Film Laskar Pelangi yang membuat saya “termenung”
Saat ini saya sedang meresapi semangat “Laskar Pelangi” yang baru saja saya tonton kemarin sore bersama ketiga jagoan dan ayahnya.
Luar biasa…..sebuah film yang banyak memberikan saya inspirasi dan mampu membuat saya berpikir, betapa saya beruntung, begitu juga dengan anak-anak saya. Dan semoga keberuntungan ini tidak membuat kami “terlena”….sungguh, kami ingin bisa terus “bersemangat” seperti “Laskar Pelangi” itu.
Kesulitan yang menjadi cambuk. Keterbatasan yang mendorong kreatifitas. Kekurangan yang membuat semakin bersemangat. Kebersamaan yang saling mengisi. Indah ya?….
Sebuah ide sederhana inilah yang akan membuat saya “instropeksi diri”…dan membuat saya sangat sangat malu. Saya kurang “keras” berusaha. Saya tidak memanfaatkan semua kemudahan yang ada di sekitar saya. saya cenderung mudah “patah semangat”….. banyak malu dan rendah diri yang akibatnya saya tak bisa meraih “dua atau bahkan ribuan langkah maju”……
Akhirnya…saya mungkin menjadi orang yang “paling tidak bersyukur”……karena saya merasa menjadi orang paling “menderita di seluruh jagad raya ini, saya orang paling “miskin” di dunia. Saya gampang putus asa, menyerah ketika menemui satu kesusahan saja….dan, tidak memahami “esensi” dari kesulitan demi kesuliatn yang saya hadapi……….membiarkan pikiran buntu ketika tak menemukan jalan keluar.
Kali ini, saatnya saya memantapkan langkah untuk berusaha, tidak banyak membuang waktu ataupun menyia-nyiakan waktu dan semua yang ada pada diri saya.
Menentukan langkah maju apa yang harus dan akan saya ambil. Menemani jagoan-jagoan kecil, melangkah di sisinya, menemaninya disaat mereka “jatuh”, menjadi orang yang paling mengerti mereka..walau tak mudah.
Saya…..akan berusaha. Walau ada banyak kekurangan yang saya miliki…namun saya ingin mengubah kekurangan menjadi kelebihan…..dan “mercon” yang akan meledakkan semangat saya.
InsyaAllah. Amin.
Dan satu lagi, keputusan saya, “melepaskan” sekolah yang tinggal skripsi dan satu kali kerja praktik, yang artinya, melepaskan gelar sarjana strata satu Tehnik Kimia….demi merawat buah hati sendirian, juga, melepaskan kesempatan kerja yang kala itu “bisa dengan mudah” saya cari……….lagi-lagi karena tak “tega” membiarkan pengasuh yang akan menjadi “ibu pengganti” bagi Aryo……
Ternyata…..itu bukanlah pilihan salah.
Saya merasa beruntung…saya berani bersikap “ekstrim” demi tujuan yang saya pendam dalam hati….demi sebuah generasi penerus yang mempunyai tanggung jawab tak sedikit. Saya berani membuang mimpi-mimpi yang membuat saya “percaya diri”……..bahwa saya mampu menaklukkan dunia.
Awalnya, terasa berat, seperti membelah sebagian jiwa menjadi terbagi-bagi……menjadi “nihil”…..dan kosong, melepaskan mimpi indah yang selalu terpelihara……..namun, saya meyakini satu hal. Pengorbanan ini tidaklah akan sia-sia.
Karena…..InsyaAllah…..
Anak-anak akan meneruskan semangat belajar saya…semangat berjuang ayahnya…semangat mengajar Mbah Putri dan Mbah kakungnya…..dan semangat prihatin Apih dan Mamih……
Semua semangat baik yang ditularkan Om-Omnya, Tante-Tantenya, Uwak-Uwaknya…semua orang yang mengelilingi mereka kelak. Walaupun itu hanyalah semangat seorang tukang sayur langganan….



