Tersesat di Pulau Lupa
Suatu hari……(saya mulai bercerita)….terdampar di sebuah pulau lupa. Terbangun dengan perasaan bingung, menatap sekeliling yang terlihat serba asing….membuat saya menjadi sangat sangat takut.
Tak ada seorang pun di sana. Saya menjerit-jerit, berteriak memanggil nama-nama yang berkelebat dalam ingatan saya, berusaha mencari pertolongan. Sayang, sejauh mata memandang, tak ada seorang pun di pulau yang terpencil ini.
Saya terduduk. Saya bersedih. Dan saya menangis dengan derai air mata yang membasahi baju juga kerudung.
Makin keras saya menangis, hingga saya kelelahan dan mata sembab, tak ada seorang pun yang datang menolong. Hampir-hampir putus asa.
Ditengah tangisan, saya tersadar.
“Untuk apa saya menangis?” bisikan ini datang dengan cepat.
“Menangis tidak akan menyelesaikan masalah.” Saya makin tertunduk. Malu.
“Jangan terpaku dan meratap seperti ini. Ayo bangun!!!!!!”
Perlahan air mata mulai kering.
“Berusahalah dan berjuang. Jangan hanya diam dan menangis seperti ini.” Secara perlahan mengangkat muka, mencari sumber bisikan.
Tetap sunyi. Tetap tak ada orang. Lalu muncul lagi.
“Jangan biarkan terpuruk dan menenggelamkan diri di lautan hanya karena ingin keluar dari pulau lupa. Itu hanyalah kesia-siaan saja.”
Pipi rasanya panas. Seolah sebuah tamparan mendarat tepat di kedua pipi kiri dan kanan secara bersamaan. Susah payah berdiri dan mencoba berjalan.
Dikejauhan terlihat, samar-samar, sebuah dayung dan perahu kayu kecil. Setengah berlari menghampirinya sambil berteriak kegirangan.
“Benarkan ini?….rasanya seperti mimpi.”
Menggenggam dayung seperti menemukan batu permata yang elok. Dan mengayuh dayung untuk pertama kalinya, perasaan melayang-layang karena kegirangan. Tetapi….lama-lama, yang terasa dayung ini sangat berat. Mencoba memecah lautan untuk mencapai daratan sadar…..aaah, bukan pekerjaan yang ringan.
Berkeringat dengan peluh membasahi baju dan kerudung, saya mencoba berkeras hati untuk terus mendayung. Dayung….dayung…dayung….dan terus dayung. Tak peduli tangan berdarah-darah karena gesekan kayu yang tajam di pinggirannya. Tak peduli.
Hanya bayangan tempat teduh yang indah, tempat berpijak yang selama ini menjadi rumah dan istana, dimana hati ini diletakkan.
Berharap….usaha ini tidaklah sia-sia.
(for my love….I am sorry!)
