Home > Curcur > bunda memaafkan ayah

bunda memaafkan ayah

Friday, 10 August 2007 leunca Leave a comment Go to comments

Ada saat dimana kita merasa marah dan sangat sangat kesal pada pasangan atau orang yang kita sayangi. Tak jarang pada saat amarah mengusai pikiran dan nalar kita, rasanya cinta yang kita punya tak cukup untuk meredamnya. Yang ada hanya perasaan kita dan harga diri kita yang terkoyak. Percayalah, mungkin saat itu kita merasa menjadi orang yang paling menderita dan menjadi orang yang teraniaya……wuih

Padahal, jika kita merunut ke belakang, pada masa lalu disaat kita tertawa bersama, bercanda, seolah kita menjadi soulmate atau memiliki chemical yang sama, perbedaan menjadi indah dan semua pertentangan itu rasanya mustahil.

Tetapi, ketika salah satu pasangan merasa lelah untuk belajar mengerti, belum lagi masalah demi masalah yang ada membuat masing-masing berada dalam kutub yang berbeda…….apalagi yang dipikirkan, betapa egoisnya dia atau mengapa sulit untuk mengerti keinginannya atau apakah sulit untuk bisa mengerti keinginanku…….wah, wah, perang batin dimulai.

Itupun terjadi pada saya.

Bukan hal yang mudah untuk mengerti dia. Awal-awal perkawinan, saya sering menangis sendirian, bingung, cape untuk mendengar semua kata-katanya dan ingin berhenti untuk ada di sisinya……dan saya bisa menangis sejadi-jadinya……..hu hu hu……dan saya akan teringat pada alm bapak yang selalu bisa mengerti saya dan apa keinginan saya.

Itu dulu, disaat saya mencari tempat berpijak di hatinya.

Di saat masih ada satu dua keraguan akan cintanya.

Apakah dia benar-benar mencintai saya seutuhnya dan rela berkorban untuk saya?

masihkah dia menyimpan masa lalu hatinya untuk seseorang yang saya tidak tahu, dan saya harus bersaing atau berjuang menggesernya hingga hanya saya yang ada dalam hatinya dan hatinya hanyalah milik saya seorang.

Menekan perasaan diri sendiri dengan mencoba mencerna kata-katanya yang sedikit, mengikuti semua keinginannya walau kadang menerka-nerka, berjuang meraih hatinya dengan tidak mengeluh, belajar menyayangi orang-orang yang dia sayangi, menjaga hatinya dengan tidak mengatakan tidak, dan berusaha selalu ada di sisinya disaat dia lemah, sedih atau tak berdaya.

Perjalanan saya memang tak berujung untuk menelusuri hatinya. Walau lelah, kadang ingin dimanja, berharap dia lebih lembut, saya berusaha menjalani alur yang sudah dibuat oleh-Nya untukku dengan sabar dan doa.

Akhirnya, setelah saya menjalani pernikahan ini dengan 3 putra, rasanya saya harus bersyukur dan patut berbahagia.

Walau jalan panjang itu belum tentu mulus tetapi saya ingin berkeyakinan bahwa saya masih bisa bersandar pada dia, menggenggam tangannya dan merebahkan diri ini di pundaknya jika saya merasa sangat sangat…. lelah.

Mengikuti langkahnya kemana akan membawa saya dan keluarga kecil ini berjalan, karena dia adalah imam saya dan imam anak-anak saya.

Saya selalu ingat saat kami tertawa bersama, menertawakan kebodohanku yang kadang muncul, dan bersedih dengan berdiam diri. Atau saat kami saling ledek, kami bisa saling menertawakan.

Di hadapannya saya bisa menjadi apa saja. Saya yang bodoh, saya yang sok tahu, saya yang sok pintar atau saya yang sok cantik….apapun diri saya, itulah saya apa adanya di depannya. Saya ingin bisa membuatnya tertawa bahkan jika perlu saya menjadi pelawak untuknya. Saya rela tapi tak jarang gagal dan gagal terus untuk membuat senyumnya lebar.

Semoga Sang Khalik selalu bermurah hati pada dia. Memberikan kemudahan, rezeki, umur panjang, dan karier yang baik. Selalu menjaga dan melindunginya karena dia tak pernah berhenti menjaga aryo, bagus, gilang, buah hati kami, dan saya.

Semua ini untuk suamiku tercinta.

Rasa memaafkan saya yang tak ada batas untuknya, ketika dia tak sengaja menyakiti saya atau ketika dia tak sadar mengabaikan saya. Saya ingin memaafkan dia, selamanya dan selalu.

I love you so much

Categories: Curcur
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.