Kesempatan menunggui Bagus di rumah sakit, saya manfaatkan dengan “melihat-lihat” sekeliling, menatapi banyak orang dan banyak macam orang. Bukan untuk saya “judge” bahwa orang-orang itu tak baik atau kurang baik…namun lebih untuk “membuat” saya instropeksi diri, memperbaiki diri dengan bercermin dalam diri dan bercermin dengan melihat banyak pribadi yang terhampar di hadapan saya.
Bagus, kebetulan, dirawat di kelas II dan harus berbagi dengan pasien anak lain dalam satu kamar yang tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil juga. Kamar yang cukup sedang. Tak banyak yang saya rasakan, ketidaknyamanan atau rasa malu, karena pikiran saya disibukkan oleh sakitnya Bagus yang terkesan “misterius”.
Hari pertama, berbagi kamar dengan Batita berumur 10 bulan. Perempuan kecil ini muntah-muntah hingga ibunya memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Tak ada yang aneh.
Satu yang mengusik saya adalah “gaya dan caranya” merawat perempuan kecil ini selama saya berbagi kamar dengannya. Sedikit lebih kaku, tubuh dan tangannya memeluk putri kecilnya namun sepertinya pikiran melayang-layang kesana kemari….membuat perempuan kecil ini rewel sepanjang hari, menangis dan serba salah. Entahlah….saya melihatnya agak “aneh”…kok gitu ya caranya mengurus anaknya sendiri?……kaku, kikuk, seperti tak ada sentuhan keibuan yang lembut atau …..ah, apa saya saja yang salah lihat ya?….entahlah…saya jadi kasihan melihat perempuan kecil yang montok dan berpipi tembem itu.
Saya mencoba membantu tantenya yang datang menjenguk lalu menggendongnya dengan kain supaya perempuan kecil itu berhenti menangis. Saya usapkan minyak telon ke seluruh badan dan punggungnya sambil mengajaknya ngobrol. Alhamdulilah wajah mungil itu diam sambil menatap bingung memperhatikan saya mengajaknya bicara……saya merasa lega. Saya tak tahan mendengarnya menjerit…rasanya saya mendengar ungkapan ketidaknyamanan yang dia rasakan lewat menangis dan menangis.
Esok harinya, perempuan kecil itu diperbolehkan pulang, sudah sembuh sepertinya. Saya tak sempat bertemu. Ibunya bekerja di rumah sakit ini, dibagian Gizi dan sang ayah menjalani diklat selama satu bulan lamanya. Satu pengalaman yang menarik.
Sorenya, ketika saya kembali ke rumah sakit…ah, tempat tidur anak itu sudah terisi kembali. Kali ini pasiennya anak laki-laki berumur 2 tahun setengah. Tipus dan sariawan di bibir yang cukup parah, membuat bibirnya terlihat lebih tebal dari biasanya.
“teman” satu kamar Bagus ternyata sama dengan perempuan kecil itu. banyak merengek, menangis dan “serba salah”. Wah….melihatnya saya jadi mikir……”hebat juga ya Bagus, tak banyak rewel, menangis atau merengek”. Menangis keras hanya ketika melihat jarum suntik. Dia menjerit sangat takut…dan trauma dimasuki jarum lagi setelah hampir 5 kali jarum suntik menyentuh kulitnya. Selebihnya, Bagus lebih banyak diam dan tidur.
Dan….saya tertegun melihatnya. Ibunya kelihatan sangat bingung melihat kerewelan anaknya ini. Sepertinya tak biasa menangani anaknya ketika sedang “rewel atau ngamuk”……lagi-lagi, sepertinya kaku dan kikuk.
Aah….saya diam-diam memperhatikannya. Oooh, ibunya “juga” wanita pekerja. Entah kenapa, saya jadi maklum begitu mendengar informasi ini dan melihat “caranya” memegang anak laki-lakinya ini.
Entah ya…….saya tak bisa menilai apa-apa hanya menjadi bercermin saja. Apakah, jika saya juga menjadi “wanita pekerja”…saya akan menjadi sangat “kikuk dan kaku” memegang anak dan mengurus jagoan-jagoan saya ketika mereka sakit?……
Apakah saya juga akan seperti “itu”…cenderung membiarkan pengasuhan diambil alih oleh pengasuh yang “sifat tak sabar”-nya lebih “minim” dibanding ibu sendiri?…..tidak dapat meraba atau mengira-ngira sakitnya anak yang butuh sedikit “dimanja” dan ditemani…bahkan diperlakukan “lebih lembut”….entahlah…..saya miris memikirkannya.
Memang tak mudah menjadi seorang “ibu” seutuhnya. Apalagi jika seorang ibu juga mempunyai “double” tanggung jawab…wah..saya tak tahu apakah saya sanggup untuk memilih salah satunya?….
Karena itulah, saya membuang jauh-jauh “mimpi” saya menjadi seorang “wanita karier”….setelah saya mempunyai jagoan-jagoan kecil. Saya rela membuang banyak “waktu bersenang-senang untuk diri sendiri” dengan mengurus mereka. Tak pernah terpikir sedikitpun untuk “melamunkan” semua yang sangat sangat saya inginkan. Saya belajar menyisihkan “ego” dan akhirnya…..saya malah mendapatkan banyak “mimpi” yang saya pendam, hari ini menjadi kenyataan.
Akhirnya saya menjadi “pribadi” yang ingin belajar dari banyak orang, termasuk belajar dari suami dan jagoan-jagoan saya. Saya bisa melampiaskan kesukaan saya “jalan-jalan” sambil menuntun tangan-tangan kecil, dan….rasanya lebih nikmat. Saya juga belajar “bekerja” dikelilingi oleh teriakan, tangisan dan omelan mereka karena bundanya asyik berkutat di depan komputer. Tetap nikmat juga!
Dan…akhirnya mimpi itu muncul lagi….”mimpi” mempunyai “satu pekerjaan”…tetapi dalam rupa yang terarah….pekerjaan yang bisa saya lakukan di rumah, sambil memasak, mengurusi jagoan-jagoan sampai menemani mereka tidur, menjadi guru privatnya, “dokter dan perawat pribadi” bagi mereka…..semuanya ingin saya seimbangkan……dan, pekerjaan yang “sangat saya sukai”…….
Dan saya yakin….InsyaAllah, jalan itu akan terbuka lebar. Asalkan…….saya “sabar” dan selalu “sabar”….sampai kapanpun itu. karena seperti yang pernah suami saya katakan, “Bunda, kalau sabar ya sabar…..ga ada yang sabar banget atau kurang sabar…”
Dan…..”Kalau bunda sabar, pasti Allah SWT memberi jalan dan kemudahan”… itu kata-kata suami yang saya simpan dalam hati sebagai obor pembakar semangat saya.
Makasih ya, Ayah. I love you so much.