Archive

Archive for February, 2008

dPast Okt 2000

Friday, 22 February 2008 leunca Leave a comment

my man……… 

Masih ingatkah ketika kita bergandengan tangan, malam sabtu ketika gerimis turun, menaiki tangga satu per satu, memakai baju adat sunda, memasuki gedung resepsi setelah akad nikah jumat paginya.

Masih ingat?

Semua pergulatan bathin yang berkepanjangan seolah habis di titik ini. Awal mulai perjuangan sebagai pasangan seumur hidup terpatri saat itu. Saat menyalami tangan seorang imam keluarga, terucap doa yang tak terdengar, ingin berbakti seumur hidup, menjadi istri solehah, menemani disaat-saat yang tersulit dan menjadi yang terbaik baginya. Bahkan ketika berdiri berdekatan dan berdampingan, rasanya dunia berhenti berputar saat itu juga, menghadirkan suasana hikmat yang hanya dapat dirasakan dengan hati yang tulus. Bahagia terlalu dirasakan hingga air mata menetes, memulai rasa bahagia sekaligus haru. Rasanya memimpikan sesuatu yang terpendam bertahun lamanya dan rasanya tak ingin terbangun sedetikpun. Jika ini adalah langkah awal, hanya doa yang ingin selalu terucap dan rasa syukur. Semoga bahagia selalu dan menjadi keluarga sakinah mawadah dan warahmah. Amin. Kini, saat-saat lalu masih terbayang di pelupuk mata. Setiap gambar terekam dengan baik karena semuanya adalah buah perjuangan yang tak sebentar. Air mata, keraguan dan sedikit keputusasaan sempat menjadi pilihan. Kenyataan seolah berputar-putar pada kesusahan. Namun kini, walau kesulitan dan kesusahan juga mengiringi, tetap semuanya menyenagkan. Semoga selalu.

Categories: Curcur

mengapa bukan saya?

Thursday, 21 February 2008 leunca Leave a comment

Salahkah jika saya yang lebih dahulu menyukai dan menyayangi pasangan saya? mengingat saya adalah seorang perempuan, yang dalam tradisi ketimuran saya, seorang perempuan sepantasnya menunggu?….

Saya tidak tahu, apakah saya patut untuk membenarkan semua usaha saya untuk menarik perhatian dan “mengambil” hatinya?……

Yang saya tahu, saat saya mulai mengenalnya, saya seolah tahu dengan hati saya, bahwa inilah dia, seseorang yang bisa menjadikan hidup saya lebih berarti dan berwarna, membuka mata saya betapa luasnya dunia yang tadinya bagi saya hanyalah seluas daun kelor…..

Kadang saya merasakan ada satu kepiluan hati, kenapa bukan saya orang yang pertama bertemu dengannya, dekat dengannya dan orang yang pertama kali disukainya?…….

Mengapa bukan saya yang menjadi idaman hatinya di saat dia pertama kali menyukai seorang wanita?……

Mengapa bukan saya yang pertama, yang akan menjadi teman terdekatnya?…..

Mengapa bukan saya yang menjadi orang yang pertama mengenal kebiasaannya?…….

Mengapa dulu saya tidak pernah berada dalam dunia yang sama dengannya?…….

Mengapa dan mengapa…..selalu saya tanyakan.

Mengapa harus saya yang menyayanginya lebih dulu?…..

Walau kadang hal ini membuat saya bisa sangat bersedih, namun saya sadar……semua itu hanyalah masa lalu dan saya harus berbesar hati menerima satu paket besar yang lengkap dengan semua atribut yang pernah disandangnya….

Apalah saya?…….

Walau hati sering merintih jika saya merasakan bisa membaca apa yang ada dipikirannya, tentang masa lalu, tentang teman, namun saya tetap tersenyum dan tertawa…….karena sejujurnya, saya ingin kuat, saya ingin tegar, saya ingin bisa terus berbahagia dengan apa yang saya dapatkan saat ini….

Jika saya adalah satu pilihan yang terbaik dari sekian pilihannya, yang telah diuji dan diseleksi dengan ketat……saya hanya bisa menerima dan berjuang.

Jangan sampai semua ujian yang sudah saya lewati hancur begitu saja, semua usaha keras saya hanya sampai di sini. Saya tidak menginginkannya.

Karena, saya akan berjuang, demi diri saya dan demi orang-orang yang menyayangi saya.

Demi mereka saya ada dan demi mereka juga saya ingin berbahagia.

Walau kesedihan itu seperti air yang mengalir……terus sampai bertemu muaranya…..

Categories: Curcur

be My

Thursday, 14 February 2008 leunca Leave a comment

 

 

 

 

Be my lover

 

Yang selalu mencintai dan dicintai

Be my dear

Yang selalu dimanjakan

Be my honey

Yang selalu disanjung dan dipuja

Be my dream

Yang selalu menemaniku tidur

Be my sunrise

Yang selalu menyinari dan menyemangati

Be my moon

Yang selalu menghiasi malam-malamku

Be my world

Yang selalu menjadi tempatku berpijak

Be my teacher

Yang selalu mengajariku

Be my bag

Yang selalu menjadi segalanya bagiku

Be my house

Yang selalu menjadi tempat tinggalku

Be my shoulder

Yang selalu melindungi dan tempat bersandarku

Be my fire

Yang selalu memberikan kehangatan

  

 

For my only and one

My man

14 februari 2008

Categories: Curtak

Aryo, Bagus, Gilang

Wednesday, 6 February 2008 leunca Leave a comment

Enaknya makan permen kojek….itu tu permen bertangkai, permen bulat yang ada pegangannya…..itu mungkin yang ada di kepalanya. Lihat saja, Gilang baru pertama kali merasakan dan langsung pintar menghisap dan mengemutnya sambil memegang tangkainya. Lucu deh.

Gayanya yang “sok” anak laki-laki besar sambil berjalan miring kiri minring kanan, menunjukkan betapa bahagianya dia bisa seperti kakak-kakaknya, mas Aryo dan mas Bagus.

Sekarang pun kalau minum air putih, tutup gelas yang ada sedotannya Gilang buka dan dia minum seperti layaknya orang minum dari gelas…..minum langsung sampai airnya tumpah-tumpah kena baju dan celananya, banjir.

Kalau saya ambil tutupnya dan dipasangkan lagi, supaya Gilang minum dengan memakai sedotan, Gilang protes dan dibuka lagi. Biar susah, Gilang berusaha membukanya sampai akhirnya begitu tutupnya terbuka, air dalam gelas keluar dan membasahi semuanya…..pokoknya basah semua.

Tapi Gilang tidak lagi menangis seperti kemarin jika menumpahkan sesuatu. Kali ini Gilang hanya senyum-senyum lalu dilap sendiri dengan menggunakan bajunya atau tangannya. Jorok banget deh.

Tapi, kalau melihat kelincahannya dan keinginannya bisa bermain dengan kakak-kakaknya, saya jadi sering melupakan kalau Gilang tidak boleh terlalu cape.

Saya sendiri juga sering mengajaknya jalan-jalan, entah ke supermarket untuk belanja bulanan yang sampai akhirnya pulang harus malam-malam atau sekedar nengok neneknya naik angkot.

Biar panas atau gerimis, Gilang tetap bisa menikmati naik angkutan umum, duduk berdesak-desakan dengan penumpang lain, sampai Gilang akhirnya tertidur pulas di pangkuan saya, terjepit antara penumpang lain yang badannya lebih besar darinya, dan tidak peduli dengan macetnya jalan atau panasnya matahari yang ada tepat di atas kepala.

Bener-bener saya bersyukur pada Allah SWT.

Namun begitu, tetap saja saya mengingatkan bahwa saya harus bisa mengajarkan Gilang supaya dia bisa mengukur diri sendiri, dia boleh bermain sepuasnya, berjalan-jalan jauh ke luar kota atau beraktifitas seperti kakak-kakaknya, namun tetap dalam keadaan yang fit. Setahu saya, jika mempunyai penyakit jantung, kalau tidak salah, tidak boleh terlalu cape…….penyakit lain juga begitu kan?…..

Yaaaa……..saya tidak ingin terlalu mem-protek Gilang, namun juga tidak ingin terlalu membebaskan sebebas-bebasnya, saya tetap harus mengawasinya dan ada kontrol yang bisa menjaganya.

Yaaaaa……hope saya bisa ya. Mengingat Gilang adalah anak lai-laki.

Namanya juga anak laki-laki. Gilang sangat berani, kadang-kadang sulit jika dilarang oleh bundanya.

Tak berbeda jauh dari Aryo yang jika di cereweti oleh saya, balik cerewet bertanya dan kadang membalik kata-kata saya…..Aryo saat ini sering begitu pada saya.

Kalau saya memuji Gilang dan mengatakan Gilang hebat, Aryo protes dan bertanya, “mas Aryo hebat ga bun?” atau….”kapan mas Aryo dibilang hebat sama bunda?”…….walah walah…cemburu juga sama adiknya yang ini dan tidak mau kalah dengan adik-adiknya.

Dan Aryo juga sering membela Gilang sampai-sampai harus berantem dengan de Bagus ketika de Bagus mengambil mainan yang sedang dimainkan Gilang……atau bertengkar, adu mulut dan akhirnya bicara sekencang-kencangnya sampai kuping saya sakit……wuih…….

Ampun deh.

Kalau Gilang karena memang belum mengerti banyak, tetapi Aryo dan Bagus?…hem….yang paling besar sudah berumur 6 tahun dan yang satunya 4 tahun…….. namun gayanya seperti mengikuti Gilang……huih….bener-bener menguji kesabaran bundanya.

lain Aryo, lain lagi dengan Bagus. Umurnya memang 4 tahun tetapi gayanya tak jauh beda dengan Gilang. sepertinya dia sedikit cemburu pada satu-satunya adik kecil. Dia sering merebut mainan Gilang dan membuat Gilang menjerit lalu menangis……lain waktu, Gilang dan Bagus bisa ngobrol dengan bahasa mereka yang bikin saya tertawa. Bagus ini sangat mahir jika harus bergaya mengikuti orang lain atau iklan di TV……dan kalau dia mengikuti gaya bicara dan bahasanya Gilang, jadi deh mereka berdua ngobrol…he he he……seperti ngobrol sungguhan.

Aaaah ……..

Untuk itu saya sangat bersyukur, karena saya yang”tercantik” di antara suami dan anak-anak.

Eit….bukan hanya bersyukur karena saya paling cantik, tetapi karena saat ini saya merasa menjadi orang yang “beruntung”…..

Beruntung karena suami saya…..

Beruntung karena anak-anak saya…

Beruntung karena rasanya Allah SWT sudah memberikan banyak pada saya…

Hope saya selalu menjadi orang yang bersyukur dan tidak lupa “menginjak daratan”…alias lupa diri. Amit-amit deh…..

 

Categories: Aryo, Bagus, Gilang