Bulan puasa tahun ini, saya mengawalinya dengan “prihatin”. Seminggu menjelang bulan Ramadhan ini saya hampir “kehabisan napas”…pontang panting, seperti berlarian dari satu tempat ke tempat lain. Berkejaran dengan waktu. Dan ketika saya merasa kelelahan, saya hampir “setengah putus asa”….
Dan, ketika saya berhenti berpikir untuk “menyerah”, saya mendapatkan satu “pukulan telak” yang membuat saya menangis tersedu-sedu dan satu “tamparan keras” membuat saya seperti “terperosok ke jurang yang sangat dalam”………jatuh terhempas.
Saya berjuang keras untuk menganggapnya hal biasa, resiko yang akan saya terima ketika saya mengambil satu keputusan besar, dulu, ketika Gilang lahir.
Saya menyadarinya, bahwa inilah yang harus saya hadapi, sendirian, karena ini adalah keputusan yang saya ambil sendiri. Walau banyak orang yang menutupi kenyataan “pahit” ini namun akhirnya saya menjadi tahu “juga”.
Allah SWT Maha Adil. Ketika saya tak ingin mendengar apapun, saya malah mendengar satu kebenaran dari banyak orang. Ketika saya tak ingin tahu, saya malah ditunjukkan suatu kenyataan yang membuat saya sadar….”ternyata…..”
Sungguh…….
Walau hati terasa sangat sangat sakit, menahan rasa sakit dengan ikhlas, dengan doa dan menerimanya sebagai “cambuk” untuk menjadi lebih baik untuk ke depan…tapi tetap saja saya menangis panjang.
Untuk itulah, di bulan Ramadhan ini, saya seperti “istirahat” sejenak dari segala “kekacauan” yang sering membuat saya berlinangan air mata, melambatkan “ritme” yang sering membuat saya “ngos-ngosan”. Dan “menata hati” dari awal lagi, menata sikap dan menempa diri agar menjadi “pribadi” yang lebih “baik” di mata Allah SWT.
Sungguh….
Semoga niat ini tidak tergoyahkan oleh apapun…
Saya ingin menata hati menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.
Berani menghadai kesusahan dengan senyum dan ikhlas….
Sungguh…
Saya tahu, Allah SWT Maha Mendengar….
Semoga, semua doa yang terucap setiap menit, setiap hembusan napas ini didengar oleh-Nya.
Hanya keridhoan dan keikhlasan-Nya yang membuat langkah ini terasa ringan.
Amin.