Archive

Archive for the ‘Aryo’ Category

Panen…panen….

Thursday, 19 November 2009 leunca Leave a comment

Panen…panen…..kata ini sekarang sangat populer dikalangan anak-anakku. semuanya gara-gara farmville yang ada di FB….

Awalnya hanya sesekali saja Aryo atau Bagus membantu ayahnya memanen atau membajak lalu menanami. Lama kelamaan ini menjadi kebiasaan dan malam hari adalah waktu wajib anak-anak menunggu ayahnya pulang.

“Bagus yang panen ya Ayah…”

Malam hari jadi terasa siang hari. suara berisik Aryo dan Bagus yang berbagi tugas, sementara sang ayah tiduran dan benar-benar tertidur pulas.

Ahh…..anak-anak jadinya membuat ladang sendiri. dari mulai menggambar berlembar-lembar sampai membuat miniatur yang disusun dari lego. duh……mereka kreatif sekali.

Mudah-mudahan kreatifitas ini akan berkembang terus mengikuti bertambahnya umur dan kepintaran mereka. InsyaAllah…..Amin…

guys….mauju terus ya….doa bunda menyertai kalian….Aryo, Bagus dan Gilang….

Categories: Aryo, Bagus, Gilang

Punya bunda, punya aku juga….

Tuesday, 17 November 2009 leunca Leave a comment

Sekarang….apa aja yang aku pegang, suatu saat akan anak-anakku pegang juga. ya….dari palu, obeng…..rasanya membuat Aryo penasaran ingin tau bagaimana rasanya memakai alat-alat yang biasa aku pakai.

Ya….bukan bermaksud sombong sih, kalau aku sudah terbiasa sejak dulu, tepatnya SMP, aku memalu, menggunakan obeng untuk memasang skrup atau memperbaiki alat listrik yang sederhana milik sendiri.

semuanya bermula dari seringnya membantu kakak laki-laki setiap kali memperbaiki sesuatu. dari sekedar nonton, minta diajari sampai coba-coba sendiri. Alhamdulillah…ya ngerti sedikit sedikit.

Bahkan, untuk memasang paku saja, aku pasti lakukan sendiri, walaupun harus memakai tangga besi segala. tak takut.

Nah…nah…..kini, giliran Aryo yng mulai mengikuti jejakku. mainan mobi atau robot yang harganya ga murh, dibongkar, dipreteli, dilepas satu persatu untuk kemudian dia pasang sesuka hati. entah dibuat bentuk baru yang lebih “baru”….seperti bentukan robot baru yang terdiri dari pecahan banyak mainan yang sudah dipreteli sebelumnya.

ada ada saja…selalu ada-ada saja bentuk yang bisa dibuat. tangannya dengan pede memegang obeng, memasang skrup lalu mengutak-atik pecahan mainan itu untuk dibentuk kembali tetapi bentuk yang ….ya,kalau menurut aku sih….keren abis.

seneng sih lihatnya. karena bagi aku itu ciri kreativitasnya.dan aku berusaha tak pernah membatasinya, walau sedikitpun. tak pernanh mengatakan…”itu jelek” atau “itu aneh”….aku selalu komentar, “bagus, Mas”….atau “bikin apa sih?….coba ceritain ke bunda”…

sebisa mungkin aku selalu memberikan penghargaan padanya.

kini…..tiap kali aku menjahit, aryo pasti bilang…”Bun, ajarin mas aryo jahit dong”…..atau ketika aku sibuk di dapur..”bun, mas aryo juga mau belajar masak. coba sini mas aryo yang masukin…” atau….”mas aryo juga bisa bantu bunda nyuci baju”..

aaah…..ga bisa berkata-kata. ada sedikit rasa lega. berarti aku sudah memberikan contoh yang, InsyaAllah baik.karena aku ingin, biarpun anak laki-laki….aryo tetep suatu saat nanti akan aku ajari masak, mencuci baju sendiri dan mencuci piring yang sekarang sudah mulai dikerjakannya.

semoga…semoga…. kali ini aku mengajarkan hal yang baik. InsyaAllah…

Categories: Aryo

Belajar bersama

Thursday, 16 July 2009 leunca Leave a comment

Sehabis sholat magrib, Aryo meminta saya untuk membantu mengerjakan tugas sekolahnya. Awalnya hanya saya dan Aryo yang duduk berdua berdampingan. Tak lama, Bagus ikut duduk di sebelah saya sambil membawa buku.

“Bagus juga mau belajar, Bun”

Tak lama, Gilang terdengar heboh.

“Mana buku aku, Bun?”

Rupanya Gilang juga ingin ikut belajar bersama kakak-kakaknya. Ah, meja kecil itu akhirnya penuh dengan buku yang terbuka dengan tangan-tangan kecil yang bergerak-gerak diatasnya.

Masing-masing sibuk dengan kegiaannya. Aryo sibuk mengerjakan pr agama. Bagus dengan tulisan abjad yang sengaja saya berikan sebagai tugasnya malam itu. Lalu Gilang, hanya mencoret-coret sambil bercerita mengenai gambarnya.

Hem….sudah sekian lama saya tak pernah lagi berlaku seperti “guru privat” seperti ini. Tetapi…susahnya guru privat untuk anak sendiri adalah…kok rasanya saya tak bisa sesabar mengajari anak orang lain ya….

Mungkin….karena, ketika mengajari anak sendiri…beban di pundak lebih berat ketibang mengajari anak orang lain.

aaah….setidaknya saya bisa mengawasi perkembangan mereka kan?….oke deh…Semangat untuk anak-anak!!!!!

Categories: Aryo, Bagus, Gilang

cerita celana yang tergantung di kapstok

Saturday, 11 July 2009 leunca Leave a comment

“Udah ashar nih….Mas Aryo, Mas Bagus sholat dong…”

“Gilang juga mau sholat…”

“ya udah…ayo wudhu”

Aryo, Bagus dan Gilang berebut masuk kamar mandi dan dengan sedikit cenda tawa mereka berwudhu. Gilang yang paling kecil menjadi korban, baju dan celananya basah.

“Bun….basah, ama Mas…” suaranya merengek sambil menarik-narik bajunya yang basah sebagian.

“Ya udah…ganti aja…”

Selesai berwudhu….kehebohan kembali terjadi. Aryo dan Bagus berebut sajadah besar sementara Gilang heboh mencari sarung.

“Bun, sarung Gilang dimana?”

Saya menggeleng tak tahu. Rengekannya makin menjadi.

“Bun…” Gilang semakin cerewet saja bertanya, mengikuti kemanapun aku melangkah.

Akhirnya, saya meminta Bagus untuk mengalah, memberikan sarungnya untuk Gilang dan mengganti celana pendek dengan celana panjang. Masalah terpecahkan dan mereka bertiga sholat berjamaah.

Selesai sholat, Bagus membuka celana panjangnya dan mengganti dengan celana pendek.

“Bun, celananya di gantung ya. nanti dipake lagi pas mau sholat.” suara cadel Bagus terdengar sejuk.

Duh, masih kecil tapi sudah mengerti hal sepele seperti ini. Saya tersenyum dan mengacungkan jempol padanya…

“Hebat De…”

Senyumnya merekah dan wajahnya cerah.

“Hebat kan Bagus, Bun?”

Saya mengangguk. Tak lama Gilang ikutan menggantung celananya.

“Kenapa di gantung De?”

“Digantung, Bun.” Gilang bersikukuh meminta saya membantunya menggantungkan celana. Walau saya sudah menjelaskan tetapi Gilang tak peduli.

Aaaah…..anak-anak hebat.

Categories: Aryo, Bagus, Gilang

Mimisan

Friday, 5 December 2008 leunca Leave a comment

Beberapa hari yang lalu Bagus mimisan. Pilek yang agak parah, ditambah lagi ketidaksukaannya pada sayuran, membuatnya mudah mimisan. mungkin karena ini panas dalam ya….

Nah, Bagus ini sangat lincah. kalau belum demam, Bagus belum mau tiduran meskipun sedang batuk pilek yang agak parah. selagi masih bisa bermain dan berlarian, Bagus tidak pernah menampakan kalau Bagus sakit atau badannya sedang tidak fit.

Siang hari, sepulang sekolah dan sesudah makan siang, Bagus tak menghiraukan perkataan saya.

“De, istirahat dong, jangan main dan lari-larian aja.”

“Mau maen, Bunda.”

“Nanti, istirahat dulu deh. Ade kan lagi pilek.”

“Ga mau, Bunda. Mau maen.”

Bagus tetap tak mengacuhkan saya walau dari lubang hidungnya, ingus mengalir cukup deras.

Apalagi ajakan kakaknya, Aryo, mengajak bercanda, berlari-lari kejar-kejaran sambil guling-guling di atas kasur…..membuatnya semakin bersemangat main. Aaah…

Akhirnya….saya terlonjak kaget ketika Aryo berteriak.

“Bunda, De Bagus hidungnya berdarah…”

Saya yang baru terlelap beberapa detik, menemani Gilang tidur siang< terbangun dan lari menuju kamar tidur depan.

“Kenapa, Mas?”

Bagus berdiri di atas kasur sambil memeluk gulingnya. Ada sedikit bercak darah di sana.

“Ade….mimisan ya?”

Bagus menggeleng, “enggak, Bunda.”

saya mendekatinya lalu memeriksa hidungnya. Bener saja, dua lubang hidungnya terlihat memerah.

“Ade, tiduran ya. Jangan jalan-jalan dulu ya.”

Saya langsung mengambil daun sirih dan Hup…..ditancapkan dilubang hidungnya.

Saya ingat, dulu saya juga  sering mimisan. Dan, biasanya mami langsung menggulung daun sirih dan memasukkan kedalam lubang hidung saya. Cara ini cukup jitu untuk menghentikan mimisan. Sepertinya ini cara tradisional ya?….walau saya tak tau apakah dalam ilmu kedokteran ini cara pengobatan yang baik.

yaaa…..sekarang mah, balik ke tradisional aja deh….selagi itu baik dan masuk akal kan?…..

Kalau ga masuk akal alias ngada-ngada?……ya ga usah aja kali ya. Takut!

Categories: Aryo

Ganti kebiasaan

Friday, 5 December 2008 leunca Leave a comment

Setelah ojek langganan berhenti, akhirnya setiap hari saya antar Aryo ke sekolah. Hampir bisa dikatakan bosan juga…tapi sekarang, saya menemukan kesenangan baru, mengantar sekolah sambil olah raga.

Satu kali naik angkot, berhenti di pertigaan, dilanjutkan dengan berjalan kaki, menyusuri trotoar yang berubin tak seragam. melihat di sepanjang jalan, jejeran rumah-rumah tempo dulu yang mulai terlihat usang tetapi tetap asri dan terasa teduh….nikmat sekali.

Dua puluh menitan berjalan kaki, melewati rel kereta api yang kadang, sesekali kami berhenti untuk membiarkan si “panjang” ini lewat sambil menghembuskan angin yang sekencang-kencangnya. Asyik juga.

Atau, menatap sekilas warung-warung dan jajanan di samping sebuah sekolah swasta yang menggiurkan….sering membuat air liur mengalir. Dan, melihat dengan rasa ingin tahu yang besar, rumah tua yang khas dengan teras depan berpagar tembok pendek, pohon yang tumbuh rimbun menaungi rumah tua ini…membuat saya teringat rumah masa kecil  saya yang tak jauh beda. Akhirnya, saya seperti menyerap energi yang membuat langkah saya semakin ringan. Saya malah tidak merasa lelah sama sekali….walau sepatu dan celana jeans saya kootor kena tanah basah dan lumpur yang harus dilewati sesekali. Aaaah……

tetapi, sepanjang jalan saya ayik ngobrol dengan Aryo. apa saja yang kami liat kami bicarakan dan kami gosipkan. apa saja yang bisa Aryo atau saya komentari…selalu menjadi bahan cerita yang asyik.

Ini salah satu cara murah ber-rekreasi di pagi hari (karena saya dan anak-anak suka dan bersenang-senang) dan cara saya berkomunikasi dengan “ringan”, bisa menyelami apa sih yang Aryo pikirkan tentang banyak hal tanpa saya perlu “introgasi” lagi…..

Ini salah satu cara saya “berubah” dan berhemat……karena saya harus kritis kan?……

Categories: Aryo