10 November 2008
Senin pagi dimulai dengan mengantarkan Bagus memasuki kelas “baru”, bukan sekolah baru.
Karena “terpaksa”…saya minta pada kepsek, agar Bagus diizinkan berpindah kelas. Kelas lamanya terletak agak terpojok, sedikit lembab dan kurang sinar matahari karena adanya kanopi besar yang menaungi dua kelas yang berjajar itu. izin langsung saya dapat dan Bagus mendapatkan kelas baru, ruang kelas yang lebih “terang” oleh sinar matahari, hangat dan jejeran jendela menghadap timur……segar di pagi hari akan lebih terasa walau mungkin anak-anak kurang suka karena terasa “agak panas”….tetapi, saya puas.
Tak biasa, sepanjang melangkah masuk pagar sekolah, Bagus tak sedikitpun melepaskan pelukan tangannya di pinggang saya. Senyum beberapa guru yang menyapa tak membuat langkahnya tegak seperti biasa. Keberaniannya surut dan mengkerut seperti putri malu yang disentuh.
Guru lamanya menyapa sambil lalu dan mengatakan, “Sama Bu….ya…”
Semangatnya belum juga bangkit. Badannya semakin menempel. Akhirnya, saya inisiatif menghampiri ruang guru, mencari guru “baru”-nya. Sebenarnya saya agak “kecewa”..kok guru lamanya tak menemani Bagus berpindah kelas, mengenalkannya pada guru baru yang akan menjadi penggantinya dengan menitipkan “kata-kata” atau pesan supaya Bagus merasa nyaman jika “berpindah tangan”.
Tapi….lagi-lagi saya berbesar hati. Mungkin “cara” di sekolah ini seperti ini. Saya mencoba tidak mengeluh atau “protes”. Saya mencoba menerima ini. Walau rasanya saya seperti di lepas begitu saja. Atau….mungkin saya terlalu “berharap” banyak dan berpikir terlalu “terlalu”….
Ah, peduli amat deh, saya membisikkan ini dalam kalbu saya. Saya melakukan ini demi kebaikan Bagus. Saya menempuh “jalur” ini bukan semata-mata demi kepentingan pribadi atau untuk menyakiti seseorang. Tak ada sedikitpun……dan saya baru menyadarinya, permintaan saya ini ternyata “berbuah” pahit yang agak sulit saya telan namun harus saya kunyah. Enggak enak.
Bagus tak jua menampakan keberaniannya untuk ikut baris. Saya berdiri di belakangnya, Bagus tetap memeluk saya erat dengan mata yang berkaca-kaca. Saya trenyuh.
Guru barunya ragu untuk “memaksa” Bagus ikut upacara bendera. Saya membujuknya sambil memeluk dan mengusap punggungnya dengan membisikkan kata-kata penyemangat di telingannya.
Bagus tak bergeming. Tetap memeluk erat sambil menahan nangis. Saya jadi merasa sedih. Apalagi, saya perhatikan, bu guru lamanya tak menampakkan “bantuan” sampai ketika bu guru barunya hendak meraih tangan Bagus, bu guru lama menghampiri dan mengajaknya. Ketika Bagus mau ikut berbaris dengan didampingi bu guru barunya, saya berlari keluar pagar dan duduk menunggu di balik tembok sambil sesekali mengintip.
Aah, Bagus menangis keras. Air mata tumpah membasahi pipi bulatnya. Matanya penuh air mata. Bu guru baru tampak kewalahan. Namun saya diam menunggu. Bu guru lama tak lagi menemaninya.
Dalam hati….saya sedih dan menangis ketika Bagus terus menangis ketika saya pergi menjauh. Saya pikir, biarlah tangisannya berhenti oleh usaha gurunya, yaaa…..mungkin akan terbentuk “ikatan batin” bu guru dan Bagus. Walau saya bersiap menerima “kebalikannya”.
Saat itu, saya bisa merasakan kesedihan Bagus. Saya ikut menagis dalam hati sambil melihat dari kejauhan, air mata yang terus membasahi wajahnya. Sungguh, saya bisa merasakan sedih yang amat sedih…..kesedihan yang Bagus rasakan, ketakutan yang ada.
Padahal….Bagus tak pernah seperti ini sejak hari pertama melangkahkan kaki di TK ini. Berani, percaya diri, menyapa teman-temannya…tak ada tangisan atau jeritan, “mau sama Bunda….”…..kecuali, baru kemarin.
Saya menyayangkan sikap bu guru lama yang terkesan cuek bin cuek. Tak ada perhatian….atau, apa ya?….saya tak mampu menggambarkan seperti apa. Saya hanya menyayangkan sikap bu guru lamanya Bagus. Ooh…begini ya…..
Tapi…….Yaaa….sudahlah. Saya belajar menerima dengan lapang dan sangat lapang dada. Saya belajar menerima konsekuansi dari sebuah permintaan saya yang dikabulkan. Saya bersiap menerima “perubahan sikap” dari beberapa pihak yang mungkin merasa “terlecehkan” atau “terhina” oleh saya.
Saya hanya ingin bersikap baik, santun dan tetap menghormati. Karena memang tujuan saya demi kebaikan dan kesehatan Bagus. Kelas yang sepanjang pelajaran hanya diterangi sinar lampu dan kipas angin yang berputar di atas kepala…..membuat saya merasa tak “nyaman” karena Bagus berkali-kali bolos sekolah karena sakit. Dan, terakhir…harus dirawat. Aaah…..jadinya saya memilih cara “ekstrim” seperti ini.
Tapi…semua ini saya lakukan demi Bagus. Demi Bagus tanpa berniat menyepelekan seseorang. Sungguh.