Archive

Archive for August, 2007

berubah yuk!

Friday, 10 August 2007 leunca Leave a comment

Change atau Berubah…. Kata kata ini pernah aku dengar ketika menemani anakku nonton film jagoan dari jepang, semacam film power ranger dan ultraman tetapi aku lupa judulnya. Dalam film itu sang jagoan meneriakkan kata….”berubah”…dan tak lama sang jagoan berubah mnjadi lebih besar ukurannya atau menjadi super kuat atau sakti mandraguna dan dapat mengalahkan musuh-musuh yang jumlahnya sangat banyak dengan sangat mudah.

Hebat kan? Sang jagoan itu bisa diacungi jempol. Pantas saja anakku sangat suka dan selalu menunggu saat-saat film itu diputar di tv setiap sore. Wah wah wah, keren sekali jika seandainya aku bisa seperti itu. Berubah….lalu aku menjadi super hebat. Keren kan? By the way, sebenarnya aku juga sedang dalam proses ber-transformasi alias berubah. Walau perubahan bukan berarti aku menjadi cantik atau bertambah putih seperti yang pernah diharapkan suamiku (he he he, suamiku pernah bercanda tentang ini), tetapi lebih pada perubahan dalam diri aku. Maksudnya?…… Ahha….aku belajar untuk bisa percaya diri demi anak-anak dan suamiku.

Dulu, sewaktu aku masih kecil, aku anak yang sangat rendah diri alias minder karena aku punya sepupu perempuan yang sebaya denganku (lalu…..). Sepupuku itu, dia cantik, pintar bergaul, kenal banyak orang, keren, modis, pokoknya anak perempuan cantik pada umumnya. Sementara aku, wuih….sering diledek kakak-kakakku “emdut” karena dari kecil aku gendut, lalu “si hitam” karena kulitku paling hitam diantara kakak-kakakku (aku anak bungsu) dan rambutku selalu dipotong oleh salon rumah alias dipotong sendiri oleh mami dengan potongan yang tidak pernah berubah sampai aku sekolah di smp, model batok kelapa atau kerennya model cleopatra (supaya terdengar lebih oke…). Apalagi, aku anak tomboy (aku sangat dekat dengan kakak laki-lakiku dibanding kakak perempuan), senangnya memakai celana pendek dan kaos belel. Selalu bermain sepulang sekolah, tidak mau tidur siang (anakku juga begitu) dan banyak bekas luka di mana-mana, kaki kanan, kaki kiri, tangan….pokoknya yang tidak tertutup pasti pernah tergores atau berdarah karena terjatuh.

Dan yang kedua aku berubah, aku belajar untuk mendengar orang lain, dalam hal ini suamiku. Waktu kecil, aku anak keras kepala dan sulit diberi tahu. Aku harus merasakan dulu dan belum percaya jika orang lain memberitahu aku sebelum aku tahu sendiri. Dan anakku juga begitu (padahal aku sering marah karena ini). Satu lagi, aku balajar untuk tidak mengeluh. Dulu aku anak pintar karena tidak pernah mengeluh walau uang jajanku saat sd hanya seratus rupiah saja.

Tetapi dulu lain dengan sekarang kan?…… Saat kecil aku belum tahu yang namanya masalah. Masalah aku hanyalah jealous pada kakak perempuanku yang dibelikan sepatu kulit (karena kulitnya sensitif) atau ingin dibelikan sesuatu oleh bapak atau mami, tetapi tidak dituruti, itu masalahku waktu kecil. Tapi kini, aku punya keluarga, 3 anak laki-laki dan 1 suami. Aku ingin belajar untuk tidak mengeluh jika mempunyai masalah besar, sebesar apapun. Aku ingin bersabar dan bersabar. Dan mengingat bahwa hidup selalu diikuti masalah hanya bagaimana kita memandang masalah itu, akan menjadi masalah-kah atau masalah biasa dalam hidup? (bingung? Sama).

Untuk itu, saat inilah aku harus dewasa berpikir, bertindak dan bersikap, dan…….. Berubah…….. Yaa, semoga aku bisa berubah menjadi lebih baik dan lebih baik mengingat umurku sudah 31 tahun …makin lama akan semakin bertambah dan aku akan menjadi tua kan? Untuk itu aku akan berubah dan ingin berubah. Apa perlu aku jungkir balik atau loncat dan berteriak “berubah” supaya aku cepat berubah menjadi lebih bijak, seperti film jagoan anakku itu?…….mungkin! Berubah……

Categories: Curtak

untuk mami, ibuku

Friday, 10 August 2007 leunca Leave a comment

Mohon maafkan diri kecil ini atas kekhilafan dan kebodohan karena berani menorehkan luka di hatimu

Sering membuatmu berdiam diri, menahan amarah dan sakit hati karena aku

Mengabaikan kata-katamu karena keangkuhan diri dan telinga ini seolah tak mendengar suaramu

Mohon maafkan aku yang tak tahu apa-apa dan tak tahu rasa berterima kasih

Karena sesungguhnya darah tercecer karena aku, air mata dan keringat yang terkuras karena kenakalan aku

Apa yang bisa aku lakukan untuk mengganti tangismu dengan tawa?

Apa yang bisa membuatmu tersenyum sepanjang hidup?

Jika selama ini aku hanya membuatmu bersedih

Mungkin sepanjang aku berjalan di sisimu aku hanya merepotkanmu,

dengan segala tangisanku,

rengekanku,

jeritanku,

teriakkanku dan

kekesalan juga amarahku.

Sungguh, mohon maafkan aku

Maafkan jika akhirnya aku memilih jalanku sendiri

Memilih sendiri orang yang akan mendampingi dan menyayangiku

Memaksakan keinginanku walau tanpa restumu sepenuhnya

Menjalani pilihanku walau ada banyak ganjalan di hatimu

Tetapi mohon

maafkan aku

Doakan aku

Karena doamu akan membukakan pintu surga untukku

Karena hidupku lebih bermakna jika engkau mengijinkan aku

Mohon maafkan

Sesunggunya aku menyanyangimu amat sangat

Namun kadang aku merasa ragu

Pantaskah aku tunjukkan?

sementara aku hanya membuatmu berdiam diri

dan menahan hati seorang diri

maafkan aku, mami

Categories: Curhat

bunda memaafkan ayah

Friday, 10 August 2007 leunca Leave a comment

Ada saat dimana kita merasa marah dan sangat sangat kesal pada pasangan atau orang yang kita sayangi. Tak jarang pada saat amarah mengusai pikiran dan nalar kita, rasanya cinta yang kita punya tak cukup untuk meredamnya. Yang ada hanya perasaan kita dan harga diri kita yang terkoyak. Percayalah, mungkin saat itu kita merasa menjadi orang yang paling menderita dan menjadi orang yang teraniaya……wuih

Padahal, jika kita merunut ke belakang, pada masa lalu disaat kita tertawa bersama, bercanda, seolah kita menjadi soulmate atau memiliki chemical yang sama, perbedaan menjadi indah dan semua pertentangan itu rasanya mustahil.

Tetapi, ketika salah satu pasangan merasa lelah untuk belajar mengerti, belum lagi masalah demi masalah yang ada membuat masing-masing berada dalam kutub yang berbeda…….apalagi yang dipikirkan, betapa egoisnya dia atau mengapa sulit untuk mengerti keinginannya atau apakah sulit untuk bisa mengerti keinginanku…….wah, wah, perang batin dimulai.

Itupun terjadi pada saya.

Bukan hal yang mudah untuk mengerti dia. Awal-awal perkawinan, saya sering menangis sendirian, bingung, cape untuk mendengar semua kata-katanya dan ingin berhenti untuk ada di sisinya……dan saya bisa menangis sejadi-jadinya……..hu hu hu……dan saya akan teringat pada alm bapak yang selalu bisa mengerti saya dan apa keinginan saya.

Itu dulu, disaat saya mencari tempat berpijak di hatinya.

Di saat masih ada satu dua keraguan akan cintanya.

Apakah dia benar-benar mencintai saya seutuhnya dan rela berkorban untuk saya?

masihkah dia menyimpan masa lalu hatinya untuk seseorang yang saya tidak tahu, dan saya harus bersaing atau berjuang menggesernya hingga hanya saya yang ada dalam hatinya dan hatinya hanyalah milik saya seorang.

Menekan perasaan diri sendiri dengan mencoba mencerna kata-katanya yang sedikit, mengikuti semua keinginannya walau kadang menerka-nerka, berjuang meraih hatinya dengan tidak mengeluh, belajar menyayangi orang-orang yang dia sayangi, menjaga hatinya dengan tidak mengatakan tidak, dan berusaha selalu ada di sisinya disaat dia lemah, sedih atau tak berdaya.

Perjalanan saya memang tak berujung untuk menelusuri hatinya. Walau lelah, kadang ingin dimanja, berharap dia lebih lembut, saya berusaha menjalani alur yang sudah dibuat oleh-Nya untukku dengan sabar dan doa.

Akhirnya, setelah saya menjalani pernikahan ini dengan 3 putra, rasanya saya harus bersyukur dan patut berbahagia.

Walau jalan panjang itu belum tentu mulus tetapi saya ingin berkeyakinan bahwa saya masih bisa bersandar pada dia, menggenggam tangannya dan merebahkan diri ini di pundaknya jika saya merasa sangat sangat…. lelah.

Mengikuti langkahnya kemana akan membawa saya dan keluarga kecil ini berjalan, karena dia adalah imam saya dan imam anak-anak saya.

Saya selalu ingat saat kami tertawa bersama, menertawakan kebodohanku yang kadang muncul, dan bersedih dengan berdiam diri. Atau saat kami saling ledek, kami bisa saling menertawakan.

Di hadapannya saya bisa menjadi apa saja. Saya yang bodoh, saya yang sok tahu, saya yang sok pintar atau saya yang sok cantik….apapun diri saya, itulah saya apa adanya di depannya. Saya ingin bisa membuatnya tertawa bahkan jika perlu saya menjadi pelawak untuknya. Saya rela tapi tak jarang gagal dan gagal terus untuk membuat senyumnya lebar.

Semoga Sang Khalik selalu bermurah hati pada dia. Memberikan kemudahan, rezeki, umur panjang, dan karier yang baik. Selalu menjaga dan melindunginya karena dia tak pernah berhenti menjaga aryo, bagus, gilang, buah hati kami, dan saya.

Semua ini untuk suamiku tercinta.

Rasa memaafkan saya yang tak ada batas untuknya, ketika dia tak sengaja menyakiti saya atau ketika dia tak sadar mengabaikan saya. Saya ingin memaafkan dia, selamanya dan selalu.

I love you so much

Categories: Curcur

sekolah di rumah

Monday, 6 August 2007 leunca Leave a comment

Saya tidak tahu apakah jika saya memilihkan home schooling atau belajar di rumah bagi anak saya adalah suatu pemaksaan keinginan saya sebagai ibunya?

Saya tidak pernah berpikir kearah sana sampai pada suatu sore saya berbincang dengan seorang ibu yang memiliki 3 gadis, anak paling kecilnya sudah duduk di bangku sma, membicarakan mengenai pilihan saya untuk mengajar sendiri anak saya dengan berbekal ilmu yang saya dapat sewaktu menjadi guru privat ketika saya masih kuliah di AKA Bogor.

Terus terang ketika saya menjelaskan hanya bungkusnya saja, apa yang saya lakukan atau alasan memilih belajar dirumah, saya dan ibu tadi berada di dua kutub.

Saya adalah generasi ibu muda dan beliau adalah generasi ibu yang sudah mapan karena 2 anak gadisnya yang sudah bekerja. Bisa dibayangkan, perbedaan pendapat yang ada di antara saya dan beliau?

Apa yang saya pikir ketika saya dan suami memutuskan untuk menyekolahkan anak terbesar saya di rumah karena saya dan suami ingin mengenalkan sebanyak mungkin hal-hal di sekeliling kita, tidak membatasi cara pandangnya. Mengajaknya mencoba banyak hal atau berani untuk tampil di depan umum.

Salah satu cara yang saya pilih adalah dengan mengajarnya berjualan. Sabtu dan minggu pagi saya dan suami juga dengan 3 anak saya yang masih kecil, berjualan majalah di suatu tempat yang menjadi pasar kaget di salah satu perumahan di kota bogor. Alasan saya sih sederhana saja, ingin mengenalkan bagaimana rasanya berjualan. Semua pekerjaan asalkan dilakukan dengan baik dan halal, tidak membohongi orang lain dan selagi tidak merugikan orang, sah-sah saja dilakukan dan tidak perlu malu. Sama seperti berjualan atau berdagang. Justru saya melihat ini sebagai uji mental. Maklum, pola pikir kita masih terpola bahwa pekerjaan berdagang itu tidak “keren”.

Saya tidak menganggap diri saya hebat, bisa melakukan semua hal. Bahkan selama saya mengajari anak saya belajar matematika misalnya, saya juga belajar. Lama kelamaan saya berpikir bahwa untuk bisa mengajari anak saya atau berbagi semua ilmu yang pernah saya dapatkan dari bangku sekolah, saya juga belajar. Pada akhirnya, saya dan anak saya belajar berdua.

Saya sangat menikmati jika saya bisa berdiskusi banyak hal-hal yang ringan tentang apa saja yang ada di sekeliling, dari berita di tv,buku-buku agama, isu-isu, bahkan film, entah itu film anak-anak atau film orang dewasa yang iklannya ada di tv dan kebetulan anak saya melihatnya. Apa saja, selalu saya angkat sebagai bahan pembicaraan saya dengan anak saya. Saya ingin membuat satu kebiasan bahwa anak saya bisa bicara apa saja atau bertanya apa saja pada saya.

Mungkin saya terdengar idealis.

Jika saya memilih untuk mengajarkan sendiri anak saya minimal untuk 1 tahun ini. Untuk melihat minat atau keinginannya. Saya cenderung memilih mundur 1 langkah untuk maju seribu langkah, apakah cara ini salah?

Banyak orang yang kurang setuju, bahkan terang-terangan menolak atau mengatakan bahwa home schooling ini tidak baik bagi anak.

Saya mengakui bahwa seumur anak-anak sekolah, saat dimana anak-anak butuh teman-teman untuk belajar bergaul dan belajar untuk bersosialisasi atau menjadi satu bagian dari suatu perkumpulan, sekolah adalah pilihan yang pertama.

Dan saya juga mengakui, untuk anak-anak, contoh adalah yang utama. Anak-anak akan melihat satu panutan atau tokoh yang akan dia tiru dan guru adalah orang yang pantas untuk dijadikan panutan.

Namun, karena ada pengalaman yang kurang mengenakan mengenai lingkungan teman-temannya semasa dia bersekolah di taman kanak-kanak dulu, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba selama 1 tahun ini untuk home schooling. Walau banyak orang yang mengenyitkan kening. Aneh katanya.

Menurut saya, semua yang ada di dunia ini seperti mata uang, memiliki 2 sisi yang berbeda, keuntungan dan kekurangan. Dan untuk memilih semua ini, saya memilah-milah mana yang lebih menguntungkan bagi anak saya saat ini. Semoga pilihan saya ini yang terbaik.hopefully.

Bukan tanpa pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada saya mengenai pilihan ini. Karena terlalu banyak alasan yang mendasari alasan saya, akhirnya saya hanya mengatakan, bahwa ini pilihan ayahnya, atau karena tidak bisa masuk ke sekolah dasar yang terbaik disebabkan kurang umur (anak saya lahir awal september), atau karena untuk mematangkan anak saya ini. Ah, lama-lama saya jadi bingung untuk membicarakan atau menjawab pertanyaan dari orang mengenai anak saya.

Saya sih hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Mau bagaimana lagi ya?

Home schooling, saat ini memang masih banyak diperdebatkan oleh banyak ahli pemerhati anak. Ada yang tidak setuju, tetapi banyak juga yang menerima.

Kalau saya sih ingin mencoba, walau dengan ala saya yang apa adanya saja.

Karena lagi-lagi, saya bukan seorang pendidik tetapi saya belajar untuk mendidik anak saya sendiri berbekal pengalaman dan keingintahuan saya. Mudah-mudahan saya bisa menjalaninya dengan baik dan mampu bertahan melewati rintangan yang tak terduga. Amin.

Categories: Curhat