di siang terik. Segar.
“iya De, ga nangis-nangis lagi. Kan De Bagus anak hebat.” Saya menanggapinya sambil menggandeng tangannya. Walau saya percaya kata-katanya, namun saya belum sepenuhnya 100% percaya. Yaa…anak-anak kan gampang berubah kan?….
Tetapi, bener loh…..langkahnya kian ringan begitu mendekati sekolah. Terdengar suara teman-temannya yang sedang membaca doa.
“Udah baris Bunda.”
“iya. Ga pa-pa. sekali-sekali kesiangan. Tadi De Bagus mandinya main-main sih…jadi kesiangan deh.”
Saya tak merasakan ketakutan Bagus. Tangannya tak lagi menggenggam erat tangan saya seperti kemarin-kemarin.
Benar saja, teman-temannya sudah berbaris rapi dan pintu pagar sekolah tertutup. Perlahan saya buka dan…..ups, saya kaget. Bagus langsung berlari meninggalkan saya. Dengan langkah yakin dan sedikit berlari masuk kelas, menaruh tas dan keluar menghampiri gurunya yang melambaikan tangan.
SubhanaAllah………saya bener-bener bersyukur melihat perubahannya pagi ini. Bagus bener-bener anak hebat. Kalau saya berada di posisinya Bagus, mungkin saya tak akan seperti itu. Saya tidak akan seberani dan se-PD Bagus……..
Kadang…..saya tertegun menatap jagoan-jagoan kecil yang “mengerumuni” saya setiap hari. Rasanya tak “pantas” saya mengeluh kerepotan. Mereka anak-anak hebat yang sudah Allah SWT titipkan pada saya dan suami.
Ketika saya menangis, Bagus pasti memeluk dan berbisik, “Bunda jangan nangis.”
Ketika saya tiduran karena kepala tiba-tiba pusing, Aryo pasti selalu “siap sedia” jika saya memanggil dan memintanya untuk membuatkan sirup atau teh manis.
Ketika saya sakit, Gilang akan mengusap-usap tangan saya dan tidur di sebelah saya, menemani.
Aaah…….saya rasa….saya mungkin salah satu “seorang ibu yang beruntung”……selalu ada sisi kebaikan diantara kesulitan…..
Terima kasih ya Allah…..