Suamiku Manusia Biasa
Tak ada yang terlalu istimewa dalam diri suamiku ini.
Dia tak lebih dari seorang ayah yang sangat sayang pada ketiga putranya. Badannya cukup besar dengan rambutnya yang sudah mulai menipis di bagian depan dan kepala plontosnya yang tak pernah licin. Punya hobi ngemil sampai rencana untuk detox dan diet kacau balau karena tak tahan menahan nafsu makannya yang lumayan besar.
Dan dia juga tak lebih dari sosok seorang laki-laki yang kadang sifat egoisnya keluar dan sering membuat aku berlinang air mata. Menahan kesal karena susah untuk bicara dengannya. Tak jarang, saat aku ingin bercerita banyak, sedang asyik bicara ternyata dia sudah tertidur pulas. Akhirnya ceritaku menjadi dongeng sebelum tidur baginya.
Ada lagi, aku adalah orang yang paling senang cerita pada suamiku dan suamiku itu orang yang pendiam jika berhadapan denganku, padahal jika bicara dengan temannya dia bisa ngobrol berjam-jam di telepon. Entahlah, aku pikir mungkin dia bingung mendengar aku bicara terus-menerus dan membuatnya malas untuk cerita atau bicara banyak padaku. Mungkin ya.
Ah, ah, ah. Tapi, apapun dia, tetaplah suamiku. Mau jelek, mau cakep, tetap orang yang bisa aku cium setiap hari, setiap jam atau setiap menit kalo mampu. Dia halal bagiku dan tentunya aku masih cinta padanya. Kadang, jika bicara cinta padanya, dia tak pernah mau menanggapiku. Mungkin karena suamiku ini bukan tipe laki-laki romantis, yang bisa membuatkan puisi atau merangkai kata untuk mengatakan cinta padaku. Tetapi aku tahu dia sayang padaku ketika dia memelukku atau bercanda padaku. Atau jika bercandanya bagiku kelewatan dan membuatku marah, dia bisa dengan lembutnya merangkul aku dan memeluk kadang mencium, meminta maaf atau mengatakan, “bunda ga bisa diajak becanda ya?”
Itu suamiku. Dia selalu jujur jika mengatakan aku gemuk, aku bau, aku jelek. Walau sering membuat aku sebel tetapi aku menghargai kejujurannya. Akhirnya aku terbiasa menerima semua kejujurannya walau tak enak.
Suamiku, aku pikir, dia yang membuatku pintar sekaligus bodoh. Pintar karena aku belajar banyak darinya dan bodoh karena aku sering menangis karenanya. Buat aku bodoh jika karena hal kecil yang aku tidak mengerti karenanya, aku pasti menangis diam-diam tanpa bertanya padanya. Karena aku selalu takut salah dan malu. Aku lebih malu jika ketahuan bodoh didepannya dibandingkan di depan orang lain.
Tetapi, inilah cinta. Benar yang orang katakan cinta itu buta. Kala aku mengenal cinta padanya, aku tak pernah berpikir panjang. Demi bersama dengannya aku rela bersedih dan menangis sendirian, demi memperjuangkan keinginannku untuk bersama dengannya.
Jika cinta itu bodoh, aku adalah orang yang paling bodoh.
Tetapi saat ini, terus terang aku merasa sedikit kehilangan dia. Biasanya dia hangat padaku, sering memanjakan aku dengan caranya, sering menciumku tiba-tiba atau memelukku dengan keras hingga kadang membuat pinggangku sakit. Sungguh, aku rindu sekali. Biasanya aku sengaja mencium pipinya, tidur disampingnya sambil memeluk badannya yang besar lalu aku membisikkan kata-kata, aku sayang dia, aku kangen dia, aku rindu bercanda dengannya. Karena akhir-akhir ini dia sering pulang larut malam dan sesampainya di rumah, setelah makan dia pasti tertidur, entah di depan tv atau dengan setengah loncat, dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dasar laki-laki.
Aku tak ingin membuatnya sakit atau sedih seperti yang sering aku lihat akhir-akhir ini. Setiap melihat kabut di wajahnya, aku pasti merana. Karena jika dia bersedih maka aku akan sangat sangat bersedih. Itu kenyataannya. Sama ketika aku merasa telah berbuat salah yang sangat fatal dan membuatnya marah besar, aku merasa sangat ‘kecil’. Tak bisa berpikir, berbuat sesuatu, rasanya pikiran ini kosong. Apalagi jika aku berbohong atau menyembunyikan sesuatu darinya, aku tak bisa berbuat apa-apa. Walau tersiksa tetapi aku mengambil positifnya, kejujuranlah yang selalu aku pegang pada akhirnya. Biarlah dia marah disaat aku jujur daripada aku tak bisa tidur nyenyak berhari-hari.
Pada akhirnya, aku selalu menurut ke belakang. Pada saat ijab
kabul, aku masih ingat janji yang aku ucapkan dalam hatiku saat itu. Kesetiaan, istri yang solehah, berbakti pada suami, menghormatinya, aku masih ingat dengan jelas. Kadang aku menangis jika mengingatnya. Maklum, perjuangan agar aku bisa menikah dengannya tidaklah mudah. Banyak air mata dan tangisan di saat aku sujud di tengah malam, meminta kemudahan pada-Nya, agar aku bisa menikah dengannya. Dan memohon jika memang dia jodohku tolong dekatkanlah tetapi jika dia bukan jodohku, jauhkanlah. Itu doaku.
Setelah, alhamdulilah hampir 7 th menikah, aku terus belajar mengenalnya. Tak ingin berhenti mengenalnya. Tak ingin berhenti mencintainya. Tak ingin berhenti merindukannya. Tak ingin berhenti menunggu teleponnya. Tak ingin berhenti menunggu dia pulang kerja setiap malam. Tak ingin berhenti berjuang untuknya. Tak ingin berhenti berubah demi mengikutinya. Jika aku harus lari secepat mungkin sekalipun.
Aku membutuhkannya. Bukan hanya sebagai suami tetapi guru, sahabat, musuh dan kakak bagiku.