Home > Curcur > Berhitung di zaman gini

Berhitung di zaman gini

Saturday, 7 November 2009 leunca Leave a comment Go to comments

Di zaman gini, dimana semua serba bernilai “uang” dan kebutuhan akan ini dan itu yang meningkat, belum lagi kebutuhan pribadi untuk mengurangi stress seperti kongkow bareng teman atau sekedar makan bersama di luaran yang ternyata butuh dana yang ga sedikit….akhirnya membuat orang sedikit banyak harus berhitung.

Jeleknya….untuk urusan yang berbau “social” dimana harusnya ga berhitung…..malah berhitung banyak, termasuk untung rugi. Seperti sore tadi di acara arisan RT. Mendengar seliweran cerita tentang si itu yang janjinya ga ditepati, menyumbang kue dan membuat kebingungan memikirkan suguhan bagi para tamu, membuat si tuan rumah sempat su’udzon (berburuk sangka). Untungnya, masih ada untung, si pembuat janji menepatinya walaupun tidak bisa datang. Sang tuan rumah lega rasanya.

Saya hanya mendengar sedikit-sedikit saja. Bukan menguping juga karena kebetulan saja yang diajak bicara duduknya bersebelahan dengan saya, saya sih tidak diajak bicara. Ah…..sambil senyum dalam hati saya menyerapi semuanya untuk dijadikan pelajaran bagi diri sendiri.

Dulu, saya kalau melihat mami saya menyiapkan arisan, saya selalu melihat mami dengan senang hati menyiapkan hidangan dari makanan kecil, makanan utama sampai minuman. Semuanya disiapkan sedetil-detilnya, hingga kotak berisi kue untuk dibawa pulang. Begitu selesai arisan, mendengar pujian para ibu yang datang, membuat mami senang setengah mati. Kelihatannya mami bangga bisa menyuguhkan makanan yang bisa membuat tamu-tamu senang.

Kali ini, saya malah sedikit kebingungan melihat kebiasaan di lingkungan saya. Kadang, saling lempar tempat yang akan dijadikan tuan rumah. Atau sedikit berhitung uang konsumsi untuk suguhan nanti.

Lho…lho…lho…bukankah kalau rumah disinggahi dan didatangi tamu, tuan rumah akan merasa tersanjung? Bukankah suatu kehormatan bisa menyuguhkan sesuatu yang istimewa untuk menyenangkan tamu? Apalagi jika makanannya tandas habis, yang artinya enak bin lezat kan?…

Pelajaran bagi saya. Jangan pernah berhitung untuk sesuatu yang niatnya menyenangkan orang banyak dan menghormati para tamu. Tamu adalah raja…dan suatu keharusan bagi kita untuk menyuguhkan sesuatu tanpa berhitung untung ruginya kan? Apalagi bisa menyenangkan orang lain dan membuat mereka terkesan akan sikap kita.

Ho…ho…ho…ho……waktunya untuk berpikir. Jangan pelit! Orang pelit hanya akan menuai “dipelitin” juga. Ingat ya…….

Categories: Curcur
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.