Pagi ini saya punya kesempatan mendatangi sekolahnya Aryo. Ternyata pagi ini ada acara. Salah satu perusahan minuman terkemuka mendatangi sekolah ini dan mengadakan kerja bakti dengan hadiah bagi anak-anak ini adalah susu kemasan rasa coklat.
Aduh…saya melihatnya heboh sekali. Anak-anak ini bersemangat memunguti sampah. Bergerombol di satu tempat memunguti sampah yang mungkin ada dan tergeletak di sekolahan yang nyaris bersih karena setiap pagi selalu disapu bersih oleh penjaga sekolah……he he he……tapi, ini tidak menghalangi semangatnya anak-anak ini.
Wah..wah….sayang saya tak membawa kamera. Namun acara ini saya manfaatkan untuk bercerita pada Gilang. Gilang memperhatikan dengan wajah serius dan mengulang kata-kata yang saya ucapkan.
“Kerja bakti…” katanya dengan mata serius memperhatikan.
Eh….tiba-tiba mata saya menangkap sesosok mencolok yang membuat mata saya terpaku menatapnya. Anak laki-laki yang duduk di kursi roda. Walau dia hanya bisa mengikuti langkah teman-temannya tanpa bisa memunguti sendiri sampah namun tangan kanannya tetap memakai sarung plastik. Sang Bunda mendorong kursi rodanya, mengikuti langkah anak-anak yang berlarian menuju lapangan.
Saya tertegun menatapnya. Selesai memunguti sampah, anak-anak ini berbaris depan kelas. Begitu juga dengan anak laki-laki mencolok ini. Mata saya kembali memperhatikan anak itu.
Duduk di kursi roda yang memiliki meja di depannya. Kadang kepalanya dimiringkan ke kiri atau ke kanan. Lebih banyak duduk bersandar. Kadang juga badannya ditegakkan, matanya menatap ke depan, memperhatikan teman-teman yang baris berdiri di depannya.
Saya memperhatikan sang bunda yang setia berdiri di belakang sambil memegangi kursi roda itu. saya mencoba membaca raut mukanya. Namun, mata saya malah berkaca-kaca. Saya merasakan keharuan tiba-tiba.
Bunda yang hebat. Saya bisa membayangkan kerepotannya setiap pagi mengantar anaknya bersekolah. Mendorong kursi roda yang tak ringan. Menemaninya belajar dalam kelas. Membantu anaknya menulis. Semua dilakukan sang bunda ini demi “masa depan” anaknya.
Tanpa bisa saya tahan, saya menangis. Saya bisa meraba, perjuangannya sungguh tak mudah dalam membesarkan anak laki-laki yang hanya bisa duduk di atas kursi roda. Mungkin, sang bunda ini berjuang untuk terus bersemangat dan berusaha “menulari” semangatnya pada anak laki-lakinya. Saya tahu itu sangat tidak mudah.
Manusia mempunyai banyak kekurangan. Mudah mengeluh jika menghadapi banyak kesusahan, kadang melupakan kesenangan yang diterimanya. Yaa…namanya juga manusia ya!…..
Tapi, saya menatap wajah sang bunda itu dengan doa. Saya ingin mendoakannya. Mendoakan sang bunda dan anak laki-laki itu. saya berbisik dalam hati, “Ya Allah, berikanlah banyak kegembiraan baginya. Mohon berikan sesuatu seperti mukjizat bagi anak laki-laki itu. semangatnya berjuang membuat hamba ini malu……”
Saya menangis pelan. Sungguh, saya tahu saya tak boleh mengasihaninya. Namun, saya tiba-tiba saja merasakan satu perasaan sedih yang dalam. Sang bunda tadi pastilah sudah berjuang melawan ego, dan sepertinya hanya kepasrahan yang terbaca di raut wajah berkerudung itu.
Sungguh, jika saya sempat dan bisa mengajaknya bicara, sekedar mengobrol atau ingin mengorek ceritanya, saya ingin belajar dari sang bunda itu….