Archive

Archive for May, 2007

Suamiku Manusia Biasa

Saturday, 12 May 2007 leunca 3 comments

Tak ada yang terlalu istimewa dalam diri suamiku ini.

Dia tak lebih dari seorang ayah yang sangat sayang pada ketiga putranya. Badannya cukup besar dengan rambutnya yang sudah mulai menipis di bagian depan dan kepala plontosnya yang tak pernah licin. Punya hobi ngemil sampai rencana untuk detox dan diet kacau balau karena tak tahan menahan nafsu makannya yang lumayan besar.

Dan dia juga tak lebih dari sosok seorang laki-laki yang kadang sifat egoisnya keluar dan sering membuat aku berlinang air mata. Menahan kesal karena susah untuk bicara dengannya. Tak jarang, saat aku ingin bercerita banyak, sedang asyik bicara ternyata dia sudah tertidur pulas. Akhirnya ceritaku menjadi dongeng sebelum tidur baginya.

Ada lagi, aku adalah orang yang paling senang cerita pada suamiku dan suamiku itu orang yang pendiam jika berhadapan denganku, padahal jika bicara dengan temannya dia bisa ngobrol berjam-jam di telepon. Entahlah, aku pikir mungkin dia bingung mendengar aku bicara terus-menerus dan membuatnya malas untuk cerita atau bicara banyak padaku. Mungkin ya.

Ah, ah, ah. Tapi, apapun dia, tetaplah suamiku. Mau jelek, mau cakep, tetap orang yang bisa aku cium setiap hari, setiap jam atau setiap menit kalo mampu. Dia halal bagiku dan tentunya aku masih cinta padanya. Kadang, jika bicara cinta padanya, dia tak pernah mau menanggapiku. Mungkin karena suamiku ini bukan tipe laki-laki romantis, yang bisa membuatkan puisi atau merangkai kata untuk mengatakan cinta padaku. Tetapi aku tahu dia sayang padaku ketika dia memelukku atau bercanda padaku. Atau jika bercandanya bagiku kelewatan dan membuatku marah, dia bisa dengan lembutnya merangkul aku dan memeluk kadang mencium, meminta maaf atau mengatakan, “bunda ga bisa diajak becanda ya?”

Itu suamiku. Dia selalu jujur jika mengatakan aku gemuk, aku bau, aku jelek. Walau sering membuat aku sebel tetapi aku menghargai kejujurannya. Akhirnya aku terbiasa menerima semua kejujurannya walau tak enak.

Suamiku, aku pikir, dia yang membuatku pintar sekaligus bodoh. Pintar karena aku belajar banyak darinya dan bodoh karena aku sering menangis karenanya. Buat aku bodoh jika karena hal kecil yang aku tidak mengerti karenanya, aku pasti menangis diam-diam tanpa bertanya padanya. Karena aku selalu takut salah dan malu. Aku lebih malu jika ketahuan bodoh didepannya dibandingkan di depan orang lain.

Tetapi, inilah cinta. Benar yang orang katakan cinta itu buta. Kala aku mengenal cinta padanya, aku tak pernah berpikir panjang. Demi bersama dengannya aku rela bersedih dan menangis sendirian, demi memperjuangkan keinginannku untuk bersama dengannya.

Jika cinta itu bodoh, aku adalah orang yang paling bodoh.

Tetapi saat ini, terus terang aku merasa sedikit kehilangan dia. Biasanya dia hangat padaku, sering memanjakan aku dengan caranya, sering menciumku tiba-tiba atau memelukku dengan keras hingga kadang membuat pinggangku sakit. Sungguh, aku rindu sekali. Biasanya aku sengaja mencium pipinya, tidur disampingnya sambil memeluk badannya yang besar lalu aku membisikkan kata-kata, aku sayang dia, aku kangen dia, aku rindu bercanda dengannya. Karena akhir-akhir ini dia sering pulang larut malam dan sesampainya di rumah, setelah makan dia pasti tertidur, entah di depan tv atau dengan setengah loncat, dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dasar laki-laki.

Aku tak ingin membuatnya sakit atau sedih seperti yang sering aku lihat akhir-akhir ini. Setiap melihat kabut di wajahnya, aku pasti merana. Karena jika dia bersedih maka aku akan sangat sangat bersedih. Itu kenyataannya. Sama ketika aku merasa telah berbuat salah yang sangat fatal dan membuatnya marah besar, aku merasa sangat ‘kecil’. Tak bisa berpikir, berbuat sesuatu, rasanya pikiran ini kosong. Apalagi jika aku berbohong atau menyembunyikan sesuatu darinya, aku tak bisa berbuat apa-apa. Walau tersiksa tetapi aku mengambil positifnya, kejujuranlah yang selalu aku pegang pada akhirnya. Biarlah dia marah disaat aku jujur daripada aku tak bisa tidur nyenyak berhari-hari.

Pada akhirnya, aku selalu menurut ke belakang. Pada saat ijab

kabul, aku masih ingat janji yang aku ucapkan dalam hatiku saat itu. Kesetiaan, istri yang solehah, berbakti pada suami, menghormatinya, aku masih ingat dengan jelas. Kadang aku menangis jika mengingatnya. Maklum, perjuangan agar aku bisa menikah dengannya tidaklah mudah. Banyak air mata dan tangisan di saat aku sujud di tengah malam, meminta kemudahan pada-Nya, agar aku bisa menikah dengannya. Dan memohon jika memang dia jodohku tolong dekatkanlah tetapi jika dia bukan jodohku, jauhkanlah. Itu doaku.

Setelah, alhamdulilah hampir 7 th menikah, aku terus belajar mengenalnya. Tak ingin berhenti mengenalnya. Tak ingin berhenti mencintainya. Tak ingin berhenti merindukannya. Tak ingin berhenti menunggu teleponnya. Tak ingin berhenti menunggu dia pulang kerja setiap malam. Tak ingin berhenti berjuang untuknya. Tak ingin berhenti berubah demi mengikutinya. Jika aku harus lari secepat mungkin sekalipun.

Aku membutuhkannya. Bukan hanya sebagai suami tetapi guru, sahabat, musuh dan kakak bagiku.

Categories: Curhat

my story like Drama Korea

Friday, 11 May 2007 leunca Leave a comment

Aku suka nonton serial drama korea yang disiarkan di Indosiar setiap sore.

Biasa, ibu-ibu, seperti ledekan suamiku. Tetapi tidak semua aku suka, aku cenderung memilih yang romantis, lucu tapi tidak norak atau vulgar, dan ceritanya tidak terlalu lama, jika ceritanya panjaaang banget sering bikin bosan.

Rata-rata yang aku suka pasti jika perempuan yang lebih dulu menyukai prianya, rasanya seperti menonton diri sendiri ya, eit, bukan berarti ceritanya itu sama dengan cerita cintaku. Sama sekali berbeda. (pembelaan aku).

Aku kadang merasa, aku yang pertama suka dan sayang pada pria yang sekarang menjadi suamiku ini. Aku enggak tahu apa yang suamiku pikirkan tentang ini (aku kira, ini salah satu rahasianya).

Pernah dengar kalimat,”lebih enak dicintai daripada mencintai”…..kalo pernah, apakah setuju?

Aku pribadi, untuk perempuan, siapapun dia dan dari manapun dia di dunia ini, pasti bahagia jika dicintai kan?, jadi pastinya setuju dong.

Tetapi pada kenyataannya berbalik. Awalnya aku memilih untuk tidak menyetujui kalimat itu, kenapa? Karena aku ingin berbeda.

Aku merasa tertantang jika aku bisa membuat seorang pria yang tidak punya perasaan sama sekali, seiring waktu berubah dan mencintai kita. Aaha….lagi-lagi cinta ya.

Rasanya kok kita sakti ya, bisa membuat pria yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa dan kalo perlu bertekuk lutut di hadapan kita. Aduh, bahagianya.

Awalnya, semangat masih menggebu. Dengan berbagai cara dan trik jitu mencoba menarik perhatiaannya dan berusaha mengambil hati si pria yang dituju. Ternyata, bukan hal yang gampang. Sangat sangat sangat susah!

Pertama gagal, masih bisa tertawa. Gagal kedua, masih bisa senyum. Gagal ketiga mulai cari ancang-ancang untuk mundur. Yang keempat, patah hati deh.

Aku pernah sampai pada tahap tiga dan yang keempat, kegagalan aku adalah aku masih terus berjuang mengambil hatinya. Dan enggak sia-sia loh, akhirnya aku menikah dengan pria itu. Hebatkan aku?

Tapi, sumpah deh, aku menjalani seperti yang di drama korea itu dengan banyak air mata yang berlinang di pipi. Sedih, sebel, kadang benci, enggak ada seneng-senengnya. Makan hati terus.

Tetapi jalan itu terbuka juga akhirnya. Usaha yang aku kira tidak akan berhasil, aku mau mundur dan menerima pria yang nyata-nyata care dan perhatian padaku, ternyata si pria itu menghampiri aku dan menyatakan niatnya. Ah, romantis sekali.

Pada waktu meng-iyakan, aku minta satu, “aku mau krisan merah hati ya”.

Nah, nah, nah, romatis kan?

Mirip dengan drama korea itu kan?

Tetapi ceritaku lebih seru dan lebih lama, 2 tahun.

Categories: Curhat

surat untuk kakak

Friday, 11 May 2007 leunca Leave a comment

Untuk kakakku, mohon maaf. Semua yang saya tulis ini adalah keprihatinan saya terhadap masalah-masalah yang seolah tak ada habisnya.

Ini adalah pandangan seorang manusia bodoh yang hanyalah ingin melihat semua masalah dan halangan dalam hidup kita ini adalah semata-mata kehendak Allah SWT. Apa yang ingin Allah SWT tunjukkan pada kita, hikmah apa yang ingin kita ambil dan rasa sayang Allah SWT yang masih diberikan pada kita.

jika masalah ini akibat kesalahan, semua manusia pernah melakukan kesalahan dan akan mulia jika kita bisa memperbaiki semua kesalahan dan membangun pribadi yang lebih baik, lebih jujur pada diri sendiri dan mengenal apa kekurangan diri yang paling kita takuti, yaitu nafsu.

Dalam kerumitan ini, alangkah baiknya kita menentukan tujuan hidup kita kembali sambil merenungi apa yang ingin kita capai, duniakah atau kebaikan di akhirat nanti?

Kita semua akan tua. Kita semua akan sendirian. Kita semua akan mati. Itu adalah hukum alam. Takkan mampu kita merubahnya karena itu adalah garis hidup semua orang. Tetapi kita bisa menggambar garis hidup yang kita inginkan.

Apakah penuh dengan tinta hitam?tinta merah atau hanya selembar kertas dengan coretan yang sangat sedikit?

Semua itu bisa kita gambar sendiri, bukan orang lain. Karena orang lainpun memiliki kertas yang sama, seperti kertas yang kita punya juga. Sama percis, hanya gambar dan warna yang berbeda untuk setiap orangnya. Karena masing-masing orang menggambar apa yang ingin mereka gambar dan warna apa yang mereka sukai. Itu filosofi yang saya punya tentang cerita hidup saya. Penuh warna dan gambar.

Jika warna kita penuh dengan kekalahan, bukan orang hebat jika dia tidak pernah mengalami kalah berkali-kali sampai akhirnya bisa bangkit dari kekalahan itu untuk kemudian mendapatkan kemenangan telak.

Sakit, miskin, kaya, menderita, sedih, gembira, semua itu adalah pemberian Allah SWT. Saya belajar menyadari dan menjadikannya mendarah daging dalam hati saya yang picik, hanya agar supaya hidup terasa lebih ringan walau ada banyak ketakutan dan kecemasan yang selalu menghantui setiap langkah saya, karena masalah.

Masalahnya, kuatkah jika saya kehilangan orang-orang yang sangat saya cintai?

Sanggupkah saya berdiri tegap jika keburukan menimpa saya dan saya menjadi orang yang sangat terhina, dimana saya akan dilecehkan dan dibuang orang-orang yang selama ini selalu menganggap saya teman atau saudara?

Apakah saya akan bisa hidup saat harga diri ini diinjak-injak dan nama baik tercoreng moreng?

Masih bisakah saya tersenyum di saat orang mulai bergunjing dan berbisik-bisik di belakang saya, membicarakan keburukan, kebodohan dan kekurangan saya yang mereka lihat?

Setelah saya pikir, ah, lagi-lagi saya hanya ingin Allah SWT yang akan memberikan semua jawaban. Karena kita ini milik-Nya, hati kita punya-Nya, langkah dan napas kita pemberian-Nya, hidup kita kemurahan-Nya, masalah kita adalah bukti kasih sayang-Nya.

Saya berusaha berdiri tegak walau orang sering memandang sebelah mata. Apalah saya dan siapalah saya?.

Untuk kakakku, bulatkan tekad untuk menyelesaikan masalah apapun yang menyulitkan diri. Meminta maaf atas kesalahan yang mungkin pernah dilakukan dan memperbaikinya. Dan untuk memulai itu adalah saat yang sangat susah, selalu ada waktu pertama kali kan?.

Seperti memecah telur, setelah berhasil memecahkan telur barulah kita tahu caranya. Mungkin semua masalah kita adalah hasil dari benih yang kita tanam.

Bukan maksud saya menggurui, hanya ingin berbagi perenungan saya selama ini.

Sesungguhnya, kakakku adalah orang yang cerdas, pintar dan tak mungkin dipengaruhi orang lain. Bukan orang yang bergantung pada orang lain untuk menetukan hidupnya. Hidup ini adalah milik kita yang diberikan Allah SWT pada kita secara gratis tetapi dengan pertanggungjawaban pada akhirnya.

Berjuanglah.

Categories: Curtak

my man, suamiku

Friday, 11 May 2007 leunca Leave a comment

Puisi ini aku tujukan untuk suamiku yang tercinta.

Yang menjadi ayah bagi 3 jagoan kecilku

Yang menemaniku dan menjagaku di malam hari

Yang mencium keningku sebelum berangkat kerja

Yang memarahiku jika aku berbuat salah dan mengulangi kesalahan yang sama

Yang mengingatkan aku untuk makan karena aku punya sakit maag yang akut

Yang mendorongku untuk terus maju dan bertahan dalam kesempitan

Yang memaksaku disaat aku tak ingin maju

Yang membuatku menangis kelelahan karena kesal padanya

Yang membuatku memendam kerinduan karena kesibukannya

Yang membuatku mampu bertahan dalam susah

Yang membuat hatiku berbunga-bunga saat dia mengatakan sayang padaku

Yang membuatku berbangga hati saat dia tertawa padaku

Yang mengisi mimpiku dengan senyumannya yang menawan

Yang mampu menguatkan aku untuk bisa melahirkan tiga kali

Yang mencubit aku dengan cubitan khasnya yang membuatku meringis

Yang mampu mengajakku menikah dan mengetahui apa itu malam pertama

Itulah suamiku.

Categories: Curhat