Archive

Archive for December, 2007

Cerita masa lalu Aryo

Thursday, 27 December 2007 leunca Leave a comment

Saya mempunyai pengalaman yang kurang mengenakan ketika Aryo bersekolah di sebuah Taman Kanak Kanak sawsta yang cukup terkenal.

Awal saya memilih menyekolahkan Aryo di TK tersebut karena setelah saya melakukan survey ke beberapa TK yang ada di dekat tempat tinggal saya akhirnya pilihan saya jatuh pada TK ini yang bisa dikatakan sekolah mahal.

Saya memilih bukan karena gengsi tetapi karena saya jatuh cinta begitu melihat halaman bermain yang luas dengan permainan-permainan yang banyak dan saya yakin Aryo akan bisa sepuasnya bermain. Dan yang kedua, saya sempat berbincang dengan salah satu guru pengajar di TK itu, dan lagi-lagi saya jatuh cinta pada metode belajarnya yang lebih memperbanyak waktu untuk bermain dari pada belajar baca, tulis dan berhitung.

Hemat saya sih, toh sewaktu saya TK dulu juga lebih banyak bermain dari pada belajarnya. Belajar baca, hitung dan menulis baru saya dapatkan ketika masuk SD. Dan Alhamdulilah saya bisa masuk SMP dan SMA negeri dan tidak bodoh.

Awal masuk sekolah saya sangat bersyukur karena Aryo termasuk anak yang bisa dikatakan mandiri.

Hanya 2 hari Aryo ditemani berangkat sekolah dengan jemputan dan walau masih menguntit sambil memegangi baju ibu gurunya, Aryo termasuk tidak rewel.

Minggu kedua sekolah dia sudah bisa dilepas sendiri. Saya melihat Aryo sangat percaya diri dan gembira ketika jemputan sekolah datang menjemputnya sekitar jam 6.30 pagi. Selalu ada senyum di wajahnya.

Walau lelah karena jam sekolahnya panjang, dari jam 7.30 pagi sampai 11.30 siang, tetapi saya melihat Aryo sangat menikmati masa dia bersekolah. Selalu ada cerita yang dia bagi pada saya, bundanya.

Sebelum tidur Aryo akan bercerita tentang lagu baru yang telah diajarkan oleh gurunya atau hapalan doa dan surat-surat pendek yang selalu di bacanya setiap pagi sebelum masuk kelas atau pada saat berbaris di depan kelas.

Suaranya terdengar riang dan Aryo selalu mengatakan, “bunda bangunkan mas Aryo jam 5 ya supaya mas Aryo tidak kesiangan di jemput”.

Ah, betapa semangatnya dia memulai hari-hari sekolah.

Satu bulan berlalu, dua bulan berlalu, rasanya hari berjalan sangat cepat. Dan Aryo tumbuh menjadi anak laki-laki yang percaya diri.

Tetapi, masuk semester kedua di TK A, Aryo mebuat saya berlinang air mata untuk pertama kalinya.

Dia dengan sedih bercerita bahwa ada beberapa temannya yang tidak mau bermain dengannya. Dan lain waktu dia bercerita lagi, ada salah satu temannya yang sering iseng memukulnya, kadang mendorongnya sampai terjatuh atau menertawakan karena bajunya yang berbeda dengan teman-temannya.

Awalnya saya biasa saja mendengarnya. Tetapi lama kelamaan saya menjadi sedih.

Walau sedih saya selalu menghiburnya dengan mengatakan, “sabar ya mas. Jangan di balas. Kalau mas Aryo tidak balas memukul Allah sangat saya sama mas Aryo”

Aryo mengiyakan dan dengan pelan dia mengatakan,”biar aja Allah yang balas ya bunda, nanti dia dipukul lagi sama orang lain”

Saya sangat terharu sekaligus bangga. Tidak sia-sia saya selalu mengatakannya untuk selalu mengalah, jangan menyakiti teman dan selalu berbagi bekal dan apapun yang Aryo punya.

Menjalani satu tahun di TK A, walau banyak riak-riak kecil tetapi Aryo mampu melewatinya dengan baik dan tanpa ada cerita yang buruk dari gurunya.

Saya bersyukur Aryo naik kelas B. Dan  kali ini semua temannya ada beberapa yang baru dan ada juga teman-teman lamanya sewaktu Aryo di kelas A.

Mulai dari sini saya banyak meringis dan mengurut dada.

Cerita Aryo sering dipukul temannya atau terjatuh karena didorong temannya sepertinya sudah sangat biasa saya dengar setiap hari. Saat itu saya berpikir bahwa biasa anak laki-laki  bermain lari-lari atau pura-pura berkelahi dan tak sengaja terpukul atau terdorong. Hal yang wajar kan?…..

Tetapi, suatu siang Aryo pulang dengan wajah sedih. Saya lihat di tangan kanannya dekat jari tengah ada luka yang masih basah. Rupanya dia terjatuh dan ketika terjatuh menahan badan, tangannya tergores dan luka cukup besar.

Lain hari Aryo bercerita bahwa dia bermain gelantungan lalu terjatuh dan dadanya terkenal besi injakan. Waduh, deg-degan saya mendengarnya.

Saya tanya,”mas Aryo menangis ?”

“iya bunda”

“kenapa menangis?”

“sakit bunda. Tetapi teman-teman mas Aryo ngetawain mas Aryo pas jatuh”

Saya tak berani menatap wajahnya. Saya periksa dadanya, ada sedikit memar di dada kanannya. Alhamdulilah ketika saya tanya apa ada yang sakit, Aryo mengatakan tidak ada.

Sambil manahan kesal dan sedih saya mengolesi memar itu dengan minyak tawon.

Bagaimana mungkin gurunya di sekolah tidak menelepon saya hanya untuk sekedar memberitahukan kejadiannya atau mengatakan Aryo terjatuh dan dadanya terbentur besi.

Saya mengurut dada ini dengan sedih. Semoga tidak ada luka yang serius, itu doa yang  saya ucapkan dalam hati ketika membayangkan kejadiannya.

Perlahan, saya perhatikan ada satu perubahan pada diri Aryo.

Dia menjadi sangat mudah marah dan kadang-kadang melampiaskan kemarahannya pada adiknya.

Aryo yang baiasanya cuek dengan omongan orang lain sekarang menjadi sangat perasa. Apalagi jika saya dan ayahnya menertawakan kelucuan Aryo dan adiknya ketika bermain, Aryo berteriak sambil menangis,”mas Aryo tidak mau di tertawakan”

Dan Aryo menjadi anak yang peragu dan pemalu jika berhadapan dengan orang lain atau bicara dengan orang lain.

Bukan lagi Aryo yang percaya diri, berani, mandiri dan ingin melakukan semua yang dia mau sesuai dengan pilihannya.

Jika ditanya apa yang dia mau, jawabnya hanya singkat,”terserah bunda”

Tahun kedua di TK menjadi saat yang tidak menyenangkan bagi saya. Banyak perang batin yang saya rasakan.

Ada lagi satu cerita tentang hidup yang saya dengar dari aryo. Salah seorang teman satu jemputan yang sama-sama kelas B mengomentari rumah kami.

Aryo mengatakan,”bunda, kata temennya mas aryo, rumah mas Aryo jelek dan hanya tingkat 1. padahal dia enggak tahu ya bunda, rumah kita kan tingkat 2 ya”

Saya mengangguk dan hanya mengatakan,”tidak usah dimasukkan ke dalam hati ya.”

Bahkan ketika aryo bercerita,”bunda, mas Aryo dibilangin Aryo miskin sama temen satu kelas”…saya hanya mengangguk-angguk, menanggapinya dengan biasa supaya Aryo tidak memikirkan itu dengan serius.

Wah, wah, anak zaman sekarang sering membuat saya geleng-geleng kepala. Anak sekecil itu sudah berani mengatai temannya dengan kata miskin atau kaya, atau rumahnya bagus, atau rumahnya jelek.

Untuk itulah saat ini saya dan suami memutuskan untuk memilih home schooling bagi Aryo, walau ternyata ini juga bukan hal yang mudah. Ada banyak rintangan dan hambatan yang menghadang saya dan suami dalam mengembalikan kepercayaan diri Aryo juga mengajarkan kembali nilai-nilai yang baik untuknya.

Suatu awal yang tidak mudah bagi saya.

  

Categories: Aryo

miskin atau kaya?

Tuesday, 18 December 2007 leunca Leave a comment

Suatu hari Aryo pernah bertanya pada saya tentang miskin atau kaya.

“bunda, apakah kita miskin?” Aryo bertanya dengan suara yang ragu-ragu.

Ketika itu saya agak bingung menjawabnya. Bingung karena sesungguhnya saya tak ingin Aryo, de Bagus dan Gilang mempunyai pandangan yang ekstrim tentang miskin dan kaya. Dan bahwa orang kaya dan orang miskin itu berbeda.

Tetapi, akhirnya saya mencoba menjawabnya dengan bijak, walau ada tanda tanya besar juga. Kenapa tiba-tiba Aryo bertanya apakah kami ini miskin atau kaya?…………….aneh.

“Untuk bunda, saat ini bunda merasa kaya. Karena bunda mempunyai tiga anak laki-laki yang hebat, ayah yang hebat dan pemimpin yang hebat, kita mempunyai rumah dan kita masih bisa makan nasi.”……..agak ragu sebenarnya saya mengatakan ini, khawatir salah ditanggapi oleh Aryo.

Dan aryo menyambung jawaban saya dengan kata-kata yang sangat bijak dan membuat saya terharu.

“Dan mas Aryo juga mempunyai 2 adik ya, jadi mas Aryo juga kaya”

Malamnya saya berbagi cerita ini dengan suami. Mata suami saya langsung berkaca-kaca. Ikut terharu.

Mendengarnya bicara seperti itu, ada rasa bangga. Mungkin selama ini ada juga nasihat saya yang bisa dimengerti Aryo.

Mudah-mudahan Aryo bisa tumbuh menjadi anak yang soleh, doa saya setiap habis sholat dan ketika saya membelai rambutnya di kala dia tertidur pulas.

Bahkan ketika suatu siang sepulang Aryo dari sekolah, dengan suara pelan dan terdengar sedih, dia bercerita pada saya.

“bunda, kata teman di jemputannya Aryo, rumah mas aryo kecil dan enggak tingkat dua. Padahal dia enggak tahu ya Bunda, rumah kita kan tingkat dua ya?” wajahnya kelihatan agak murung.

Walau agak sedih saya mendengarnya tetapi saya memaklumi bahwa itu hal yang wajar bagi anak-anak untuk menilai sesuatu sesuai dengan kaca mata anak-anak.

Apalagi teman jemputan yang setiap hari melihat rumah kami dan mungkin melihat perbedaan yang mencolok diantara rumah teman-temannya yang lain.

Wajarlah. Jangankan anak-anak, orang tua juga suka menilai apa saja selain rumah, apalagi kalau ada ibu yang “nyinyir”…wah bikin kuping panas dengarnya.  

Bagi saya itu adalah penilaian anak sekolah yang masih duduk di tk b yang sangat polos. Saya tidak bisa menyalahkan sepenuhnya.

Adalah suatu kewajaran saat ini, anak-anak membicarakan kaya atau miskin, dan menilainya dengan standar materi yaitu uang.

Dari dulu memang sudah biasa tetapi tidak sevulgar sekarang, saya rasa.

Saya jadi ingat, sudah agak sering saya mendengar kata-kata miskin dari bibir Aryo.

Ada juga kesedihannya yang sepertinya dia pendam dalam hati. Suatu malam, sebelum kami tidur biasanya kami saling bercerita, entah saya meminta Aryo bercerita tentang sekolahnya atau saya berbagi cerita tentang de Bagus atau Gilang.

Saat itu Aryo mengatakan kata miskin lagi.

“bunda, kata temen, Aryo miskin”

“kenapa?”

“karena mas Aryo ga punya mobil”….

Ah, saya jadi mengerti. Memang di sekolahnya itu rata-rata teman-temannya banyak diantar oleh ibunya dengan mobil.

wah, wah, lama-lama kuping ini bisa kebal dengan kata miskin apalagi sampai komentar  kami miskin.

Tetapi saya lebih banyak senyum menanggapinya.

Tetapi saya agak sedih mengingat Aryo.

Jika saya dikatakan orang miskin, saya tidak akan peduli tetapi jika Aryo dikatakan oleh temannya “orang miskin”……..saya berharap dia tidak ambil pusing.

Pada saat itu dia masih duduk di bangku tk b dan masih dalam proses melihat banyak, mendengar banyak hal, masih berkembang pola pikirnya dan bertambah terus kepintarannya. Jadinya saya agak khawatir dengan semua yang pernah dikatakan teman-temannya pada Aryo.

Tetapi saya selalu berdoa banyak-banyak dan mencoba membesarkan hatinya juga mengajarkan untuk tidak terlalu memikirkan pendapat orang selama kita benar dan jujur. Itu saja.

Ketika saya cerita pada suami saya, suami mengatakan bahwa itulah yang disebut dengan pelecehan anak-anak dan saat ini sudah menghawatirkan. Akibat dari pelecehan ini bisa menyebabkan anak menjadi tidak percaya diri, pemurung dan strees.

Wah wah, saya mengurut dada mendengarnya. Mudah-mudahan Aryo tidak menjadi seperti itu.

     

Categories: Aryo

si Murah Senyum DeBagus 2

Tuesday, 18 December 2007 leunca Leave a comment

Setelah sang adik lahir, kelihatannya de Bagus mulai mengerti banyak hal. Sepertinya perlahan pikirannya mulai terbuka.

Dia mengerti telah memiliki adik kecil.

Dia mengerti adiknya ini sakit.

Dia mengerti jika adiknya bobo tidak boleh ribut.

Dia banyak membantu dan menemani saya ketika semalaman saya harus terjaga untuk mengurus adik bayinya.

Biarpun saat itu saya mengalami kesulitan berkomunikasi tetapi dia sepertinya tahu apa yang saya maksudkan. Saya percaya ikatan bathin antara saya dan dia cukup erat.

Ketika saya menangis setelah sholat, dia langsung memeluk saya.

Jika saya memandangnya, dia akan tersenyum lebar dan matanya juga tertawa, indah sekali.

Karena wajahnya banyak menyimpan keramahan anak kecil.

Karena dia belum bisa bicara dengan jelas atau menjawab jika ditanya orang lain, dia selalu membalasnya dengan senyum.

Pernah satu kali saya jalan berdua dengannya naik angkot, di dalam angkot salah seorang penumpang yaitu seorang ibu, tertarik mengajaknya bicara. Ketika ditanya oleh ibu itu de Bagus menjawabnya dengan senyum sambil menggoyang-goyangkan tangannya seperti mengatakan tidak. Dan senyum tak pernah lepas dari bibirnya.

Dia menyadari kekurangannya dan dia mencoba menutupinya dengan tersenyum.

Bahkan ada ibu tua yang bekerja sebagai pembantu di sebelah rumah saya, setiap melihat de Bagus selalu memanggilnya.

“kalau ketemu senyum aja ya, murah senyum nih” kata ibu tua itu sambil memanggil nama de Bagus.

De Bagus membalasnya dengan tertawa lalu melambaikan tangan.

Kini, usianya sudah 4 tahun, 31 agustus lalu dia berulang tahun yang keempat. Saya, ayahnya, kakak dan adik kecilnya merayakan bersama-sama dengan tiup lilin dan makan ice cream coklat kesukaannya.

Mendekati umur 4 tahun perkembangannya melejit bak meteor. Dia pandai berteman dengan anak yang seumur dengannya. Meniru apa yang kakaknya lakukan. Mulai pandai mewarnai walau masih suka-sukanya dia. Menyusun lego menjadi bentuk yang sangat bagus, membuat robot atau pesawat atau tembakan. Kreatif dan sering berlakon seperti apa yang pernah dia lihat di tv….ciat ciat ciat, berlaga seperti jagoan ultraman.

Mulai bisa menyusun 2 atau lebih kata menjadi kalimat yang tadinya hanya bisa 2 kata saja. Berhenti menghisap jempol dan tidak lagi marah-marah dengan membenturkan kepala. De Bagus menjadi anak pintar yang banyak senyum, seperti ayahnya.

Kini dia menginginkan bersekolah seperti temannya yang di tinggal di sebelah rumah kami. Atau ikut ke rumah sakit mengantar adiknya kontrol. Mengajak adiknya bermain dan menghiburnya ketika menangis dengan berjoget-joget di depan kereta adiknya. Lucu sekali.

Idris Bagus Wicaksono, nama si murah senyum ini memiliki arti, ‘semoga bisa seperti nabi Idris yang pintar, bijaksana dan memiliki sifat-sifat yang bagus, baik’. Amin…..sesuai dengan doa ayah dan bundanya.

Kini, karena de Bagus sedang nakal-nakalnya anak laki-laki, jika sulit di kasih tahu bundanya, saya menghukumnya dengan memberinya cabe rawit. Dia sangat ketakutan jika saya tunjukkan cabe rawit di depan matanya. Karena  de Bagus pernah makan cabe rawit dan bibirnya merah karena kepedasan.

“panas…pedas, bunda”

Yaaaa, namanya juga anak-anak ya…….

Yaaaaa, namanya juga ibu-ibu ya………

Categories: Bagus

si Murah Senyum DeBagus

Tuesday, 18 December 2007 leunca Leave a comment

Bagus si banyak senyum atau saya biasa memanggilnya de Bagus.

Putra kedua yang memiliki nama lengkap Idris Bagus Wicaksono.

Diantara kakak dan adiknya, de Bagus ini lebih mudah dikenali orang karena banyak senyum pada siapa saja yang dia temui dan mudah dekat atau bergaul dengan siapa saja, bahkan tukang sayur dan tukang tahu langganan saya yang biasa lewat di depan rumah.

Ada satu cerita yang membuat saya miris dan menjadi satu ketakutan saya.

Sekitar 3 tahun lalu, tepatnya bulan Agustus 2004, sekitar sepuluh hari menjelang ulang tahunnya yang ke satu. Saat itu de Bagus sedang belajar merangkak di lantai dan kakaknya tanpa sengaja mendorongnya hingga kepala bagian belakang membentur lantai.

Saat terjatuh dia menangis keras.  Dengan cepat suami saya menggendongnya.

Tetapi tiba-tiba suami saya kelihatan panik. De Bagus berhenti menangis dan terkulai lemas dalam gendongan ayahnya.

“bunda, kenapa de Bagus?” kata suami saya setengah teriak sambil menyerahkan de Bagus pada saya dan menyuruh saya menggendongnya.

Saya juga tidak tahu dan tidak mengerti. Kelihatannya de  Bagus seperti tak sadarkan diri dan ketika saya memeluknya, badannya terasa dingin.

Entah pingsan atau apa, saya tidak mengerti. Saya tepuk-tepuk pipinya, berharap dia membuka matanya atau memberikan reaksi, menangis atau menjerit.

Agak panik saya mengendongnya sambil bertakbir, “Allahu Akbar….Allahu Akbar……” ucap saya terus menerus sambil mengayunnya dalam gendongan saya.

Saya menangis dalam hati. Perasaan saya saat itu sempat galau. Tetapi saya terus berdzikir dalam hati dan berdoa, meminta pada Allah SWT semoga tidak terjadi apa-apa pada de Bagus.

Dalam keadaan panik, lalu saya menelepon kakak dan meminta saran.

Atas permintaan kakak, saya dan suami membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa Dokter dan kemungkinan kepalanya di rongen. Malam itu juga, sekitar jam 7 malam, saya dan suami membawa de Bagus ke RS Azra Bogor.

Perasaan saya sepanjang jalan berkecamuk. Sempat terlintas hal yang buruk tetapi suami saya menyadarkan untuk ber-positif thinking dan banyak berdoa.

“bunda jangan berpikir yang tidak-tidak, berdoa yang banyak. Doa bunda pasti di dengar Allah” begitu kata suami sambil mengusap pundak saya.

Saya berdoa dalam hati, memohon agar de Bagus sehat-sehat dan tidak ada apa-apa.

Di tengah jalan, tiba-tiba de Bagus membuka matanya, seperti terbangun. Lalu saya mimikan dan alhamdulilah dia mimi dengan lahapnya seperti biasa. Lega melihatnya seperti itu. Tetapi saya tetap merasa sedikit khawatir.

Setelah diperiksa dokter dan kepalanya di rongen, Alhamdulillah kata Dokter, de Bagus tidak apa-apa. Buktinya, ketika hendak diperiksa oleh dokter, dia menangis karena kaget bajunya dibuka oleh dokter. Dan jika dalam 2×24 jam de Bagus tidak muntah-muntah, Insyaallah artinya dia baik-baik saja.

Setiap waktu, satu tahun berlalu, dua tahun berlalu hingga hari ini, de Bagus tumbuh baik dan badannya bisa dikatakan gemuk. Namun ada satu kebiasaan jeleknya, de Bagus ini jika marah atau menginginkan sesuatu lalu saya tidak menurutinya, dia akan marah sambil membenturkan kepala ke lantai atau tembok.

Dan, jika mau tidur dia pasti menghisap jempol atau jika dia diam lalu merasa tidak nyaman, otomatis jempol langsung masuk dalam mulutnya. Kebiasaan ini yang membuat dia menjadi sering sakit.

Bertambahnya umur, kepintarannya bisa dikatakan bertambah tetapi agak lambat. Bicaranya kurang jelas, kosa katanya sedikit bertambah dan jika saya mengajarkan atau menyuruhnya melakukan hal-hal sederhana kelihatannya dia tidak tahu dan tidak mengerti apa yang saya maksud.

Sempat ada rasa takut tetapi saya berpikir positif terus. Setiap anak tidak sama perkembangannya, itu yang selalu saya katakan pada diri saya sendiri untuk menenangkan diri.

Dengan ekstra sabar dan hati-hati saya memperlakukan de Bagus ini. Cenderung membiarkan dia melakukan apapun yang dia mau selama itu tidak membahayakan, khawatir dia marah lalu membenturkan kepala, takut sekali.

Dalam setiap habis sholat dan setiap waktu saya selalu berdoa dan meminta pada Allah SWT semoga de Bagus bisa tumbuh normal. Apalagi ketika saya hamil lagi dan suami sedang bertugas di luar kota untuk waktu yang cukup lama.

Categories: Bagus

Gilang…..Gilang

Tuesday, 18 December 2007 leunca 1 comment

Sekarang Gilang sering membuat saya khawatir dan membuat jantung saya berdebar lebih keras. Bagaimana tidak, walau badannya kecil tetapi Gilang tak kalah lincah dengan teman sebayanya.

Lari kesana kemari, naik kursi lalu berdiri di atas kursi dan ga lama turun dari kursi. Kalau mas-masnya lari-lari bercanda, Gilang juga tidak mau kalah. Ikut lari dan bergaya….kalau sudah melihat ini, saya sebisa mungkin konsentrasi memperhatikannya. Bukan mengistimewakan Gilang tetapi lebih pada menjaga extra lebih karena Gilang kalau sudah cape sering jatuh dan jalannya menjadi kurang hati-hati.

Gilang memang anak yang memiliki kemauan yang keras, percis seperti ayah dan bundanya….he he he, akhirnya saya mengakui ini…..dan karena kemauannya ini Gilang sering berteriak atau marah ketika saya tidak mengijinkan atau membolehkan apa yang Gilang minta.

Kalau sudah begini, saya biasanya memeluknya lalu menjelaskan kenapa saya melarangnya.

“Gilang belum saatnya main ini” atau “Bunda ga mau ah Gilang main ini”…..atau,”De, jangan terlalu cape ya, jangan lari-lari aja, duduk sini sama bunda, sini bunda peluk”…..

Biasanya Gilang mendekat atau diam tanda mengerti. Tetapi tak jarang Gilang malah menangis sambil duduk di lantai dan kepalanya menunduk dalam-dalam.

Aduh, saya melihatnya trenyuh dan menjadi iba.

Kalau sudah begini kadang saya menjadi kalah dan menyerah mengikuti kemauannya tetapi ayahnya selalu mengingatkan saya,

“Bunda jangan memanjakan Gilang dan mengikuti semua kemauannya. Gilang juga harus belajar untuk dilarang jika ada yang membahayakannya”….

Aduh……..kalau sudah ingat ini saya berusaha mungkin mengingatnya dan mengikutinya.

Walau kadang saya lebih banyak kasihannya jadinya seperti memanjakan Gilang dengan memberikan semua yang dia minta. Padahal ini sebenarnya tidak baik.

Saat ini saja Gilang tidur hanya 1 kali, pagi atau siang. Lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain, berlari dan teriak-teriak, rebutan maianan dengan de Bagus. Kalau saya ajak tidur, “Ga mau. Ga mau”…..Gilang sudah bisa mengatakan ini.

Kadang saya membiarkan Gilang terus bermain sampai dia sendiri yang menarik tangan saya masuk ke kamar tidur.

Tetapi tak jarang juga, akhirnya, saya sedikit memaksanya.

Kalau Gilang benar-benar tidak mau tidur, apalagi mendengar mas-masnya ribut bermain di luar kamar, dia akan menangis keras dan memaksa turun dari tempat tidur.

Tetapi kalau Gilang sudah mengantuk tetapi lebih suka bermain, ketika saya menidurkannya di tempat tidur, dimimikan sebentar lalu pantatnya ditepuk-tepuk…..blep..Gilang tertidur dengan pulas sambil memeluk gulingnya.

Kalau sudah lelap, biarpun Aryo dan Bagus teriak atau berantem, Gilang tidak akan terbangun. Gilang akan tertidur pulas dan kalau cukup tidurnya, ketika bangun Gilang akan tersenyum lalu bangun dari tidurnya tanpa menangis.

Dan bisa bermain dengan riang gembira lagi.

Ah Gilang……oh Gilang…..

 

Categories: Gilang

belajar-nya Aryo

Monday, 17 December 2007 leunca Leave a comment

Ada banyak ganjalan dalam pikiran saya ketika mbah putri-nya Aryo datang berkunjung ke rumah….saya deg-degan. Kenapa?……karena,

Aryo satu-satunya cucu yang home schooling atau belajar di rumah dan satu-satunya cucu yang “lincah” sangat lincah dibanding cucu-cucu yang lain.

Kerjaannya kalau om atau tantenya datang pasti mengajak mereka main, entah main sepeda di luar, main catur, main basket di lapangan atau bola sepak, atau hanya sekedar berantem-berantem saja….yaaa, namanya juga anak-anak ya…..

Tetapi yang bikin saya kebat kabit, yaaaa…..kalau mbah putrinya bertanya,”sudah bisa…?”….saya takut banget dan pikiran saya seperti buntu.

Gimana ya jawabnya?….

Kadang dengan suami juga sering ditanya,”Aryo sudah bisa apa, bunda?”

Wah….tulalit tulalit….stress deh.

Bagaimana menjelaskan pada orang yang tidak terlibat langsung atau mengetahui langsung proses belajar Aryo yang memang “rada aneh”…..menjelaskannya agak sulit bagi saya.

Proses atau hasil akhir yang ditanya?…..jawabannya akan berbeda.

Kalau saya katakan baik-baik saja dan Aryo bisa belajar banyak, apa ukurannya?….kadang orang lebih banyak melihat hasil akhir saja kan?…..

Sementara menurut saya home schooling ini adalah suatu proses dengan hasil akhirnya yang bisa dilihat setelah Aryo dewasa nanti.

Apakah dia bisa fight menghadapi persoalan atau suatu masalah?

Apakah dia bisa inovatif dan kreatif?

Apakah dia bisa memaksimalkan kemampuannya semaksimal mungkin dan memanfaatkan kekurangan menjadi kelebihannya?

Apakah dia bisa mensyukuri apa yang dia punya dengan memanfaatkan untuk kebaikannya dan juga untuk banyak orang alias tidak egois dan mau berbagi?

Apakah dia bisa menemukan jati dirinya dengan baik?

Apakah dia bisa menemukan bakatnya dan fokus lalu mengembangkan bakatnya dan menjadi “orang hebat”?

Selalu banyak pertanyaan dan banyak pikiran yang berkecamuk in my brain.

Beneran deh, untuk home schooling ini saya juga belajar dan sedang berproses mencari apa sih sebenarnya motivasi saya, motivasi Aryo dan apakah ini memang cocok untuk Aryo juga saya?…..

Terlalu banyak yang harus saya jawab dan …..sampai saat ini saya sendiri belum yakin mengingat Aryo berubah-ubah terus setiap hari.

Kadang semangat untuk belajar atau mencoba sesuatu, kadang lebih semangat main game di komputer atau main lego, kadang semangat hanya duduk-duduk ngobrol dengan saya.

Membuat saya tidak tahu dan kadang tidak yakin.

Tetapi, saya belajar untuk let it flow saja.

Jika Aryo bertanya sesuatu pada saya, biasanya saya mengajaknya mencari di Internet lalu baca bareng-bareng dan ngobrolin itu….sambil menunggu komentar Aryo tentang apa yang dia tanya sebelumnya.

Jika dia bisa mengomentari walau kadang dengan kalimat yang tidak pas, saya akan menganggap Aryo sudah mendapatkan apa yang ingin dia ketahui.

Misal, Aryo pernah bertanya tentang petir. Lalu saya ajak mengunjungi wikipedia lalu baca barenag-bareng dan ngobrol ngolor ngidul tentang petir ini.

“kalau ada petir, kata bunda jangan dekat jendela kan?”….

Ya, saya jawab sebisanya saya,”soalnya petir bisa merambat lewat kaca jendela dan jika kita kena petir ini seperti kesetrum.”

Lalu Aryo minta dicarikan kaca, eh penjelasan tentang petir yang merambat lewat kaca ini kurang lengkap. Yaaaa….saya akhirnya menjelaskan kita bisa membaca di buku fisika untuk SMP atau SMA.

Oh, Aryo ngangguk-angguk.”ini pelajaran untuk SMA ya bunda?”….

Kalau sudah begitu biasanya berarti Aryo menggantungkan pertanyaan dan saya lain waktu harus siap ditanya lagi.

Itulah Aryo. Banyak pertanyaan yang tidak terduga.

dan menurut saya inilah enaknya home schooling, ilmu dan pengetahuan seolah tak terbatas, bahkan untuk anak berumur 6 tahun, petir, arah mata angin, angin puting beliung bisa menjadi pengetahuan yang berharga………bener kan?…

Categories: Aryo