Archive

Archive for June, 2008

Geliat sekolah tua

Monday, 30 June 2008 leunca Leave a comment

Kata “tua” sangat cocok untuk menggambarkan sekolah yang akan dimasuki oleh Aryo.

Gedung lama, langit-langit kusam dan berdebu, jalan setapak dari semenan kasar sebagai jalan masuk dan lapangan berumput sebagai lapangan untuk bermain dan upacara.

Merasakan aura yang terpancar oleh gedung beratap cukup pendek ini, pikiran saya seolah terdepak mundur 20 tahun lalu. Sekolah yang benar-benar “tua” dan sangat “jadul”……kontras dengan bangunan yang ada di belakang dan sampingnya yang terlihat serba baru.

Tak ada pikiran negatif sedikitpun. Saya menghirup aroma masa lampau, dimana gedung sekolah adalah gedung yang “apa adanya”….hanya semangat anak-anak yang bersekolah yang mampu membuat gedung itu terlihat “megah” dan “berjiwa”…..selebihnya, serba kekurangan.

Dua bangunan memanjang saling berhadapan. Satu bangunan terbagi atas 4 kelas. Ruang kelas yang cukup luas dengan meja dan bangku kayu yang usang dan lantai semen tak berkeramik, membuat saya menyadari satu hal, suatu pilihan berani yang saya dan suami pilih bagi Aryo.

Pilihan bahwa belajar bisa dimana saja, belajar dengan siapa saja, belajar apa saja, belajar kapan saja…..tanpa memandang megahkah atap yang akan menaunginya selama belajar?…..

Sebuah sekolah yang sangat jauh berbeda dengan sekolah TK-nya dulu. Berbeda 180 derajat…..tetapi, inilah pilihan kami, ayah dan bundanya. Semoga Aryo bisa menerima pilihan ayah dan bundanya, mengerti tujuan dan maksud kami memilihkan ini baginya.

Walau mungkin terkesan sangat “memaksakan” namun, saya berdoa, inilah yang terbaik bagi Aryo. Akan ada banyak hal yang bisa Aryo pelajari yang akan membekalinya untuk melangkah ke depan, bersaing dan berjuang untuk menjadi yang terbaik bagi dirinya. Amin.

Semoga Aryo akan menjadi mutiara dalam lumpur………..

Categories: Curhat

Jerman dong……

Wednesday, 18 June 2008 leunca Leave a comment

 

Wah…saya seneng banget loh waktu nonton Jerman Vs Austria……keren deh……apalagi Ballack…….top deh.

 

Tapi sayang saya ga lihat golnya soalnya saya lagi usapin kaki suami yang sakit entah digigit apa……agak bt sih tapi kata suami, “tenang bun, ada replay-nya” kata suami enteng.

 

Huuu…..bukan replay-nya kan yang bikin seru tapi perasaan tak menyangka, tak menduga, bahwa tendangannya Ballack itu masuk gawang……aduh…suami saya ga ngerti sih…..(he he suamiku jangan marah ya!)

 

terus, konsentrasi saya pecah. Tiba-tiba De Bagus muntah-muntah karena masuk angin (de Bagus ikutan nonton sambil tiduran di lantai). Konsentrasi saya langsung buyar saat itu juga. Ya sebel, ya kalut karena de Bagus tiba-tiba sakit, ya…bt ga lihat golnya pertama kali, ya….bingung lihat seprei dan bantal basah kena muntahnya de bagus…pokoknya, ya….banyak deh yang bikin saya jadi “pundung”….dan tidak melanjutkan lagi menonton……

 

Sebenarnya sedih sih tapi….ya, tetap terhibur karena Jerman menang kok sampai akhir. Tetapi untuk besok nih sepertinya saya dan suami ada di 2 kutub berbeda.

 

Jerman akan berhadapan dengan Portugal kan?…..nah, suami saya adalah pendukung setianya Portugal….gimana ya?…..

 

Sebenarnya sih ga ada masalah tapi suami saya kadang suka kebawa perasaan (sama seperti saya). Pernah satu kali saya dan suami nonton apa ya (saya lupa)…saya dan suami berbeda kubu, lalu jagoan saya menang dan suami langsung komentar dengan nada yang “ga enaaaaaaaaaaak banget”……

 

Semenjak itu, saya menghindari berbeda kubu dengan suami. Atau kalaupun terpaksa berbeda kubu, ya saya akan banyak diam. Kalaupun saya pengen teriak kesenangan karena jagoan saya berhasil atau menang, saya cukup “teriak dalam hati saja”…..hi hi hi…..solider deh ama suami.

 

He he he he………tapi gimana nih Jerman ngelawan Purtugal…..nonton ga ya?…..ragu-ragu nih…..takut suami marah karena Portugal kalah….eh, sorry….ga deh. maaf ya, saya cuma sok PD aja.

 

Tidur aja kali yaaaaaa…….

 

 

Categories: Curhat

sekolah yang “internasional”

Wednesday, 18 June 2008 leunca Leave a comment

Sekolah standar internasional sering saya dengar beberapa hari belakangan ini. Kuping saya sampai panas mendengarnya, saking seringnya. Kebetulan, salah satu keponakan saya lulus tes sebuah SLTP Negeri yang mempunyai kelas internasional. Wah, keren banget deh…..

 

Saya sih belum tahu percisnya seperti apa (saya belum sempat bertanya-tanya dan mengucapkan selamat karena kesibukan saya yang seabrek), namun setelah saya sempat berbincang dengan tetangga mengenai sekolah “baru” ini, saya agak sedikit tahu apa perbedaannya.

 

Salah satunya, sekolah standar internasional ini memakai bahasa inggris sebagai bahasa pengantarnya. Wow…keren banget dengernya. Tapi begitu tahu “uang masuk”-nya yang sangat di atas rata-rata ini…..wow (juga)…..muahal banget……..(jika dibandingkan dengan yang setara)….saya jadi “patah arang”….kenapa? ada deh….

 

Wah….ketika kakak di atas saya bercerita tentang keponakan saya ini, (keponanan ini putra pertama kakak tertua saya, kami 7 bersaudara dan saya anak bungsu), yang lulus tes dan mahalnya uang masuk ke sekolah ini…..saya ditanya, “gimana nanti Aryo?”….

 

Huhh……saya tarik napas panjang. Lalu saya jawab, “ya…lihat nanti saja” jawab saya se-bijak mungkin.

 

Gimana ya?……..saya agak “pesimis”melihat suatu sekolah mahal. Apakah mahalnya “beneran”, maksudnya sesuai dengan fasilitas dan penunjang yang tersedia di sekolah itu?…..demi sebuah mutu yang memang mahal?……atau “mahal karena yang lain” ?…..

 

Gimana ya……saya punya pengalaman yang bikin saya jadi “takut salah pilih”….dan takut salah tempat.

 

Saya takut salah pilih, takut saya memilih hanya “mahalnya saja”…..atau saya memilih “mahal karena gengsinya”…..atau saya rela “bermahal-mahal karena kelasnya”…..wah…pokoknya saya takut karena saya bukan orang yang pandai memilih.

 

Memang saya dan suami mempunyai prinsip, inginnya bisa “membeli kualitas bukan karena gengsinya”. Yaaa…memang sih, “ada rupa ada harga”….dan yang bagus sudah pasti mahal kan?. Tetapi, apakah yang mahal itu sudah pasti bagus?…..nah ini pertanyaan yang sulit saya jawab, mengingat keterbatasan pengetahuan saya yang murni IRT saja, yang setiap hari hanya berkutat dengan pantat panci dan penggorengan, harga sayur, cabe dan minyak goreng yang mahal, atau tagihan air, listrik, telepon dan gas yang “ampun deh”…setiap bulan naik melulu…he he he he…..

 

Tetapi, apapun pikiran saya yang suka aneh-aneh (seperti yang pernah kakak saya katakan)……saya sih positif-positif thinking aja….lah wong sekolah standar internasional itu sekolah yang bonafit kok, isinya anak pinter semua dan anak pintar yang kaya (juga)….so, sudah pasti dong….bisa dipercaya….

 

Ah yaaa…..kalau ditanya gimana nanti Aryo masuk SLTP?….itu nanti. Lah, mau masuk SD-nya aja baru Juli nanti dan Juni ini baru daftar…so, kenapa pusing sekarang……bener kan?…

 

 

 

 

 

 

Categories: Curhat

salah saya pagi ini

Thursday, 12 June 2008 leunca Leave a comment

Pagi ini perasaan saya gelisah, takut dan ga tenang. Barusan aja orang PDAM melakukan survey berkaitan dengan keinginan saya untuk menurunkan golongan tarif air dari RC ke RB. Wah wah wah….ternyata gampang-gampang susah.

 

Saya mengajukan penurunan ini karena pembayaran air saya selalu mahal, diatas 100 rb (buat saya ini mahal) karena saya sudah banyak melakukan penghematan dalam memakai air, misalnya, mencuci baju dengan manual saja, mesin cuci untuk mengeringkan. Karena mesin cuci saya ini jenis mesin cuci otomatis pengisian airnya dan kalau dihitung tuh, air yang dipakai untuk 1 kali cuci saja bisa lebih dari 10 L…..nah, harusnya berkurang dong….

Yang lain lagi, kalau mencuci piring dengan air kecil dan tidak membiarkan mengisi bak mandi sampai airnya luber. Memakai air seperlunya, tidak berlebihan, itu yang saya ajarkan pada anak-anak.

 

Satu waktu, saya ngobrol dengan tetangga dan ibu RT. Ternyata air rumahnya, golongannya tidak setinggi saya. Wah, bikin saya semangat untuk mengajukan penurunan. Tapi…..ternyata ga semudah itu dan ga bisa.

 

Alasannya karena kiri kanan tetangga saya RC semua. Lalu, saya iseng bilang kalau ada juga tetangga yang golongannya dibawah RC, yaotu RB dan saya sebut saja dimana-mananya. Karena waktu saya bicara dengan costumer service, saya lihat sendiri kok memang bener…..(ga tau ya kalau mata saya salah).

 

Setelah ke dua kali saya kembali ke pelayanan pelanggan, akhirnya bisa mengajukan keinginan saya menurunkan golongan tarif. Dan pagi tadi dua orang datang nge-cek.

 

Ya udah…saya sih ngomong apa adanya, jujur. Tapi kok saya jadi takut sendiri dan menyesal karena ngomong yang “apa adanya”. Karena begitu saya katakan bahwa di sini ada yang RB dan rumahnya lebih besar, tingkat dua, tidak sekecil saya. Eh eh eh eh he……….yang nge-cek itu malah bilang, “nanti yang RB itu akan di cek dan mungkin dinaikkan”…katanya lagi.

 

Wah, saya jadi takut. Gimana nanti kalau tetangga-tetangga saya golongan tarifnya dinaikkan dan mereka jadi bayar airnya mahal banget seperti saya?….kemudian tahu gara-gara saya mengajukan keinginan untuk menurunkan,  kok mereka malah dinaikkan. Saya langsung ga enak hati karena saya jadi takut kalau bener-bener terjadi, pasti saya yang menyebabkan itu.

 

Kok, dari tadi mikir dan nenangin diri  ya ga tenang-tenang juga. Saya jadi takut. Saya jadi mikir yang enggak-enggak. Saya kan masih terbilang warga baru dan “anak bawang”, kalau bikin “gara-gara” seperti ini apa ga dimusuhi saya?…….Wah, gimana ya kalau saya di”cuekin”?………gimana kalau saya diomongin yang enggak-enggak?…..

 

Sebenernya sih saya hanya berharap, syukur-syukur bisa, seperti yang saya katakan pada orang PDAM tadi. Kalau ga bisa ya…ga usah naikin yang RB.

 

Wah, bener-bener sakit perut nih kalau ingat itu. Kalau lagi gini, saya suka sedih, kenapa sih suami kok tetep kekeuh aja minta saya ngusrusin ini, dan waktu dengar alasan yang saya katakan, sesuai denga yang dikatakan oleh orang PDAM itu, kesannya saya bohong, ga mau denger suami dan ga mau berusaha keras.

 

Waaaah…..ya sudah lah. Resiko ditanggung sendiri. Saya harus berani dan berjiwa besar mengakui kesalahan saya bawa-bawa orang lain dalam urusan saya. Satu pelajaran mahal yang harus saya telan hari ini. hope, saya tidak mengulanginya lagi di lain waktu di masa datang.  Insyaallah.

Categories: Curhat

Italia atau Belanda ya?

Tuesday, 10 June 2008 leunca Leave a comment

Wah…saya bingung berat tadi pagi waktu nonton EURO 2008…pertandingan bola antara Belanda dan Italia. Dua-duanya ini jagoannya saya. Karena dari dulu saya mengangumi Van Basten, waktu masa kecil saya yang memang suka bola, biarpun saya anak perempuan.

 

Dua tahun lalu, kalau saya ga salah ingat, Piala Dunia tahun 2006 itu, saya menjagokan Italia….dan ternyata Italia masuk final melawan Perancis, dan menang. Aduh seneng banget deh…..tapi saya ga enak hati karena suami yang menjagokan Perancis.

 

Setelah Italia menang, suami dengan enteng mengatakan, “wah hebat ya, jagoannya bunda menang”…katanya, tapi saya dengernya risih soalnya kata suami.

 

“pemain-pemain Italia jago “acting”…suka pura-pura jatuh dan kesakitan banget padahal ga gitu-gitu amat.”

 

Eh eh eh…….gimana ya, saya kan suka Totti. Biarpun doi ini suka “berpura-pura” tapi saya tetap suka karena doi nih lincah mainnya dan saya sih lihatnya ulet dan cerdik….ya, ini pendapat saya sebagai, apa ya….”fans”nya mungkin…walau saya ga fanatik….ya sekedar suka aja.

 

Jadi, ketika tadi malam nonton Belanda dan Italia, karena Totti sudah retired…ya, saya jagoin Belanda….karena Van Basten ini……tapi bener deh, saya masih tetap suka Italia bairpun ga ada Totti-nya.

 

Jadinya, saya kebingungan setengah mati. Italia menyerang, saya seneng. Begitu juga ketika Belanda membuat 3 gola yang bagus loh, saya seneng banget…walau yang pertama kayaknya harusnya ga diitung deh (kalau kata saya sih yang ga ngerti banget)……

 

So, saya nikmati aja. Tetapi kalau harus memilih…ya, dukung yang menang aja deh. Pokoknya saya jagoin Jerman, Belanda dan Italia……diantara tiga ini, siapa yang masuk final itu yang akan bikin saya mau melek tengah malam…..kalau ga ada yang lolos….mendingan tidur aja deh.

 

 

Categories: Curhat

HS atau sekolah reguler?….

Sunday, 8 June 2008 leunca Leave a comment

 

Kehebohan sampat saya alami bersama suami, tepat satu tahun lalu.

 

Ketika saya harus memilih, menentukan sekolah dasar yang “cocok” untuk Aryo begitu lulus TK. Ada banyak pilihan, dari yang “muahal”, “agak mahal”, “mahal sedikit”, “murah”, dan “murah banget”…..

 

Pilihan yang paling sulit dan memerlukan suatu proses pemilihan yang tidak main-main. Apalagi “cerita hitam” yang menjadi lembar tersendiri dalam satu kisah Aryo bersekolah di TK……yang membuatnya menjadi “agak rendah diri”, “tak PD” dan “sedikit pesimis”

 

Pengalaman ini yang membuat saya sangat sangat hati –hati memilihkan sekolah untuk Aryo selanjutnya. Jangan sampai Aryo “ditertawakan lagi”……atau berpikir tentang “perbedaan kekayaan” antara dirinya dengan teman-temannya.

 

Mungkin saya termasuk “idelis” jika saya menginginkan sekolah yang “apa adanya”, sekolah yang akan memberi banyak “warna baik” bagi Aryo, sekolah yang bisa membuka matanya untuk bisa “bersyukur” terus, sekolah yang mengajarkan “ilmu bukan suatu tuntutan tetapi kebutuhan”, sekolah yang bisa mengajarkan “bagaimana cara menghargai dan menghormati orang tanpa melihat kayakah dia”…….

 

Agak susah menemukan sekolah se-ideal dengan apa yang saya inginkan. Sekarang gitu loh……zaman sudah banyak berubah dan banyak hal-hal dasar yang bergeser, berubah, tidak sama ketika saya sekolah dulu, hampir 20 tahun lalu.

 

Karena sekarang saya melihat, banyak anak-anak yang berpikir “terlalu materialistis”……..dulu memang sudah ada tetapi tidak “se-vulgar” dan “se-terlalu” sekarang.

 

Saya ingin berbagi pada Aryo, mengenal banyak orang dari segala macam orang akan membuka wawasan kita seluas-luasnya. Berbicara dengan siapa saja akan menambah ilmu kita, bahkan ngobrol dengan tukang sayur pun akan mendapatkan ilmu. Ilmu berdagang yang paling sederhana, seperti kalau jualan jam 7 pagi, belanja sayurnya jam berapa, di pasar mana, sayuran apa yang sedang “in” atau mahal, sayuran apa yang lagi murah dan banyak, atau sadar bahwa ternyata “matematika itu perlu”…….ilmu ada dimana-mana.

 

He he he he he…….apakah saya terlalu “susah” menentukan sekolah bagi Aryo?…..jika jawabannya iya, memang benar.

 

Saya tidak inginkan “masa emas” Aryo belajar dan menyerap banyak hal di usianya yang sedang “tumbuh” menjadi “bumerang dan suatu kesia-siaan” belaka. Selagi saya bisa memberi yang terbaik bagi Aryo, kenapa tidak……sah-sah saja kan?……..

 

Dan bagi saya yang terbaik bukan berarti pendidikan yang super mahal….walau selalu “ada rupa ada harga”…..maksudnya, bukan cuma mahal. Kalau mahal tetapi “kurang atau tidak cocok”, ya lebih baik cari yang lebih cocok dan fleksibel kan?…sesuai dengan kita mau.(ini bagi saya pribadi).

 

Sooooo…….mudah-mudahan setelah diawali dengan HS “ringan” selama 1 tahun ini, di awal tahun ajaran 2008 Aryo bisa bersekolah “dengan baik dan sederhana saja”. itu doa saya.

 

Saya menghindari “ambisi” bahwa Aryo harus menjadi juara kelas, berprestasi apapun….tidak, saya tidak ingin. Saya ingin membiarkannya tumbuh dan berkembang dengan cara “biasa dan alami”….karena kematangan yang alami, bagi saya, jauh lebih baik daripada “dipaksakan”.

 

Insyaallah. Amin.

 

Categories: Curhat