Akhirnya…….
Aah aah aah aah…..akhirnya saya mulai bisa memetik sedikit, “sedikit dan sekecil” hasil jerih payah saya “membiarkan” Aryo memilih apa yang ingin dia lakukan walau awalnya saya ketakutan, apa bener nih saya memberikan kebebasan bagi Aryo akan baik?…..
Saya menerima ketika Aryo dengan bahasanya menolak “belajar konvensional” dan memilih mengotak atik lego atau bermain-main dengan adiknya.
Saya menerima keinginannya yang “hanya” semangat les bahasa inggris dan belajar keyboard saja di rumah.
Saya, “dengan berat hati”, menghentikan semua kegiatan rutin HS yang diawal program saya mengatur jadwal untuk belajar matematika, IPA, melatih menulis dan lain-lain pelajaran sekolah umumnya, setiap hari dengan belajar yang berbeda-beda dan dengan membuat “mind map”.
Saya membiarkan Aryo yang kelihatannya “sedikit” malu jika ditanya, “kelas berapa de?” atau “sekolah dimana?”, jika ditanya oleh orang di sekitarnya, entah itu sepupu-sepupunya, uwanya, atau kerabat jauh, bahkan teman lesnya.
Saya “sebisa mungkin” tidak membantu Aryo keluar dari tekanan dalam dirinya, karena “mungkin” Aryo mengalami perang batin ketika sewaktu TK setaip hari berangkat sekolah dan tiba-tiba saja Aryo belajar dan belajar di rumah atau berbeda dengan anak tetangga seusianya yang setiap pagi berangkat sekolah…dan mungkin ini “sempat” membuat Aryo merasa sedikit “rungring”….
Dan setiap hari, setelah hampir 1 tahun ini dijalani dengan banyak “keberatan hati” dari Aryo dan “perang” antara saya, bundanya, dengan Aryo…..mungkin cooling down yang saya ambil, berhasil sampai saat ini. So far so good.
Pelan-pelan, minat baca Aryo mulai timbul. Sebelum tidur, jika belum mengantuk Aryo pasti membaca komik cerita. Tapi komik ini bukan komik bergambar seperti Naruto dsb, melainkan komik cerita seperti Treasure Island yang minim gambar.
Atau, ingin bisa membuat tulisan seperti saya, membuat cerita dengan mengetik di depan komputer, walau pertanyaannya banyak banget “boleh nulis ini ga Bun?” atau “omnya mas Aryo berapa ya Bun?”….walah walah heboh deh.
Yang lain, ke-PD-annya membatu sepupunya mengerjakan PR, yang kebetulan minggu kemarin menginap di rumah. Walau jawaban Aryo banyak yang “tidak tepat” atau ngawur tetapi saya lihat, keberanian dan spontanis Aryo yang patut diacungi. Sebenarnya sih, jawaban Aryo tidak sepenuhnya salah, hanya saja, tidak tepat dengan standar sekolah.
Nah…nah….walau belum sepenuhnya berhasil dan memenuhi target yang saya punya, yang saya tentukan sendiri tanpa sepengetahuan Aryo, saya melihat ada banyak poin-poin kemajuan.
Percaya dirinya pulih, berani bertanya, berani menjawab walaupun salah, menyadari jika dia melakukan kesalahan dan …..mudah-mudahan ini bekal yang cukup untuk dia masuk sekolah reguler tahun ini yang tinggal beberapa bulan lagi.
Hope, Aryo bisa berkembang sesuai dengan apa yang dia mau dan dia inginkan, bukan karena ikut-ikutan orang lain atau terbawa arus. Insyaallah.