Home > Curcur > Menjadi “baik”

Menjadi “baik”

Tuesday, 12 August 2008 leunca Leave a comment Go to comments

Beberapa hari ini sepertinya otak saya sedikit lebih tumpul dari biasanya. Saya agak “telmi” alias telat mikir, kurang tanggap dan lama mencerna sesuatu yang saya dengar dari orang lain, terutama mencerna kata-kata suami. Dan….akhirnya saya menjadi agak sering “ditegur dan sedikit dimarahi” olehnya.

 

Aduh……..saya menjadi bertambah “bodoh” deh rasanya. Kok semuanya jadi serba salah dan salah semua. Bingung jadinya setiap hari….dan bingung mau memulai aktifitas setiap hari atau mau “berkreasi”…jadinya “kok salaaaaaaaah terus” deh…….menderita.

 

Tapi….saya bersyukur. Apapun kritikan dan kata-kata “pedas” suami adalah “teguran” bagi saya. yaaa…..saya pasti banyak salah atau berubah menjadi “tidak baik” atau menjadi “kurang baik’…..

 

Jadi, saya belajar “berbesar hati” mengingat-ingat semua kekhilafan saya selama ini dan “berlapang dada” menerima semua masukan yang pastinya untuk “membangun” diri menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih “wise”…..

 

Dan……..beberapa hari ini saya cenderung lebih hati-hati dalam berkata, agak “ngerem” kebiasaan saya “mengomentari” banyak hal…maklum kan, namanya juga “perempuan”, satu kebiasaan yang sangat sulit saya hilangkan. Atau saya yang “tak mau” menghilangkannya ya?……enggak tau deh.

 

Pastinya, saya akan dan harus belajar untuk “lebih baik”….walau kadar “baik” itu saya sendiri belum tahu. Kadang, saya juga sering bertanya, sudahkan saya menjadi “orang baik yang benar-benar baik” bukan ‘baik ada maunya”…..nah, itu pertanyaan sulit. Untuk menjawabnya, rasanya saya harus mencari “seseorang” untuk ditanya tentang baik-nya saya…..siapa ya?…

 

Saya jadi menangis mendengar lagunya Someday-Eternal yang jadi soundtrack-nya film katun tapi saya lupa judul film itu. Lagu yang sering mengingatkan janji saya pada pada Alm Bapak ketika Bapak tak sadarkan diri di ICU.

 

Kala itu, dulu, saya dan mami, ibu saya, juga dua kakak perempuan saya disarankan untuk berbisik di telinga bapak dan mengatakan “bahwa kami ikhlas Bapak pergi”….

 

Hal mudah yang menjadi sulit saat itu, tetapi harus kami lakukan.

Sudah 9 hari Bapak berbaring koma di ruang ICU. Kondisi tak pernah membaik tapi juga tak memburuk. Kerabat terdekat mengatakan, “mungkin Bapak berat untuk pergi karena tiga anak gadisnya belum menikah dan masih berat untuk meninggalkan mami dengan anak-anaknya”…….

 

Ketika saya menberanikan diri sebagai “yang pertama” berbisik di telinga kiri Bapak, saya menggigit bibir bawah menahan tangis dan mengatakan, “ikhlas jika Bapak pergi dan saya akan baik-baik saja”…..

Satu air mata bergulir di pipi kanannya dan tangan Bapak yang saya genggam erat terkepal kuat sebentar.

 

Di luar ruang ICU, saya termenung lama. Satu perasaan hampa datang tiba-tiba dan satu beban berat terhempas di hadapan saya saat itu. saya merasa kosong.

 

Saya mencoba ikhlas dan tak menyesal. Karena saya tahu itulah yang terbaik bagi Bapak. Tubuhnya habis oleh penyakit yang sampai saat ini masih dirahasiakan oleh dokter dan kakak laki-laki tertua saya.

 

Yang membuat saya merasa sangat sedih dan terpukul, saya pernah membuat Bapak menangis di depan saya. kini, saya menyadari satu hal….Bapak yang sudah membuat saya seperti ini, dan saya selalu ingat janji saya pada Bapak, “bahwa saya akan baik-baik saja”……

 

Saya ingin menjadi orang baik seperti Alm Bapak yang sederhana. Dan saya akan berusaha, sesusah dan sesedih apapun kondisi yang akan saya alami, saya akan “baik-baik” saja.

 

Satu bayangan yang tak pernah bisa saya hapus. Kenangan malam-malam panjang menemani Bapak di ICU dan genggaman tangannya yang terakhir yang masih berbekas hingga kini, akan membuat saya mengingat bahwa saya harus menjadi “baik” dan “baik-baik” saja.

 

Doakan ya……..

Dan, pipi saya benar-benar dibanjiri air mata.

 

 

 

 

 

 

Categories: Curcur
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.