Liburannya Aryo
Saya sedikit bingung melihat sedikit perubahan pada diri Aryo setelah dia bersekolah di sekolah reguler.
Di hari liburan seperti sekarang ini, dia memilih untuk menggambar dengan adiknya, menghabiskan pagi hari di depan rumah. Padahal, di lapangan rumput depan rumah, beberapa anak tetangga ramai bermain bola, termasuk anak tetangga sebelah kanan yang biasanya selalu menjadi alasan Aryo meminta diizinkan bermain di luar rumah.
Tak ada tatapan iri atau keinginan untuk bergabung. Sebenarnya, seandainya pun Aryo minta izin bermain di luar, saya akan mengizinkannya karena sekarang saya “agak berani” membiarkan Aryo bermain di luar rumah. Dan kebetulan situasinya mendukung, ada beberapa anak yang sebaya dengannya dan “mungkin” Aryo akan berkenalan dengan mereka.
Tetapi…..ya, tetapi……dia lebih memilih menggambar sambil berteriak-teriak kesal karena gambarnya tak sengaja dicoret Gilang atau kertas gambar tak sengaja diinjak Gilang yang bolak-balik mengambil krayon…..aaah, pagi-pagi yang “cukup heboh”.
Tapi itu tidak seberapa dengan keributan yang ditimbulkan oleh suara Aryo, Bagus dan Gilang yang bermain di teras depan rumah setelah mengantar ayahnya berangkat kerja pada jam enam pagi kurang di saat matahari masih malu-malu keluar untuk menunjukkan dirinya.
Walau saya sudah mengingatkan mereka tetap saja mereka berceloteh dengan suara kencang dan kegembiraan mereka menyongsong hari libur walau ayah mereka bertugas ke luar Indonesia selama dua hari.
Tetapi, menurut cerita kakak saya, Aryo di sekolah banyak bermain dengan teman-temannya, berlari-lari, bergelantungan di papan nama sekolah dan menunggu waktu pulang sekolah agak siang dengan membaca buku di perpustakaan sambil ngobrol.
Jadi, mungkin selama di sekolah adalah waktu Aryo untuk bermain. Di rumah adalah waktu bagi dia untuk melakukan hal-hal yang dia suka seperti menggambar, bermain lego di komputer, mendengarkan radio dan bermain mobil hot wheel dengan De Bagus.
Mungkin ini “hasil” dari HS yang Aryo jalani selama satu tahun ke belakang kemarin dan Aryo mulai bisa menikmati hasil “keterpaksaan” dia menjalani “belajar di rumah” yang sempat membuatnya “ menjadi pemberontak”.
Dan…….saya ingin……….membiarkannya berkembang tanpa intervensi saya selagi Aryo masih berada dalam “rel” yang benar. Saya dan suami menyediakan wadah atau fasilitasnya dan dia yang akan memilih dan menjalani sesuai dengan apa yang Aryo mau.
Mudah-mudahan keputusan ini benar ya……………