Archive

Archive for November, 2008

Pagi yang menyenangkan

Thursday, 13 November 2008 leunca Leave a comment

Hari keempat Bagus masuk kelas baru….wah, saya legaaaa banget.

Begitu kakinya melangkah keluar rumah dan melewati pagar, senyum mengembang dan dengan mata berbinar-binar Bagus “berjanji” pada saya.

 

“Bagus mau jadi anak hebat ah.”

 

Saya mendengar tak menanggapi. Menunggu.

 

“Bagus ga mau nangis nagis lagi.”

 

Aaah, begitu mendengar kalimat yang keluar dari mulut mungilnya, saya seperti mendengar “kabar gembira”…..seperti meminum segelas air dingin di siang terik. Segar.

 

“iya De, ga nangis-nangis lagi. Kan De Bagus anak hebat.” Saya menanggapinya sambil menggandeng tangannya. Walau saya percaya kata-katanya, namun saya belum sepenuhnya 100% percaya. Yaa…anak-anak kan gampang berubah kan?….

 

Tetapi, bener loh…..langkahnya kian ringan begitu mendekati sekolah. Terdengar suara teman-temannya yang sedang membaca doa.

 

“Udah baris Bunda.”

 

“iya. Ga pa-pa. sekali-sekali kesiangan. Tadi De Bagus mandinya main-main sih…jadi kesiangan deh.”

 

Saya tak merasakan ketakutan Bagus. Tangannya tak lagi menggenggam erat tangan saya seperti kemarin-kemarin.

 

Benar saja, teman-temannya sudah berbaris rapi dan pintu pagar sekolah tertutup. Perlahan saya buka dan…..ups, saya kaget. Bagus langsung berlari meninggalkan saya. Dengan langkah yakin dan sedikit berlari masuk kelas, menaruh tas dan keluar menghampiri gurunya yang melambaikan tangan.

 

SubhanaAllah………saya bener-bener bersyukur melihat perubahannya pagi ini. Bagus bener-bener anak hebat. Kalau saya berada di posisinya Bagus, mungkin saya tak akan seperti itu. Saya tidak akan seberani dan se-PD Bagus……..

 

Kadang…..saya tertegun menatap jagoan-jagoan kecil yang “mengerumuni” saya setiap hari. Rasanya tak “pantas” saya mengeluh kerepotan. Mereka anak-anak hebat yang sudah Allah SWT titipkan pada saya dan suami.

 

Ketika saya menangis, Bagus pasti memeluk dan berbisik, “Bunda jangan nangis.”

Ketika saya tiduran karena kepala tiba-tiba pusing, Aryo pasti selalu “siap sedia” jika saya memanggil dan memintanya untuk membuatkan sirup atau teh manis.

Ketika saya sakit, Gilang akan mengusap-usap tangan saya dan tidur di sebelah saya, menemani.

 

Aaah…….saya rasa….saya mungkin salah satu “seorang ibu yang beruntung”……selalu ada sisi kebaikan diantara kesulitan…..

 

Terima kasih ya Allah…..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Categories: Aryo, Bagus, Gilang

Jangan remehkan….

Thursday, 13 November 2008 leunca Leave a comment

Jangan remehkan luka karena air panas….itu yang ada dalam otak saya. dari kemarin sore, kata-kata ini berputar-putar terus dan membuat saya jadi…..sedikit “linglung”……bingung.

 

Kulit melepuh akibat tumpahan kuah baso yang mengenai perut Aryo ternyata……”lumayan parah”. Dan ini membuat saya jadi “terkesima” memandangnya.

 

Karena kulit yang melepuh itu bergelembung…..saya lagi-lagi “terpaksa” membawanya ke rumah sakit untuk dibersihkan. Aaah…..lagi-lagi harus masuk IGD.

 

Untungnya, saya bisa membujuk Aryo yang enggan untuk ke dokter.

 

“Ga mau Bunda.” Aryo teteup kekeuh meski saya “mengancamnya” secara halus.

 

Saya bujuk dan bujuk terus. Padahal, kepala saya pusingnya minta ampun. Untungnya…selalu ada “untung”…..saya sudah membuat janji dengan dokter pribadi saya, yang tak lain kakak saya sendiri, untuk melihat lukanya Aryo dan, kalaupun ada tindakan saya akan lebih tenang karena Uwak-nya sendiri yang akan mengobati luka akibat panas ini.

 

Wah….kakak saya kaget begitu melihat kulit yang memerah itu. Saya….takut dan malu. Saya sih setenang mungkin, padahal…beneran deh, saya ngilu melihatnya. Saya bisa membayangkan, perih dan panas juga…..malu yang Aryo rasakan saat itu.

 

Aah…..

 

Karena ga tahan, saya bergantian dengan ayahnya. Saya memilih keluar ruang IGD dan duduk di lobi. Kalau dipikir-pikir, saya makin takut dibandingkan melihat suster membersihkan lukanya Aryo. Apalagi, saya mendengar jeritan Aryo yang terdengar cukup jelas….menggaung di ruang IGD yang luas itu.

 

Tapi……Alhamdulillah semua beres. Walau matanya basah namun wajah Aryo kelihatan lega, sudah melalui “bagian” yang paling tidak mengenakan dengan “selamat.

 

Hem……

 

Satu lagi pelajaran bagi saya. jangan pernah meremehkan luka pada anak-anak, sekecil apapun. Apalagi anak seperti Aryo yang senang berlarian kesana-kemari…..tak takut jatuh dan tak peduli dengan debu dan kotor.

 

Lagi lagi…..PR untuk saya nih!!!…..

 

 

 

 

Categories: Aryo

Bagus dan Gilang belajar Sholat

Tuesday, 11 November 2008 leunca Leave a comment

Adzan panggilan sholat terdengar dari masjid di kejauhan. Bagus dan Gilang berhamburan dari kamar sambil menngulung celana panjang yang dikenakannya.

 

“Bunda, mau sholat ya…” Bagus berlari menuju kamar mandi dan ber-wudhu.

 

Gilang tak kalah semangat. Sambil mengulung celana panjangnya dengan asal, berlari menghampiri.

“Mau wudhu….”

 

Saya membantunya ber-wudhu. Gilang berwudhu hanya mencuci tangan lalu mengusapkan tangannya ke mukanya berkali-kali.

 

Selesai wudhu, Gilang dan Bagus menarik sejadah yang berada di tumpukan paling bawah.

 

Sholat sendiri-sendiri dengan sajadahnya masing-masing. Bagus sholat sambil membaca Al Fatihah keras-keras. Walau tak sepenuhnya dengan lafal dengan benar namun urutannya benar. Membuat saya …..lega dan bersyukur.

 

Gilang sholat di kamar, di pojokkan dekat tempat tidur. Berdiri sebentar lalu ruku dan sujud. Duduk setelah sujud lalu memutar kepala ke kanan dan ke kiri. Selesai. Dilipatnya sajadah lalu disimpan kembali di tempatnya semula. Tak lupa Bagus dan Gilang mendekati saya, salam.

 

Aaah……walau saya belum mencereweti mereka untuk sholat namun……begitu adzan terdengar, mereka langsung lari mengambil sajadah.

 

“Sholat Bunda…” Gilang menatap saya dengan matanya yang jernih. Dan wajah Bagus basah oleh air wudhu.

 

Saya mengangguk.

 

“Anak pintar…anak hebat.” Saya mengacungkan jempol.

 

Dua kakak beradik yang belajar dari ayahnya, bundanya dan mas-nya. Ternyata, perbuatan lebih jitu daripada hanya sekedar “kata-kata”.

 

Pr buat saya……”berilah contoh baik sebanyak-banyaknya pada mereka….karena mereka akan belajar banyak dari saya, Bundanya”….

 

Ga gampang ya menjadi ibu yang “baik” ……..

 

 

Categories: Bagus, Gilang

Sore yang penat

Tuesday, 11 November 2008 leunca Leave a comment

Pagi hari dihabiskan dengan duduk-duduk selama hampir 2 jam, menunggui Bagus memasuki kelas baru…sore hari, saya mendapati Aryo terkena musibah.

 

Ya Allah….saya menjerit dalam hati.

 

Perutnya tersiram kuah baso yang panas. Saya yang masih membereskan buku-buku yang akan dipakai untuk mengajari Aryo belajar di rumah….terkejut begitu mendengar teriakan dan tangisan yang terdengar bersamaan. Apalagi kakak saya yang menemaninya membeli baso depan rumah juga berteriak.

 

“Cepet ke Bunda…”

 

Saya kaget. Aryo berlari menghampiri sambil mengangkat kaos Bali-nya.

 

“Bunda….tolong…panas”

 

Awalnya saya bingung. Begitu kakak saya memberitahukan kuah basonya tumpah dan mengenai badannya, saya baru sadar.

 

Agak panik, saya lari ke kamar mandi mengambil “odol” untuk disebarkan di kulit yang terkena kuah panas….namun saya menaruh kembali odol itu. Saya ingat madu. Madu bagus untuk luka bakar atau tersiram air panas.

 

Aryo berbaring di kursi sambil menjerit-jerit dan menangis. saya oleskan madu di atas kulit yang kemerahan karena panas. Ah, ternyata kulit yang kemerahan itu cukup luas, hampir seluruh bagian perut sampai bawah.

 

Saya langsung menelepon A Enonk, kakak saya yang juga dokter, bertanya apa yang harus saya lakukan.

 

“Ada bioplacenton ga, Ma?” tanya A Enonk.

 

“Ada.”

 

“Olesin banyak-banyak.”

 

“Tapi….sudah dikasih madu. Gimana nih?”

 

“Bersihin dulu?”

 

“Pake air?”

 

“Jangan. Pakai kasa steril aja pelan-pelan.”

 

“Berapa kali diolesin salep?”

 

“Dua kali.”

 

“Ditutup?”

 

“Jangan.”

 

“Nanti masuk angin. Gimana?”

 

“Pake kemeja aja tapi jangan ditutup supaya cepet kering.”

 

Selesai konsultasi cepat, saya menutup telepon dan melakukan apa yang diinstruksikan oleh A Enonk.

 

Aryo terus menangis dan menjerit.

 

“Bunda, panas….” Isaknya sambil berlinangan air mata.

 

Saya oleskan salep banyak-banyak sampai salepnya meleleh hingga ke pinggir. Saya kipasi dan membiarkan tangan kiri saya digenggam oleh Aryo.

 

“Mau pegang tangan Bunda…”

 

Aaah….melihat lukanya seperti luka bakar itu saya jadi kasihan. Kulit memerah itu sudah tertutup oleh salep yang tebal. Bagian yang terkelupas hingga terlihat bagian dalamnya dilapisi salep paling tebal. Untuk meringankan rasa sakit, saya memberi satu sendok obat sanmol. Membuat Aryo tertidur pulas walau sesekali merintih kesakitan.

 

“Mas, sabar dong….jangan nangis-nangis melulu. Memang sakit. Bunda tahu….” Hibur saya sambil mengipasinya.

 

“Sampai kapan Bun?”

 

“Bunda ga tahu. Mungkin seminggu baru kering. Tapi kalau pake salep ini InsyaAllah cepet kering,” ucap saya menengkan.

 

Tak lama Aryo tertidur pulas, memakai kemeja dengan dua kancing bagian atas saja yang terpasang, selebihnya dibiarkan terbuka.

 

Malam hari, ayah pulang. Langsung menghampiri Aryo yang tertidur pulas dengan kemeja, dua pertiga bagiannya terbuka. Kulitnya makin merah. Ada beberapa bagian yang berwarna lebih gelap dan ada yang melendung-lendung, seperti balon-balon kecil.

 

Saya menatap wajahnya yang kadang meringis dalam tidur, kesakitan, dengan perasaan ngilu.

 

Ah, mudah-mudahan Aryo sabar.

 

“Mas, kebayang ya….panas kena kuah baso bikin Mas Aryo jerit-jerit dan nangis seperti itu. Gimana kalau dibakar di neraka ya, hukuman Allah mah lebih lagi…” kata saya pelan.

 

Aryo menatap saya. “Iya…”

 

“Berarti Mas Aryo hebat dikasih cobaan seperti ini. Artinya, Mas Aryo harus sabar ya…InsyaAllah dapat hadian dari Allah.” Saya mencoba menghiburnya sambil menghibur diri sendiri.

 

Sebenarnya saya khawatir dan ga tenang juga melihat Aryo seperti itu. Tapi….sungguh, saya bersyukur dan bangga pada Aryo.

 

Walau menangis keras dan jerit-jerit di awal-awal namun Arto termasuk anak tegar dan rasional. Sambil menatap lukanya, Aryo selalu bertanya, kenapa kulitnya berwarna hitam, kenapa seperti berair, kenapa ini dan kenapa itu. Saya jawab, “ga tahu Mas.”

 

“Kapan kulitnya sembuh, Bun?”

 

Saya menggeleng tak yakin, “mungkin satu atau dua minggu.”

 

“Kita lihat aja dan yang sabar ya.”

 

Aaah….sungguh anak pintar. Lagi sakit pun, tangannya tak berhenti mengutak-atik lego, duduk bersandar mengisi tts, atau tiduran sambil membaca donal bebek.

 

Keingintahuannya membuatnya bisa “menikmati” luka di tubuhnya. Matanya sering melihat perubahan lukanya sambil bertanya. Membaca bungkus salep dengan rasa ingin tahu.

 

Waaah…ini baru anak ayah yang hebat. Sama seperti ayahnya, walau sakit tetap bekerja dan……hampir tak pernah mengeluh. Kalau manja…..ya, itu mah biasa.

 

Hem…..hari senin yang panjang.

 

 

 

 

 

 

 

Categories: Aryo

10 November 2008

Tuesday, 11 November 2008 leunca Leave a comment

Senin pagi dimulai dengan mengantarkan Bagus memasuki kelas “baru”, bukan sekolah baru.

 

Karena “terpaksa”…saya minta pada kepsek, agar Bagus diizinkan berpindah kelas. Kelas lamanya terletak agak terpojok, sedikit lembab dan kurang sinar matahari karena adanya kanopi besar yang menaungi dua kelas yang berjajar itu. izin langsung saya dapat dan Bagus mendapatkan kelas baru, ruang kelas yang lebih “terang” oleh sinar matahari, hangat dan jejeran jendela menghadap timur……segar di pagi hari akan lebih terasa walau mungkin anak-anak kurang suka karena terasa “agak panas”….tetapi, saya puas.

 

Tak biasa, sepanjang melangkah masuk pagar sekolah, Bagus tak sedikitpun melepaskan pelukan tangannya di pinggang saya. Senyum beberapa guru yang menyapa tak membuat langkahnya tegak seperti biasa. Keberaniannya surut dan mengkerut seperti putri malu yang disentuh.

 

Guru lamanya menyapa sambil lalu dan mengatakan, “Sama Bu….ya…”

 

Semangatnya belum juga bangkit. Badannya semakin menempel. Akhirnya, saya inisiatif menghampiri ruang guru, mencari guru “baru”-nya. Sebenarnya saya agak “kecewa”..kok guru lamanya tak menemani Bagus berpindah kelas, mengenalkannya pada guru baru yang akan menjadi penggantinya dengan menitipkan “kata-kata” atau pesan supaya Bagus merasa nyaman jika “berpindah tangan”.

 

Tapi….lagi-lagi saya berbesar hati. Mungkin “cara” di sekolah ini seperti ini. Saya mencoba tidak mengeluh atau “protes”. Saya mencoba menerima ini. Walau rasanya saya seperti di lepas begitu saja. Atau….mungkin saya terlalu “berharap” banyak dan berpikir terlalu “terlalu”….

 

Ah, peduli amat deh, saya membisikkan ini dalam kalbu saya. Saya melakukan ini demi kebaikan Bagus. Saya menempuh “jalur” ini bukan semata-mata demi kepentingan pribadi atau untuk menyakiti seseorang. Tak ada sedikitpun……dan saya baru menyadarinya, permintaan saya ini ternyata “berbuah” pahit yang agak sulit saya telan namun harus saya kunyah. Enggak enak.

 

Bagus tak jua menampakan keberaniannya untuk ikut baris. Saya berdiri di belakangnya, Bagus tetap memeluk saya erat dengan mata yang berkaca-kaca. Saya trenyuh.

 

Guru barunya ragu untuk “memaksa” Bagus ikut upacara bendera. Saya membujuknya sambil memeluk dan mengusap punggungnya dengan membisikkan kata-kata penyemangat di telingannya.

 

Bagus tak bergeming. Tetap memeluk erat sambil menahan nangis. Saya jadi merasa sedih. Apalagi, saya perhatikan, bu guru lamanya tak menampakkan “bantuan” sampai ketika bu guru barunya hendak meraih tangan Bagus, bu guru lama menghampiri dan mengajaknya. Ketika Bagus mau ikut berbaris dengan didampingi bu guru barunya, saya berlari keluar pagar dan duduk menunggu di balik tembok sambil sesekali mengintip.

 

Aah, Bagus menangis keras. Air mata tumpah membasahi pipi bulatnya. Matanya penuh air mata. Bu guru baru tampak kewalahan. Namun saya diam menunggu. Bu guru lama tak lagi menemaninya.

 

Dalam hati….saya sedih dan menangis ketika Bagus terus menangis ketika saya pergi menjauh. Saya pikir, biarlah tangisannya berhenti oleh usaha gurunya, yaaa…..mungkin akan terbentuk “ikatan batin” bu guru dan Bagus. Walau saya bersiap menerima “kebalikannya”.

 

Saat itu, saya bisa merasakan kesedihan Bagus. Saya ikut menagis dalam hati sambil melihat dari kejauhan, air mata yang terus membasahi wajahnya. Sungguh, saya bisa merasakan sedih yang amat sedih…..kesedihan yang Bagus rasakan, ketakutan yang ada.

 

Padahal….Bagus tak pernah seperti ini sejak hari pertama melangkahkan kaki di TK ini. Berani, percaya diri, menyapa teman-temannya…tak ada tangisan atau jeritan, “mau sama Bunda….”…..kecuali, baru kemarin.

 

Saya menyayangkan sikap bu guru lama yang terkesan cuek bin cuek. Tak ada perhatian….atau, apa ya?….saya tak mampu menggambarkan seperti apa. Saya hanya menyayangkan sikap bu guru lamanya Bagus. Ooh…begini ya…..

 

Tapi…….Yaaa….sudahlah. Saya belajar menerima dengan lapang dan sangat lapang dada. Saya belajar menerima konsekuansi dari sebuah permintaan saya yang dikabulkan. Saya bersiap menerima “perubahan sikap” dari beberapa pihak yang mungkin merasa “terlecehkan” atau “terhina” oleh saya.

 

Saya hanya ingin bersikap baik, santun dan tetap menghormati. Karena memang tujuan saya demi kebaikan dan kesehatan Bagus. Kelas yang sepanjang pelajaran hanya diterangi sinar lampu dan kipas angin yang berputar di atas kepala…..membuat saya merasa tak “nyaman” karena Bagus berkali-kali bolos sekolah karena sakit. Dan, terakhir…harus dirawat. Aaah…..jadinya saya memilih cara “ekstrim” seperti ini.

 

Tapi…semua ini saya lakukan demi Bagus. Demi Bagus tanpa berniat menyepelekan seseorang. Sungguh.

 

 

Categories: Bagus

Happy birthday for two little girl

Friday, 7 November 2008 leunca Leave a comment

Happy birthday for two little girl

 

There is no words

Just happy birthday

With best wishes

For their future….their love and their familly

100_5290x2

Hope…….here’s always hope….

Happiness would give a smile

A very very big smile

on her face

 

happy birthday yaaa….

Dua gadis cilik mungil yang maniz.

Categories: Curhat