Cerita masa lalu Aryo
Saya mempunyai pengalaman yang kurang mengenakan ketika Aryo bersekolah di sebuah Taman Kanak Kanak sawsta yang cukup terkenal.
Awal saya memilih menyekolahkan Aryo di TK tersebut karena setelah saya melakukan survey ke beberapa TK yang ada di dekat tempat tinggal saya akhirnya pilihan saya jatuh pada TK ini yang bisa dikatakan sekolah mahal.
Saya memilih bukan karena gengsi tetapi karena saya jatuh cinta begitu melihat halaman bermain yang luas dengan permainan-permainan yang banyak dan saya yakin Aryo akan bisa sepuasnya bermain. Dan yang kedua, saya sempat berbincang dengan salah satu guru pengajar di TK itu, dan lagi-lagi saya jatuh cinta pada metode belajarnya yang lebih memperbanyak waktu untuk bermain dari pada belajar baca, tulis dan berhitung.
Hemat saya sih, toh sewaktu saya TK dulu juga lebih banyak bermain dari pada belajarnya. Belajar baca, hitung dan menulis baru saya dapatkan ketika masuk SD. Dan Alhamdulilah saya bisa masuk SMP dan SMA negeri dan tidak bodoh.
Awal masuk sekolah saya sangat bersyukur karena Aryo termasuk anak yang bisa dikatakan mandiri.
Hanya 2 hari Aryo ditemani berangkat sekolah dengan jemputan dan walau masih menguntit sambil memegangi baju ibu gurunya, Aryo termasuk tidak rewel.
Minggu kedua sekolah dia sudah bisa dilepas sendiri. Saya melihat Aryo sangat percaya diri dan gembira ketika jemputan sekolah datang menjemputnya sekitar jam 6.30 pagi. Selalu ada senyum di wajahnya.
Walau lelah karena jam sekolahnya panjang, dari jam 7.30 pagi sampai 11.30 siang, tetapi saya melihat Aryo sangat menikmati masa dia bersekolah. Selalu ada cerita yang dia bagi pada saya, bundanya.
Sebelum tidur Aryo akan bercerita tentang lagu baru yang telah diajarkan oleh gurunya atau hapalan doa dan surat-surat pendek yang selalu di bacanya setiap pagi sebelum masuk kelas atau pada saat berbaris di depan kelas.
Suaranya terdengar riang dan Aryo selalu mengatakan, “bunda bangunkan mas Aryo jam 5 ya supaya mas Aryo tidak kesiangan di jemput”.
Ah, betapa semangatnya dia memulai hari-hari sekolah.
Satu bulan berlalu, dua bulan berlalu, rasanya hari berjalan sangat cepat. Dan Aryo tumbuh menjadi anak laki-laki yang percaya diri.
Tetapi, masuk semester kedua di TK A, Aryo mebuat saya berlinang air mata untuk pertama kalinya.
Dia dengan sedih bercerita bahwa ada beberapa temannya yang tidak mau bermain dengannya. Dan lain waktu dia bercerita lagi, ada salah satu temannya yang sering iseng memukulnya, kadang mendorongnya sampai terjatuh atau menertawakan karena bajunya yang berbeda dengan teman-temannya.
Awalnya saya biasa saja mendengarnya. Tetapi lama kelamaan saya menjadi sedih.
Walau sedih saya selalu menghiburnya dengan mengatakan, “sabar ya mas. Jangan di balas. Kalau mas Aryo tidak balas memukul Allah sangat saya sama mas Aryo”
Aryo mengiyakan dan dengan pelan dia mengatakan,”biar aja Allah yang balas ya bunda, nanti dia dipukul lagi sama orang lain”
Saya sangat terharu sekaligus bangga. Tidak sia-sia saya selalu mengatakannya untuk selalu mengalah, jangan menyakiti teman dan selalu berbagi bekal dan apapun yang Aryo punya.
Menjalani satu tahun di TK A, walau banyak riak-riak kecil tetapi Aryo mampu melewatinya dengan baik dan tanpa ada cerita yang buruk dari gurunya.
Saya bersyukur Aryo naik kelas B. Dan kali ini semua temannya ada beberapa yang baru dan ada juga teman-teman lamanya sewaktu Aryo di kelas A.
Mulai dari sini saya banyak meringis dan mengurut dada.
Cerita Aryo sering dipukul temannya atau terjatuh karena didorong temannya sepertinya sudah sangat biasa saya dengar setiap hari. Saat itu saya berpikir bahwa biasa anak laki-laki bermain lari-lari atau pura-pura berkelahi dan tak sengaja terpukul atau terdorong. Hal yang wajar kan?…..
Tetapi, suatu siang Aryo pulang dengan wajah sedih. Saya lihat di tangan kanannya dekat jari tengah ada luka yang masih basah. Rupanya dia terjatuh dan ketika terjatuh menahan badan, tangannya tergores dan luka cukup besar.
Lain hari Aryo bercerita bahwa dia bermain gelantungan lalu terjatuh dan dadanya terkenal besi injakan. Waduh, deg-degan saya mendengarnya.
Saya tanya,”mas Aryo menangis ?”
“iya bunda”
“kenapa menangis?”
“sakit bunda. Tetapi teman-teman mas Aryo ngetawain mas Aryo pas jatuh”
Saya tak berani menatap wajahnya. Saya periksa dadanya, ada sedikit memar di dada kanannya. Alhamdulilah ketika saya tanya apa ada yang sakit, Aryo mengatakan tidak ada.
Sambil manahan kesal dan sedih saya mengolesi memar itu dengan minyak tawon.
Bagaimana mungkin gurunya di sekolah tidak menelepon saya hanya untuk sekedar memberitahukan kejadiannya atau mengatakan Aryo terjatuh dan dadanya terbentur besi.
Saya mengurut dada ini dengan sedih. Semoga tidak ada luka yang serius, itu doa yang saya ucapkan dalam hati ketika membayangkan kejadiannya.
Perlahan, saya perhatikan ada satu perubahan pada diri Aryo.
Dia menjadi sangat mudah marah dan kadang-kadang melampiaskan kemarahannya pada adiknya.
Aryo yang baiasanya cuek dengan omongan orang lain sekarang menjadi sangat perasa. Apalagi jika saya dan ayahnya menertawakan kelucuan Aryo dan adiknya ketika bermain, Aryo berteriak sambil menangis,”mas Aryo tidak mau di tertawakan”
Dan Aryo menjadi anak yang peragu dan pemalu jika berhadapan dengan orang lain atau bicara dengan orang lain.
Bukan lagi Aryo yang percaya diri, berani, mandiri dan ingin melakukan semua yang dia mau sesuai dengan pilihannya.
Jika ditanya apa yang dia mau, jawabnya hanya singkat,”terserah bunda”
Tahun kedua di TK menjadi saat yang tidak menyenangkan bagi saya. Banyak perang batin yang saya rasakan.
Ada lagi satu cerita tentang hidup yang saya dengar dari aryo. Salah seorang teman satu jemputan yang sama-sama kelas B mengomentari rumah kami.
Aryo mengatakan,”bunda, kata temennya mas aryo, rumah mas Aryo jelek dan hanya tingkat 1. padahal dia enggak tahu ya bunda, rumah kita kan tingkat 2 ya”
Saya mengangguk dan hanya mengatakan,”tidak usah dimasukkan ke dalam hati ya.”
Bahkan ketika aryo bercerita,”bunda, mas Aryo dibilangin Aryo miskin sama temen satu kelas”…saya hanya mengangguk-angguk, menanggapinya dengan biasa supaya Aryo tidak memikirkan itu dengan serius.
Wah, wah, anak zaman sekarang sering membuat saya geleng-geleng kepala. Anak sekecil itu sudah berani mengatai temannya dengan kata miskin atau kaya, atau rumahnya bagus, atau rumahnya jelek.
Untuk itulah saat ini saya dan suami memutuskan untuk memilih home schooling bagi Aryo, walau ternyata ini juga bukan hal yang mudah. Ada banyak rintangan dan hambatan yang menghadang saya dan suami dalam mengembalikan kepercayaan diri Aryo juga mengajarkan kembali nilai-nilai yang baik untuknya.
Suatu awal yang tidak mudah bagi saya.