Archive

Archive for December, 2008

Keponakan-keponakan

Saturday, 27 December 2008 leunca Leave a comment

Categories: Curhat

Semangat lagi yuuuuuk!

Saturday, 27 December 2008 leunca Leave a comment

Liburan kali ini, sepertinya saya “agak” kurang semangat nih. Entahlah…..saya menanggapinya dengan sangat sangat biasa, kalo ga sopan dikatakan “malas”….

Aneh ya?……Ya, itulah saya, suka aneh-aneh di mata beberapa orang. 

Liburan kok ga semangat sih? kok malah bilang malas sih? kok seperti orang pesimis sih?….

Gimana ya, saya bener-bener ga punya jawabannya. Dari kemarin juga mikir dan berpikir, kenapa jadi gini sih?……

Biasanya, dalam otak saya sudah penuh ide begitu mengetahui liburan panjang ada di depan mata. Sekarang?…..ya, biasa aja deh. Ga ada persiapan, apalagi ide-ide dalam otak. Kayaknya, saat ini otak saya tumpul deh….he he he.

Payah juga ya, ga ad ide sama sekali. Kadang, saya juga bingung. Kok bisa-bisanya sih saya bener-bener ga “bersemangat” jelang liburan panjang anak sekolah plus taun baru ini?…..saya mah hanya bisa geleng-geleng kepala. Bingung. 

Tapi…..ya saya sih ikutin kata hati aja deh. Tidak liburan pun juga oke kok. Saya tidak lagi teruru-buru harus ini dan itu. Saya punya banyak waktu senggang yang bisa dipakai untuk menulis diary atau menyulam (hobi yang ingin “serius”). Saya bisa menyerap oksigen banyak-banyak sambil meresapi kata “bersyukur” dalam denyut jantung saya, kesulitan demi kesulitan yang kemarin saya hadapi dan membuat saya sungguh-sungguh kelelahan dan menangis tak henti bisa saya lalui dengan, Alhamdulillah, baik walau saya sekarang seperti orang yang habis lari cepat….ngos-ngosan.

Saya juga bisa instropeksi ke belakang, bercermin, menata hati lagi, berjuang untuk menjadi lebih baik lagi, “berubah” menjadi lebih lagi…..ingin bisa menatap hari esok dengan senyum yang lebih lebaaaaaaar lagi……walau saya sedang sedih atau marah. Nah, itu yang paling susah (dan ini menjadi tantangan tersedendiri bagi saya)…

Wuih…….tubuh saya menjadi “panas”. Seperti mesin yang “dipanasi” hendak dipakai. Aaaaah….ayo deh, semangat lagi. Dan, saya harus semangat apapun yang akan saya hadapi hari ini.

Udara dingin, bener-bener dingin. Ketika air wudhu membasahi tangan, kaki, muka, telinga, mulut, hidung, dahi…….wow, menggigil. Membuat mukena yang saya pakai seperti perisai pelindung yang memberikan kehangatan yang diperlukan tubuh.

Alhamdulillah. Semoga……pagi ini Allah SWT memberikan banyak kejutan yang akan membuat saya tersenyum. Amin.

Thank you ya Allah. Dikala hati ini bimbang, selalu terselip rasa syukur yang tak terhingga. Ketika hati ini pilu, selalu ada senyum-senyum jail yang akan “menggoda” saya. Ketika langkah ini kelelahan, selalu ada yang merangkul.

Aaaah…apalah saya?…..

Categories: Curhat

Sarung tinju aq

Tuesday, 23 December 2008 leunca Leave a comment

Gara-gara Buna (Bunda)….tangan aq kejepit pintu.

Jadinya, aq pake sarung tinju nih…liat deh, tangan kanan dan jari aq di balut handuk..karena ada obatnya (beras kencur) yang mengkompres tangan aq ini.

Aduh…sakit banget deh. Aq sampe nangis terus-terusan, digendong Buna dan bibi….gantian.

Sakit banget soalnya. Karena aq kecapean nangis akhirnya aq tertidur. Tapi teteup aja dalam tidur aq nangis karena sakit banget sih. Jari bungsu aq sampai terluka karena kejepitnya dalam banget.

Hu hu hu hu…..sakit!

Tapi, keren kan aq di foto Buna?…..biarpun aq pake sarung tinju…..

Biar mata aq agak sembab abis aq nangis lalu tertidur, tetep aja dong aq keren.

Liat foto aq kan?…..

100_5443

Tapi…..gara-gara ini aq bisa tinju Mas Aryo tanpa merasa bersalah.

Mas Aryo sendiri yang minta dan pengen rasain gimana kalo aq tinju pake sarung tinju buatan ini…..he he he….

Aq sih seneng-seneng aja. Asalkan jangan ditarik dong…kan masih sakit!

Ah….ada sedikit untungnya ya, aq bisa bebas isenngin Mas aq ini. Karena biasanya aq yang diisengin.

Cihuiy…….

Categories: Curhat

13 Desember 2008 (satu)

Tuesday, 23 December 2008 leunca Leave a comment

     Malam minggu yang dingin.

Duduk sendirian. Hanya beralaskan buku sambil membaca buku, mencoba membunuh waktu, berharap waktu bisa berjalan dengan cepat.

Baru jam 9 malam. Menunggu yang berbaik hati mengantarkan alas tidur. Aaaaah….

Sesekali terbangun, mengatakan dengan suara sangat pelan, “mau muntah…” tetapi, begitu mulut bergerak, tubuhnya ikut bergetar dan dia langsung mengeluh, “perutnya sakit.”

Ada nada marah terdengar ketika saya menarik tangannya yang bergerak tiba-tiba. Antara sadar dan tidak sadar.

Tetapi, apapun itu, bersyukur bahwa operasi berjalan lancar walau…entahlah, semoga kesembuhannya dalam waktu tidak terlalu lama. Karena ini adalah Operasi Besar.

Perjalanan panjang ini harus dilewati sendiri, dengan susah payah, diiringi rasa sakit dan kesakitan yang amat sangat.

Saya….hanya bisa menangis dalam diam. Berdoa tanpa henti dalam hati, menunggu dan menunggu. Menunggu dengan harap-harap cemas. Semoga….masa kritis bisa dilewati dengan baik dan kesembuhan adalah sebagai hasil akhirnya. Amin.

Ah, saya benar-benar merasa sedih. Menatap plastik penampungan air pipis yang digantung di sisi kiri tempat tidur dan tabung plastik yang selangnya mengalir darah encer (mungkin nanah) yang mengalir sangat lambat, di sisi kanannya. Inpusan yang bergantungan di sebelah kiri dengan jarum yang menempel di lengan kirinya.

Tangannya terlihat pucat dan dingin. Mungkin karena AC yang berhembus dengan perlahan, memenuhi ruangan sebesar 4×4 m. Ditambah gerimis yang turun tak henti dari sore harinya.

Kantuk mulai menyerang. Membuat urat syaraf menegang karena bekerja terlalu keras, supaya mata ini tidak tertutup sekejappun.

Udara bertambah dingin. Kantuk makin menggila. Perut mulai berisik. Sedikit beser, berkali-kali bolak balik kamar kecil. Menatap jarum jam yang menempel angkuh di dinding putih. Sesekali perawat masuk dan memeriksa, mengganti inpusan dengan satu botol obat.

Malam makin pekat. Ketakutan berkurang, mendengar suara yang membisikan kesakitan. 

Berkali-kali berdiri menggenggam tangan dan mengusap lengannya supaya bersabar menahan sakit.

Aaaaah…….malam minggu ini saya menghabiskan setengah malam di ruang Isolasi HCU RS BMC Bogor, menemani kakak perempuan yang baru saja dioperasi usus buntu yang sedikit “agak parah”….

Categories: Curhat

Sabtu yang menegangkan

Friday, 19 December 2008 leunca Leave a comment

Tak banyak yang bisa saya ingat hari Sabtu minggu lalu, kecuali, perasaan khawatir, bingung, sedih, dan kalut. Bercampur dalam otak saya yang kecil…membaur membentuk kabut warna warni….ga beda jauh dengan es campur yang diaduk. Tapi, yang satu ini…..ga sesedap es.

 

Aryo dan Bagus batuk pilek disertai muntah dan badan panas. Diselingi dengan Gilang yang demam semalam….membuat saya berkutat dengan obat, begadang dan kurang tidur….wuih bener-bener menguras energi.

 

Di satu tempat, jauh dari rumah, kakak perempuan saya berbaring kesakitan, menunggu operasi dalam kamar rawat yang panas. Tak sedikitpun saya menduga sakitnya akan separah itu. Malam Sabtu sebelumnya, saya memintanya untuk menemani ke rumah sakit, membawa Aryo dan Bagus.

 

Keluhan sakit perut dan punggung yang sakit ternyata “berbuah” sakit yang berkepanjangan sepanjang malam itu, tak bisa memejamkan mata sedikitpun, tak mampu berdiri ataupun turun dari tempat tidur, apalagi untuk melangkah.

 

Ada rasa bersalah. Mungkin karena kecapean menemani saya di rumah sakit hingga jam setengah 9 malam, dan mungkin karena kakak saya ini sering mengacuhkan sakit perutnya.

 

Sabtu itu juga, 2 jam setelah dokter bedah memeriksanya, kakak harus dioperasi. Dua jam operasi, Alhamdulillah berjalan lancar. Ketegaran salah seorang kakak saya yang lain runtuh menyaksikan operasi ini. Menangis, seperti yang diceritakan oleh Mamih.

 

Sayapun bersujud dalam tangis, berdoa memohon yang terbaik. Tak ada yang lebih membuat saya sedih kecuali mengingat keterbatasan saya.

 

Bukan operasi usus buntu biasa. Termasuk operasi besar (mungkin), yang menyisakan rasa perih dan sakit di perut….aaah, saya tak ingin membayangkannya. Sudah pasti sakit.

 

Hope, setelah kemarin sudah diperbolehkan pulang ke rumah, kesembuhan dalam waktu yang tidak lama, cepat pulih dan segar kembali. Amin. InsyaAllah.

Categories: Curhat

Teman-temannya Aryo

Thursday, 11 December 2008 leunca Leave a comment

Tak banyak yang bisa saya komentari ketika mendengar cerita tentang teman-temannya Aryo. Saya hanya bisa meresapinya dalam hati, dalam-dalam, betapa dunia ini sungguh berwarna. Meski warnanya tak secerah dan seindah bunga tetapi tetap terlihat indah.

 

Ada cerita miris dan sedih like sinetron dibalik sikap pendiam dan “minder” beberapa teman satu kelas Aryo. Ada cerita “takjub” dibalik ketidakdiaman, keras kepala dan “kelincahan diluar kebiasaan” yang membuat saya bersyukur. Ada renungan dibelakang cerianya mereka bermain dan tertawa. Walau ada sedikit khawatir dibalik tembok, mendengar suara ramai selama proses belajar berlangsung.

 

Ada salah satu teman Aryo yang tinggal dengan walinya karena sang bunda bekerja di luar Bogor, sementara sang ayah tak tau dimana. Saya mendengar cerita ini sambil mengusap dada. Anak itu sendiri cenderung pendiam dan pemalu. Jika Aryo mengajaknya main, dia seperti malu untuk mengiyakan. Mungkin karena saya menatapnya, memperhatikan dia.

 

Semuanya menjadi satu, ibarat pelangi yang penuh warna. Siapa yang tau, mungkin, tahun-tahun ke depan, mereka akan tumbuh dan berkembang menjadi “orang hebat” yang bisa menaklukan dunia. Karena, mereka sudah merasakan banyak “pahit” dan ketidaknyamanan selama mereka kanak-kanak, kerja keras dan prihatin.

 

Semoga, semua itu akan mengasah jiwa-jiwa kecil itu menjadi sosok yang “besar” dan hebat. Karena, bukan tak mungkin, itulah ujian-ujian kecil yang harus dilewati sebelum menjadi “seseorang”. Amin.

 

Huuuh…….saya jadi berpikir dan berpikir banyak. Lagi-lagi, saya ingin banyak bersyukur dan mengucapkan syukur pada Allah SWT. Saya ingin melihat setiap hari adalah hadiah dari-Nya.

 

Anggap, semua ini adalah doa seorang ibu. Dan, semua ini membuat saya semakin mengerti “a big big World”…..dan saya harap Aryo juga bisa meresapi ini dengan sangat baik dan positif. InsyaAllah.

 

 

 

Categories: Curhat