Geliat sekolah tua
Kata “tua” sangat cocok untuk menggambarkan sekolah yang akan dimasuki oleh Aryo.
Gedung lama, langit-langit kusam dan berdebu, jalan setapak dari semenan kasar sebagai jalan masuk dan lapangan berumput sebagai lapangan untuk bermain dan upacara.
Merasakan aura yang terpancar oleh gedung beratap cukup pendek ini, pikiran saya seolah terdepak mundur 20 tahun lalu. Sekolah yang benar-benar “tua” dan sangat “jadul”……kontras dengan bangunan yang ada di belakang dan sampingnya yang terlihat serba baru.
Tak ada pikiran negatif sedikitpun. Saya menghirup aroma masa lampau, dimana gedung sekolah adalah gedung yang “apa adanya”….hanya semangat anak-anak yang bersekolah yang mampu membuat gedung itu terlihat “megah” dan “berjiwa”…..selebihnya, serba kekurangan.
Dua bangunan memanjang saling berhadapan. Satu bangunan terbagi atas 4 kelas. Ruang kelas yang cukup luas dengan meja dan bangku kayu yang usang dan lantai semen tak berkeramik, membuat saya menyadari satu hal, suatu pilihan berani yang saya dan suami pilih bagi Aryo.
Pilihan bahwa belajar bisa dimana saja, belajar dengan siapa saja, belajar apa saja, belajar kapan saja…..tanpa memandang megahkah atap yang akan menaunginya selama belajar?…..
Sebuah sekolah yang sangat jauh berbeda dengan sekolah TK-nya dulu. Berbeda 180 derajat…..tetapi, inilah pilihan kami, ayah dan bundanya. Semoga Aryo bisa menerima pilihan ayah dan bundanya, mengerti tujuan dan maksud kami memilihkan ini baginya.
Walau mungkin terkesan sangat “memaksakan” namun, saya berdoa, inilah yang terbaik bagi Aryo. Akan ada banyak hal yang bisa Aryo pelajari yang akan membekalinya untuk melangkah ke depan, bersaing dan berjuang untuk menjadi yang terbaik bagi dirinya. Amin.
Semoga Aryo akan menjadi mutiara dalam lumpur………..