Archive

Archive for July, 2008

Liburannya Aryo

Wednesday, 30 July 2008 leunca Leave a comment

Saya sedikit bingung melihat sedikit perubahan pada diri Aryo setelah dia bersekolah di sekolah reguler.

 

Di hari liburan seperti sekarang ini, dia memilih untuk menggambar dengan adiknya, menghabiskan pagi hari di depan rumah. Padahal, di lapangan rumput depan rumah, beberapa anak tetangga ramai bermain bola, termasuk anak tetangga sebelah kanan yang biasanya selalu menjadi alasan Aryo meminta diizinkan bermain di luar rumah.

 

Tak ada tatapan iri atau keinginan untuk bergabung. Sebenarnya, seandainya pun Aryo minta izin bermain di luar, saya akan mengizinkannya karena sekarang saya “agak berani” membiarkan Aryo bermain di luar rumah. Dan kebetulan situasinya mendukung, ada beberapa anak yang sebaya dengannya dan “mungkin” Aryo akan berkenalan dengan mereka.

 

Tetapi…..ya, tetapi……dia lebih memilih menggambar sambil berteriak-teriak kesal karena gambarnya tak sengaja dicoret Gilang atau kertas gambar tak sengaja diinjak Gilang yang bolak-balik mengambil krayon…..aaah, pagi-pagi yang “cukup heboh”.

 

Tapi itu tidak seberapa dengan keributan yang ditimbulkan oleh suara Aryo, Bagus dan Gilang yang bermain di teras depan rumah setelah mengantar ayahnya berangkat kerja pada jam enam pagi kurang di saat matahari masih malu-malu keluar untuk menunjukkan dirinya.

 

Walau saya sudah mengingatkan mereka tetap saja mereka berceloteh dengan suara kencang dan kegembiraan mereka menyongsong hari libur walau ayah mereka bertugas ke luar Indonesia selama dua hari.

 

Tetapi, menurut cerita kakak saya, Aryo di sekolah banyak bermain dengan teman-temannya, berlari-lari, bergelantungan di papan nama sekolah dan menunggu waktu pulang sekolah agak siang dengan membaca buku di perpustakaan sambil ngobrol.

 

Jadi, mungkin selama di sekolah adalah waktu Aryo untuk bermain. Di rumah adalah waktu bagi dia untuk melakukan hal-hal yang dia suka seperti menggambar, bermain lego di komputer, mendengarkan radio dan bermain mobil hot wheel dengan De Bagus.

 

Mungkin ini “hasil” dari HS yang Aryo jalani selama satu tahun ke belakang kemarin dan Aryo mulai bisa menikmati hasil “keterpaksaan” dia menjalani “belajar di rumah” yang sempat membuatnya “ menjadi pemberontak”.

 

Dan…….saya ingin……….membiarkannya berkembang tanpa intervensi saya selagi Aryo masih berada dalam “rel” yang benar. Saya dan suami menyediakan wadah atau fasilitasnya dan dia yang akan memilih dan menjalani sesuai dengan apa yang Aryo mau.

 

Mudah-mudahan keputusan ini benar ya……………

 

Categories: Aryo

Bagus…..De Bagus!

Tuesday, 29 July 2008 leunca Leave a comment

Setelah hampir dua minggu De Bagus bersekolah di Taman Kanak Kanak, saya melihat ada perubahan. Walau tak banyak tetapi bagi saya ini “luar biasa”….

 

De Bagus lebih mudah diajak bicara dan diajari oleh saya. Semangat untuk berangkat sekolah patut diacungi jempol walau dia sedang sedikit flu dan batuk-batuk. Berusaha keras untuk menyerap setiap yang dicontohkan atau diajarkan ibu gurunya.

 

Buktinya, barusan saja sebelum dia tidur, sambil makan malam De Bagus bernyanyi lagu “Sayonara” sambil tangannya bergerak dan berputar. Mungkin De Bagus mencontoh gerakan Ibu Lilik, guru kelasnya.

 

Saya tersenyum melihatnya. Matanya berbinar ketika saya dan Gilang memperhatikan gerakannya dan ikut bernyanyi dengannya. Bahkan De Bagus tak menolak ketika saya memperbaiki kesalahannya mengucapkan kata “pula”…….

 

Sambil menatap wajah saya dengan serius, De Bagus belajar mengucapkan kata “pula”….lucu dan wajah bulatnya yang sedang menguyah nasi bergerak-gerak dengan mulut yang sedikit dimajukan.

 

Walau sepele tetapi bagi saya ini sangat “luar biasa”……

Mungkin saya terkesan narsis atau membanggakan anak sendiri yaa…….tetapi, ini semua tak lebih hanya rasa bersyukur saya dan keinginan untuk membagi pengalaman.

 

Hope, bisa memberikan motivasi atau inspirasi bagi siapapun yang punya “masalah” yang sama.

 

Walau Ibu Lilik sempat membuat saya khawatir dengan mengatakan, “kalau sampai tk B bicaranya masih seperti itu, diterapi wicara saja, Mam.”

 

Waaah…..sakit perut dengarnya dan sempet membuat saya gelisah dan takut. Tetapi, sekali lagi, saya dituntut untuk “berpikir positif, yakin dan percaya” pada De Bagus. Bahwa, perlahan dia mampu bicara dengan jelas, bahasanya makin mudah didengar dan dimengerti, dan kosa katanya akan bertambah terus….walau dengan sangat perlahan…..saya percaya padanya.

 

InsyaAllah, De Bagus akan terus bertambah kepintarannya. Amin.

Categories: Bagus

Rumah yang menyimpan “bom waktu”

Tuesday, 29 July 2008 leunca Leave a comment

Rumah yang saya dan keluarga tempati adalah rumah “second” yang suami beli 4 tahun lalu. Bulan April 2004, ketika saya hamil putra kedua, suami memutuskan untuk pindah dari rumah lama kami di Cigombong, Sukabumi ke Bogor.

 

Saat itu kami “rusuh” mencari rumah. Yang membuat kami menguatkan niat untuk mengambil “jatah rumah” dari kantor suami adalah masalah sekolah untuk anak-anak dan dokter anak-anak juga dokter saya yang semuanya berdomisili di Bogor.

 

Suatu kebetulan yang “sangat kebetulan”…..kami menemukan rumah ini. Rumah yang hendak ditinggalkan oleh pemiliknya karena pindah rumah. Sesungguhnya rumah ini sangat menyenangkan dan memudahkan bagi saya.

 

Depan rumah terbentang lapang rumput nan luas sebagai tempat bermain anak-anak. Rumah menghadap timur hingga matahari bisa masuk dengan leluasa. Banyak tukang sayur yang seliweran depan rumah, dari pagi hingga siang. Warung sayur hingga warung makanan sangat mudah dijumpai, tak jauh dari rumah. Belum lagi jajanan yang lewat semenjak pagi buta, bubur ayam, hingga mie goreng di atas jam 8 malam. Dijamin saya dan anak-anak tak mungkin kelaparan……kalau ada uang….he he he he……..bisa jajan sepuasnya dan sekenyangnya.

 

Dan, rumah ini berada dalam perumahan yang sudah ‘mapan”…….walau agak jauh dari rumah orang tua saya yang sangat dekat dengan “kota”.

 

Tetapi, setelah 4 tahun ini saya baru menyadari bahwa rumah ini seperti menyimpan “bom waktu”. Tahun pertama setelah saya menempati rumah berkamar dua ini, saya menemukan rayap yang tadinya saya pikir “anak kecoa”…..kecil-kecil, putih-putih seperti ulat kecil dan “galak”, menggigiti kulit ketika saya membersihkan kardus-kardus sepatu beserta sepatunya yang dimakan oleh rayap ini. Tumpukan buku dan kertas-kertas catatan kuliah pun tak luput oleh mahluk kecil ini. Bahkan bingkai foto dari kayu yang saya beli tak murah, juga ikut digigiti pingirannya hingga terlihat seperti bingkai “jadul”….

 

Awalnya saya kira anak-anak kecoa. Saat itu saya membersihkan dengan baygon dan kapur untuk serangga juga semut. Rayap menghilang namun tak lama kembali lagi, tetapi di tempat yang berbeda dan jauh lebih ganas. Yang terakhir, memakan kayu loteng, atap sebagian dan tangga yang semuanya terbuat dari kayu.

 

Pertama, masalah rayap. Yang kedua adalah masalah “bocor dan rembes”. Setiap hujan, tembok kamar belakang di sisi kirinya yang menempel dengan tetangga, akan mengalir air hujan segaris segaris, tipis tipis. Ternyata ini menganai talang airnya yang tidak simetris dan miring ke dalam. Kalau sudah ada sampah daun, air akan membludak di atas lalu di sela-sela plafon akan keluar air yang mengucur beberapa titik. Air melebihi kapasitas talang dan karpet yang terpasang di bawahnya.

 

Ketiga, dan ini yang parah, masalah saluran air pembuangan. Saluran air pembuangan dari bak cuci piring, satu tahun lalu mampet parah. Awalnya saya pikir karena tersumbat sampah pembuangan sisa makanan. Ternyata, lemak sisa makanan yang mengeras seperti kapur putih itu sudah memenuhi jalannya buangan air kotor itu. perlu hampir satu minggu saya membersihkan. Mengeruk lemak yang mengeras dengan tangan saya sendiri dan memasukkannya dalam plastik untuk dibuang ke tempat sampah. Setelah kumpulan lemak yang kelihatannya sudah bertahun-tahun itu terangkat, saya berikan soda kostik untuk melarutkan lemak yang menempel di sepanjang pipa itu, ditambah asam sulfat pekat yang mengeluarkan asap ketika saya membuka tutup botol plastiknya. Walah…………

 

Dan ternyata mengenai saluran pembuangan air kotor ini terus bermaslah hingga hari ini. yang terbaru adalah, pipa pembuangan yang di belakang tempat mencuci baju, semenan kasarnya sudah tergerus dan air buangan bekas rendaman baju kotor mengalir ke dalam sumur. Suara air kotor yang masuk ke dalam sumur yang tertutup rapat itu terdengar jelas seperti air terjun.

 

Awalnya saya tak menyadari hingga tadi saya melinatnya dengan senter. Waah…….sudah ada lubang yang dalam, lebih rendah dari pipa paralon yang mengalirkan air kotor ke depan. Semenannya nyaris tak ada lagi, hanya sampah yang bertumpuk sebagai saringan air yang akan masuk sumur. Ngeri……

 

Wah……saya bingung. tetapi saya sih mencoba untuk menikmatinya dengan sabar dan ikhlas. Walau untuk ikhlas, saya terus berusaha keras menerimanya dengan lapang yang sangat sangat lapang dada…….

 

Tak perlu menyalahkan sang pemilik terdahulu, tetapi semua karena “keteledoran dan kecerobohan” kami, saya dan suami yang tidak mencek “lebih dalam dan teliti” ketika melakukan survey untuk membeli.

Categories: Curtak

Aryo membuat Mamih menangis

Tuesday, 29 July 2008 leunca Leave a comment

Hari senin kemarin, selesai sekolah Aryo pulang ke rumah neneknya di Bangka. Karena siang itu Aryo les bahasa inggris di EF dan jarak EF lebih dekat ke Bangka daripada rumah, maka saya menyarankan Aryo untuk tunggu di sana demi menghemat tenaganya. Aryo mengangguk, “oke, Bun.”

 

Rencana yang mendadak ini menyebabkan Aryo hanya saya bekali uang lebih untuk membeli makanan jika dia lapar.

 

Sebelumnya saya sudah menjelaskan di rumah Mamih tidak ada yang memasak. Jika Aryo lapar lebih baik membeli “pecel buras” atau lontong yang diberi bumbu kacang seperti gado-gado, di belakang rumah Mamih, yang dulunya adalah langganan saya membeli nasi uduk untuk sarapan sebelum sekolah. Dulu banget.

 

Ternyata……ini menjadi masalah. Mamih menjadi sedih. Kakak perempuan saya menceritakan ini tadi malam.

 

“Mamih sedih waktu Aryo ditanya udah makan atau belum. Apalagi waktu bilang, yang penting ada nasi aja Mih, kata Aryo waktu ditawari makan.” Kakak saya bercerita dengan suara pelan di telepon.

 

Saya agak kaget.

 

Terus, lanjut kakak saya,”tambah nasi aja mau setelah ditanya. Setelah nambah yang kedua, Aryo baru bilang minta tambah,” lanjut kakak saya lagi.

 

“Mamih sedih denger Aryo mau beli pecel buras aja waktu ditawari makan. Padahal kata Mamih makan nasi aja, kenapa harus beli. Kalau enggak ada lauk pasti digorengin telur ama Mamih.”

 

Saya terdiam lama.

 

“Yaaaa……Gw bilang ke Aryo supaya beli pecel buras aja karena di Bangka pasti enggak ada yang masak,” kata saya membela diri.

 

“Iya, tapi Mamih setiap cerita ini, matanya pasti ‘reumbay’, nangis.”

 

Saya jadi sedih dengernya. Saya memang mengajarkan Aryo untuk mau prihatin dan banyak bersyukur walau makan hanya seadanya saja. Dan saya tak pernah menyangka akan seperti ini, kalau Aryo bersikap seperti itu malah membuat Mamih sedih.

 

“Jangan diajarin gitu Ma. Kasian Aryo, dia jadi minder dan sensitif,” kata kakak saya menasihati ketika mengetahu bahwa saya mengajarinya untuk berhitung, berhemat untuk sesuatu yang tidak terlalu perlu.

 

Saya mengangguk-angguk. Tak berani menjawab, membantah atau mengiyakan. Walau saya bersikap defensif, bukan artinya saya tidak mendengarkan kritikan orang lain tetapi saya memilih diam untuk berpikir dan memilah. Berpikir untuk memperbaiki kekurangan dan kesalahan saya.

 

Aryo….Aryo……sikap dan gayanya sering membuat saya tak mampu berkata-kata. Sensitifnya yang membuatnya berbeda dari adik-adiknya, walau keras sesungguhnya Aryo sangat mengerti kesusahan bundanya dan dia yang bisa saya ajak bicara mengenai kondisi rumah yang kadang bikin saya bingung atau sedih.

 

Saya jadi menyesal, kadang bersikap “keras” padanya.

 

Categories: Aryo, Curhat

Tradisi jajan sebelum jum’at-an

Friday, 25 July 2008 leunca Leave a comment

Pertama kalinya saya menemani Aryo sholat Jumat di masjid, tak jauh dari rumah. Membuat saya terkagum-kagum. Masjid yang hanya berjarak satu blok ini menjadi terasa hangat.

Wah….mesjid yang biasanya sepi kali ini ramai oleh anak-anak, para remaja sampai orang tua dan orang muda. Alhasil jalan raya di depan masjid menjadi macet dan warung yang lataknya tepat bersebrangan dengan mesjid pun tak kalah macet dan rame. Macet karena antrian anak-anak yang hendak sholat jumaat, dengan tekun mengantri untuk “jajan”, membeli kripik atau minuman gelas yang dingin.

Ramainya warung itu oleh anak-anak. Tak kalah dengan para remajanya dan beberapa anak muda pun ikut meramaikan dengan duduk-duduk di kursi sebelah warung yang berada di bawah pohon besar. Sambil merokok atau sekedar kongkow sambil ngerumpi……ga jauh deh ama anak-anak cewek kalau lagi ngegosip…….ngobrol sambil ketawa ketiwi, “ngariung” dengan sarung disampirkan di bahu. Dan sarung ini yang membedakan dengan para cewek itu.

Saya agak kaget juga melihatnya.

Aduh…….kok……bukannya langsung masuk masjid untuk mendengarkan kutbah sih?…..walau dari luar mesjidpun kutbahnya terdengar dengan jelas. Tetapi…kan kalau dalam masjid ga mungkin dong merokok atau “ngerumpi” ?…….bener kan?….

Yaaaa, untungnya Aryo langsung masuk mesjid tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan. Dan Alhamdulillah ini bukan pertama kalinya Aryo sholat di mesjid. Kalau kebetulan om atau mbah kakung datang menjenguk, setiap masuk waktu sholat, Aryo pasti diajak berangkat bareng-bareng sholat di mesjid. Dan dia selalu gembira. Walau pernah beberapa kali menolak namun Aryo selalu bersemangat sholat di mesjid. Bahkan kadang meminta pada ayahnya untuk sholat di mesjid. Sebuah awal yang baik, menurut saya.

Dan kini……pemandangan yang terhampar di depan mata saya membuat saya menatapnya dengan “aneh”………hampir saya memperhatikan setiap gerak gerik anak-anak yang jajan sambil duduk-duduk atau berdiri berkerumun di depan warung dengan tatapan tajam. Jika sudah jajan keripik pedas…..sudah pasti beli minumnya dong untuk menghilangkan rasa pedas di mulut. Tapi yang dibeli bukan air hangat mealinkan es atau minuman gelas yang “dingiiiiin. Hasilnya?….bibirnya merekah kemerahan karena kepedasan yang makin pedas.

Saya jadi mikir…..bisa sholat ga ya tanpa berpikir, “aduh pedes banget keripiknya!” atau “wah, panas nih bibirnya”…..atau malah membuatnya ingin membeli minuman lagi untuk menghilangkan rasa panas di mulut yang “Waaaaaw”…..

Itu sih tidak seberapa. Yang bikin saya terbengong-bengong adalah…..ternyata anak-anak ini sengaja memulur waktu supaya mereka kebagian sholat “hanya” satu rakaat saja…..walah walah….saya jadi senyum kecut.

Biarpun sholat sudah dimulai dan beberapa anak-anak sudah sholat se-khusu mungkin, beberapa teman-temannya masih bercanda atau bermain-main sambil menggoda temannya yang sedang berusaha sholat dengan “baik”…. Eh, memasuki rakaat kedua, baru mereka membentuk barisan anak-anak “iseng” ini dalam satu baris paling belakang. Buru-buru memakai sarung yang tadinya hanya menjadi hiasan yang melilit leher dengan cepat supaya tidak kehabisan rakaat terakhir.

Tetapi…….Haaaaah…….satu rakaat yang tersisapun tidak dimanfaatkan. Sholat ya sholat tetapi kepala tengok kiri, tengok kanan, tangan bergerak bebas menepuk pundak sebelah. Dan ketika sedang sujud, ada satu anak sengaja bangun dan mendorong teman sebelahnya supaya terjatuh ke samping kanan dan mengenai teman di samping kanannya itu sehingga menjadi jatuh berantai ke samping…….bener-bener “usil”…..bin jail.

Aaaah…..namanya juga anak-anak. Tetapi kapan anak itu diajarkan untuk “mencintai” sholat?……. atau akhirnya mereka belajar sedini ini hanya untuk “sekedar sholat”?…….

Jangan-jangan…..Biarpun hanya satu rakaat walau itu main-main, minimal semua itu menunjukkkan bahwa “aku” sholat jumaat loh. Apalagi sarung menggantung di leher, muka dan dahi yang basah bekas air wudhu, juga baju koko bersih yang dipakai, bisa meyakinkan bahwa “aku” bener-bener ke mesjid “dan” sholat jumat.

Ah…..bener-bener bikin saya geleng-geleng kepala. Main-main sebelum sholat oke deh…..tapi sholat sambil main-main?…..no way.

Dan saya akan menanamkan ini pada Aryo.

Categories: Aryo

polemik tentang “Aryo”

Friday, 18 July 2008 leunca 1 comment

Wah wah……mbah putri dan mami, kedua neneknya Aryo “heboh” begitu tahu Aryo akan diajarkan pulang pergi ke sekolah dengan naik angkot “sendirian”…….

Saya jadi kebingungan sendiri. Suami tak peduli tetapi saya jadi berpikir banyak banget.

 

Wajar jika mbah putri dan mami “keberatan” dan menyarankan agar dicarikan “langganan ojek”….tetapi ayahnya bersikukuh agar Aryo diajarkan untuk berani dan mandiri.

 

“Dia laki-laki, Bunda” kata suami saya ketika saya memintanya untuk mendengarkan kata-kata mami dan mbah putri.

 

“Biar belajar mandiri. InsyaAllah Aryo bisa kok.” Lanjut suami meyakinkan saya.

 

Saya yang awalnya yakin menjadi goyah ketika mami dan mbah putri-nya telepon dan bercerita banyak. Saya sangat memahami kekhawatiran ibu dan mami. Yaaaa….Aryo kan cucunya. Apalagi, mungkin gaya ayahnya yang “cuek” dan bundanya yang kadang suka

“aneh-aneh”….seperti yang pernah kakak saya katakan, membuat mami dan ibu semakin khawatir.

 

Saya dan suami berprinsip, berusaha sekuat tenaga lalu kemudian berserah diri pada Allah SWT. Apapun itu, entah itu masalah uang yang sering minus setiap bulannya, sakitnya Gilang yang membuat sering bolak balik ke dokter dan apapun, suami selalu menekankan ini pada saya.

 

“Selagi kita berpikir positif maka itu yang akan terjadi, Bunda” kata suami saya suatu hari.

 

“Kalau bunda berpikir negatif maka yang terjadi juga negatif. Jadi bunda harus terus berpikir positif. Jangan sekali-kali berpikir yang tidak-tidak” itu juga nasihat suami yang selalu saya ingat.

 

Dan, berkat kata-kata suami dan cerewetnya soal “berpikir positif”….saya jadi seperti ini. Mungkin saya terlihat cuek tetapi sebenarnya saya ga cuek-cuek amat deh. Saya teteup sering merasa malu, minder dan tak percaya pada diri sendiri, pada waktu-waktu tertentu.

 

Tetapi…….suami yang akhirnya membuat saya mampu menegakkan badan dan yakin akan keputusan yang saya ambil. Karena baik dan buruknya hasil dari keputusan yang saya ambil, suami tak pernah menilainya dengan “kejam”. Suami selalu menghargai apapun yang saya “pilih” meskipun hasilnya menjadi “buruk”.

 

Hebat ya suami saya?…….he he he, narsis yaaaaaa?……

 

 

 

 

Categories: Aryo