Kartini-an ala SD Perwira
Selasa, 21 April 2009 adalah saat pertama kalinya Aryo mengikuti acara “Kartinian” di sekolahnya. Karena saya mendadak mengetahui acaranya ini, yang dimajukan 1 minggu dari tanggal yang sudah ditetapkan….akhirnya, mendadak pula saya menyiapkan baju daerah yang akan dikenakan Aryo.
Salon dekat rumah yang menyediakan penyewaan baju adat anak-anak, sore itu tutup. Berjalan cepat, saya berkejaran dengan langit sore yang sangat mendung diselingi dengan gelegar petir, menyuususri jalan mencari kalau-kalau ada salon yang menyediakan apa yang saya cari.
Berjalan cepat tak menghasilkan buah. Saya pulang dengan tangan hampa. Senyum Aryo sedikit memudar. Akhirnya saya berhasil menjelaskan keadaan yang sebenarnya tanpa ada kebohongan sedikit pun.
Alhasil, saya berhasil meminjam sebuah sarung bermotif khas Kalimantan kepunyaan Mamih. Kain sarung inilah yang saya modifikasikan dengan setelan baju muslim, dan jadilah baju melayu.

Not bad lah……saya pikir. Toh….ga kalah jauh dengan baju sewaan. Agak malu-malu Aryo memakainya. Kurang percaya diri sewaktu saya potret. Kebiasaannya yang sering membuat saya sebel.
Ah…ternyata, sesampainya di sekolah….teman-teman perempuannya ternyata lebih “serius” dalam merayakan hari Kartini ini. Mereka memakai baju daerah lengkap, plus make up di wajah. Dengan pipi merah muda dan bibir merah terang, anak-anak perempuan ini berdiri tak sabar ingin berjalan diatas “catwalk” sekolah.

“perempuannya cantik-cantik, Bunda.” Itu komentarnya sewaktu saya menyusulnya untuk menggambil gamra-gambar Aryo beserta teman-temannya. Anak-anak ABK teman satu kelas Aryo juga tidak mau kalah. Malahan mereka terlihat lebih antusias dan gaya mereka yang memang “sulit diatur” itulah membuat senyum saya dan senyum ibu-ibu lain tak henti mengembang. Apalagi ibu-ibu guru yang mengatur mereka. Walau kewalahan tetapi para ibu guru ini tetap tertawa senang, melihat gaya dan tingkah polah anak-anak berkebutuhan khusus ini yang berbaur dengan anak-anak biasa.
Aaaaah….menggemaskan dan membuat senyum saya kembali melebar setiap mengingat ini. Anak-anak tetaplah anak-anak….walau mereka memiliki kelainan yang tidak diperlihatkan lewat fisik meraka (Autis, hiperakfit dan lain sebagainya)…mereka terlihat “biasa”.
Inilah dunia anak-anak penuh warna yang coba Aryo akrabi setiap hari. Semoga Aryo bisa belajar banyak dari anak-anak yang istimewa ini. InsyaAllah.


