Pagi hari dihabiskan dengan duduk-duduk selama hampir 2 jam, menunggui Bagus memasuki kelas baru…sore hari, saya mendapati Aryo terkena musibah.
Ya Allah….saya menjerit dalam hati.
Perutnya tersiram kuah baso yang panas. Saya yang masih membereskan buku-buku yang akan dipakai untuk mengajari Aryo belajar di rumah….terkejut begitu mendengar teriakan dan tangisan yang terdengar bersamaan. Apalagi kakak saya yang menemaninya membeli baso depan rumah juga berteriak.
“Cepet ke Bunda…”
Saya kaget. Aryo berlari menghampiri sambil mengangkat kaos Bali-nya.
“Bunda….tolong…panas”
Awalnya saya bingung. Begitu kakak saya memberitahukan kuah basonya tumpah dan mengenai badannya, saya baru sadar.
Agak panik, saya lari ke kamar mandi mengambil “odol” untuk disebarkan di kulit yang terkena kuah panas….namun saya menaruh kembali odol itu. Saya ingat madu. Madu bagus untuk luka bakar atau tersiram air panas.
Aryo berbaring di kursi sambil menjerit-jerit dan menangis. saya oleskan madu di atas kulit yang kemerahan karena panas. Ah, ternyata kulit yang kemerahan itu cukup luas, hampir seluruh bagian perut sampai bawah.
Saya langsung menelepon A Enonk, kakak saya yang juga dokter, bertanya apa yang harus saya lakukan.
“Ada bioplacenton ga, Ma?” tanya A Enonk.
“Ada.”
“Olesin banyak-banyak.”
“Tapi….sudah dikasih madu. Gimana nih?”
“Bersihin dulu?”
“Pake air?”
“Jangan. Pakai kasa steril aja pelan-pelan.”
“Berapa kali diolesin salep?”
“Dua kali.”
“Ditutup?”
“Jangan.”
“Nanti masuk angin. Gimana?”
“Pake kemeja aja tapi jangan ditutup supaya cepet kering.”
Selesai konsultasi cepat, saya menutup telepon dan melakukan apa yang diinstruksikan oleh A Enonk.
Aryo terus menangis dan menjerit.
“Bunda, panas….” Isaknya sambil berlinangan air mata.
Saya oleskan salep banyak-banyak sampai salepnya meleleh hingga ke pinggir. Saya kipasi dan membiarkan tangan kiri saya digenggam oleh Aryo.
“Mau pegang tangan Bunda…”
Aaah….melihat lukanya seperti luka bakar itu saya jadi kasihan. Kulit memerah itu sudah tertutup oleh salep yang tebal. Bagian yang terkelupas hingga terlihat bagian dalamnya dilapisi salep paling tebal. Untuk meringankan rasa sakit, saya memberi satu sendok obat sanmol. Membuat Aryo tertidur pulas walau sesekali merintih kesakitan.
“Mas, sabar dong….jangan nangis-nangis melulu. Memang sakit. Bunda tahu….” Hibur saya sambil mengipasinya.
“Sampai kapan Bun?”
“Bunda ga tahu. Mungkin seminggu baru kering. Tapi kalau pake salep ini InsyaAllah cepet kering,” ucap saya menengkan.
Tak lama Aryo tertidur pulas, memakai kemeja dengan dua kancing bagian atas saja yang terpasang, selebihnya dibiarkan terbuka.
Malam hari, ayah pulang. Langsung menghampiri Aryo yang tertidur pulas dengan kemeja, dua pertiga bagiannya terbuka. Kulitnya makin merah. Ada beberapa bagian yang berwarna lebih gelap dan ada yang melendung-lendung, seperti balon-balon kecil.
Saya menatap wajahnya yang kadang meringis dalam tidur, kesakitan, dengan perasaan ngilu.
Ah, mudah-mudahan Aryo sabar.
“Mas, kebayang ya….panas kena kuah baso bikin Mas Aryo jerit-jerit dan nangis seperti itu. Gimana kalau dibakar di neraka ya, hukuman Allah mah lebih lagi…” kata saya pelan.
Aryo menatap saya. “Iya…”
“Berarti Mas Aryo hebat dikasih cobaan seperti ini. Artinya, Mas Aryo harus sabar ya…InsyaAllah dapat hadian dari Allah.” Saya mencoba menghiburnya sambil menghibur diri sendiri.
Sebenarnya saya khawatir dan ga tenang juga melihat Aryo seperti itu. Tapi….sungguh, saya bersyukur dan bangga pada Aryo.
Walau menangis keras dan jerit-jerit di awal-awal namun Arto termasuk anak tegar dan rasional. Sambil menatap lukanya, Aryo selalu bertanya, kenapa kulitnya berwarna hitam, kenapa seperti berair, kenapa ini dan kenapa itu. Saya jawab, “ga tahu Mas.”
“Kapan kulitnya sembuh, Bun?”
Saya menggeleng tak yakin, “mungkin satu atau dua minggu.”
“Kita lihat aja dan yang sabar ya.”
Aaah….sungguh anak pintar. Lagi sakit pun, tangannya tak berhenti mengutak-atik lego, duduk bersandar mengisi tts, atau tiduran sambil membaca donal bebek.
Keingintahuannya membuatnya bisa “menikmati” luka di tubuhnya. Matanya sering melihat perubahan lukanya sambil bertanya. Membaca bungkus salep dengan rasa ingin tahu.
Waaah…ini baru anak ayah yang hebat. Sama seperti ayahnya, walau sakit tetap bekerja dan……hampir tak pernah mengeluh. Kalau manja…..ya, itu mah biasa.
Hem…..hari senin yang panjang.